Perkembangan sains dan teknologi sebagai keniscayaan dalam globalisasi membuat rasionalitas masyarakat terhadap tradisi semakin menipis. Lambat laun tapi pasti, tradisi ini tak kunjung ada. Sains memang begitu ampuh menjelaskan berbagai fenomena alam, seperti gempa, hujan, tsunami bahkan gerhana matahari. Munculnya sains disambut suka cita oleh masyarakat. Peristiwa alam yang dahulu disangkut pautkan dengan mitos-mitos seperti dewi sri atau bidadari mandi sebagai penjelas fenomena alam. Kini hanya menjadi bahan tertawaan. Maka tak ayal, ritual adat meminta hujan pun hanya sekadar menjadi pertunjukan dan tontonan. Segala hal yang menyangkut tentang mitos, kata Irfan Afifi dalam artikelnya “Saat sains menjadi rujukan, kita kehilangan cerita” (2016) mitos merupakan cara simbolis yang lentur dalam menafsirkan peristiwa alam, supaya memberi ruang misteri dan kegentaran Pada-Nya (tremendum et fascinosum).
Misteri dalam mitos kemudian akan melahirkan sebuah pengakuan kepayahan bahwa kita kecil, diantara belantara benda kosmis dalam bayang. Mitos memberikan sense of religion pada fenomena alam sebagai peristiwa sakral. Ia, mitos, mengajari cerita: imajinasi, sedangkan sains, mengajarkan fakta. Dan kita tahu, peristiwa turunnya hujan hanya membuahkan sumpah serapah dan jualan jas hujan. Dalam benak saya bertanya, lebih baik mana mitos dengan sains? Apakah sains mampu melahirkan rasa tadabur kepada alam, dan ]tawadhu kepada yang kuasa?. Saya tak tahu akan hal itu, tetapi yang jelas, kita sudah kehilangan “cerita” juga imajinasi.
Bak matahari di penghujung senja, kearifan lokal berupa tradisi merupakan entitas budaya Jawa. Ia menjadi semacam cahaya yanng memberi arah untuk gerak, memberi terang untuk hidup. Bila melihat konteks zaman sekarang, eksistensi kearifan lokal tradisi cowongan dalam senjakala, cahayanya temaram. Kendati demikian, bukan berarti ia telah usai. Sebagaimana meminjam pendapat Suyanto dan Gunawan (2005, hal. 207) bahwa, sinkretisme Jawa berhasil mempertahankan kebudayaan hingga paruh waktu kerajaan Mataram, hadirnya ide Barat (modernitas) tidak menghilangkan nilai. Pada titik ini perlu saya tegaskan; tidak hilang melainkan terselimuti oleh kegelapan. Manifestasi kegelapan itu berupa modernitas dan pendidikan formal. Koentjroningrat dalam Kebudayaan Jawa (1994) telah menyadari kegelapan dalam diri orang Jawa.
Pertama, akibat modernitas, orang Jawa mendapat keraguan antara nilai tradisional yang ada dalam budaya, lalu lamat-lamat hilang. Kedua, Sebagaimana pendapat Kismoyo (2018) yang menganggap pendidikan formal merupakan instrumen mendekonstruksi kejawaan (kebudayaan) manusia saat ini. Sejalan dengan Irfan Afifi (2019) pendidikan formal sebagai produk sains (ilmu pengetahuan) yang berimbas terhadap bergesernya pandangan hidup dari aspek batiniah ke aspek rasional. Kedua faktor yang telah dijelaskan merupakan ritme perubahan kesadaran dan eksistensi dari segala bentuk kebudayaan Jawa tak terkecuali kearifan lokal.
DAFTAR PUSTAKA
Afifi Irfan. 2016. Saat sains menjadi rujukan, kita kehilangan cerita. Dalam borneonews.co.id. 9 Maret 2016. Palangkaraya.
Afifi Irfan. 2019. Saya, Jawa, dan Islam. Yogyakarta: Buku Langgar.
Nancy K.Florida. 2020. Jawa-Islam di Masa Kolonial. Yogyakarta: Buku Langgar.
Koentjoroningrat. 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
Suyanto, I., & Gunawan. 2005. Paham Kekuasaan Jawa: Pandangan Elite Kraton Surakarta dan Yogyakarta. Antropologi Indonesia, 29, 207-218.
Edi, Titut. (2021, Januari 31). Residensi Penulis Panginyongan. (Chubbi Syauqi, Pewawancara).
Biografi Penulis
Chubbi Syauqi lahir di Banyumas, 1 Maret 2000. Dia tercatat sebagai Mahasiswa Jurusan Tarbiyah, Prodi Manajemen Pendidikan Islam IAIN Purwokerto. Dia tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan (HMJ MPI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Purwokerto komisariat Agussalim IAIN PURWOKERTO. Facebook: syauqi chubbi. Ig:syauqichubbi..






Discussion about this post