• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Alih Media Seni Ukir Tradisi Minangkabau “Sebuah Upaya Transisi Media dan Generasi” | Rian Afdol

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
19 April 2021
in Berita Seni Budaya
1.2k 73
0
Home Budaya Berita Seni Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

“Kayu manalagi yang akan kita cancang? Siapa lagi yang akan mewarisi itiak pulang patang, kaluak paku, tampuak manggih dan atau motif ukir Minangkabau lain? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi bahasan utama diskusi pengantar workshop “Seni ukir tradisional” yang diselenggarakan UPTD Taman Budaya Sumatera Barat. Workshop yang digelar pada tanggal 9 sampai 10 april ini mengangkat tema “Aplikasi Seni Ukir Tradisi Minangkabau pada Proses Kreatif Kekinian”.

Rian Afdol

Kayu, bahan utama dalam seni ukir tradisi telah menjadi sesuatu yang boleh dibilang langka hari ini. Seperti lazim kita ketahui, bahwa kayu yang baik memiliki standar yang tinggi. Mulai dari tempat tumbuh, usia, teknik penebangan, pengolahan dan pengeringan kayu. Kayu terbaik tumbuh di daerah lembah yang lembab, setidaknya mesti berumur 25 tahun, ditebang dengan perhitungan jatuh kayu yang tepat, diolah dengan direndam dan dikeringkan yang bisa memakan waktu sampai setahun. Hal ini masih ditambah dengan regulasi tentang pohon. Begitulah kira-kira perihal kayu; secara bahan, langka dan secara waktu setidaknya butuh 26 tahun ditambah lagi waktu pengerjaan ukiran. Polemik pelestarian seni ukir tradisional ini masih belum seselesai di kayu. Polemik lain akan muncul ketika kita bicara tentang regenerasi pengukir itu sendiri. Telah menjadi pengetahuan umum bahwa seni ukir membutuhkan teknik yang sangat tinggi. Hal ini menjadikan semacam beban mental bagi sebagian generasi muda yang telah akrab dengan automatisasi yang cepat secara waktu dan lebih praktis dalam prosesnya.

Bukan hanya tentang bahan dan regenerasi pelaku seni ukir tradisi, polemik ini akan terasa lebih rumit jika kita bica mengenai nilai ekonomi dan pasar. Bahan dan teknik yang berstandar tinggi, menjadikan ukiran tradisi menjadi sesuatu yang mahal. Dapat ditebak dengan mudah, pada tahap selanjutnya harga yang mahal membuat karya seni ukir tradisi hanya memungkinkan diakses oleh kalangan tertentu. Kalangan tertentu dan tentu itu sangat langka. Akhirnya kita akan sampai pada pertanyaan “Siapa lagi yang akan membangun rumah gadang hari ini?”

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Page 1 of 2
12Next
Tags: BudayaCerpenEsaiPelesiranpuisiSastra

Related Posts

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

Oleh Redaksi Marewai
23 Januari 2026

Marewai—Kota Padang, 23 Januari 2025 STEVUNK berdiri pertengahan tahun 2025 di Padang. Memperkenalkan diri dengan lagu pertama berjudul ‘Batu...

Jejak Aksara Rilis “Terus Berlanjut” Setelah Menuntaskan Tur 9 Kota di Dua Negara

Jejak Aksara Rilis “Terus Berlanjut” Setelah Menuntaskan Tur 9 Kota di Dua Negara

Oleh Redaksi Marewai
17 Desember 2025

Padang, Marewai — 17 Desember 2025. Jejak Aksara resmi merilis single terbaru berjudul “Terus Berlanjut”, salah satu lagu dari...

Festival Akhir Tahun Steva 2025 : Membaca, Melihat, Merasakan, Mempelajari dan Merayakan

Festival Akhir Tahun Steva 2025 : Membaca, Melihat, Merasakan, Mempelajari dan Merayakan

Oleh Rori Aroka
10 Desember 2025

Padang, Marewai.com — Festival Akhir Tahun Steva 2025 resmi bergulir di Kota Padang dengan rangkaian kegiatan yang berfokus pada...

Diskusi Budaya Komunitas Pitamahadara: Menggali Kearifan Lingkungan dari Situs Peninggalan Hindu-Budha di Pasaman

Diskusi Budaya Komunitas Pitamahadara: Menggali Kearifan Lingkungan dari Situs Peninggalan Hindu-Budha di Pasaman

Oleh Redaksi Marewai
25 November 2025

Pasaman - marewai.com, Pasaman merupakan wilayah yang tidak hanya kaya akan tradisi dan adat istiadat, tetapi juga menyimpan jejak...

Next Post
Punago Rimbun: Payung Kuniang Kebesaran Kerajaan Kesultanan Indrapura | Zera Permana

Punago Rimbun: Payung Kuniang Kebesaran Kerajaan Kesultanan Indrapura | Zera Permana

Puisi-puisi Muhammad Sapikri | Terubuk Nasibmu Kini

Puisi-puisi Muhammad Sapikri | Terubuk Nasibmu Kini

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In