• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Jumat, April 17, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Aji Mantrolot: DENDAM TAK SUDAH WANGSA RAJASA

Dewang Kara Sutowano Oleh Dewang Kara Sutowano
17 April 2026
in Aji Mantrolot
930 70
0
Home Aji Mantrolot
BagikanBagikanBagikanBagikan
  • About
  • Latest Posts
Dewang Kara Sutowano
Dewang Kara Sutowano
Dian Ihkwan S.IP, dengan nama pena Dewang Kara Sutowano, seorang penikmat sejarah Minangkabau. Hadirnya serial Cerita Pendek yang berbalut sejarah ini semata-mata bertujuan untuk melihat Maharaja Adityavarman dari sudut pandang yang berbeda, agar ada perimbangan sejarah yang adil atas sosok Raja Malayu tersebut.
Dewang Kara Sutowano
Latest posts by Dewang Kara Sutowano (see all)
  • Aji Mantrolot: DENDAM TAK SUDAH WANGSA RAJASA - 17 April 2026
  • Aji Mantrolot: Penggalan XI: KABAU KETEK (Bagian I) | Dewang Kara Sutowano - 7 April 2026
  • SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 9 Januari 2026

DENDAM TAK SUDAH WANGSA RAJASA
(Sebuah cerita panjang yang sengaja dicerai berai)
Oleh: Dewang Kara Sutowano

Pagi itu tidak seperti biasa.
Maharani Tribuvana Wijayatunggadevi tak kunjung keluar dari kamarnya, padahal matahari sudah meringsek ke atas kepala. Wedang Uwuh yang terletak di atas meja tidak kunjung disentuh sama sekali. Beliau hanya berdiri memandang ke arah jendela, sambil ujung jemarinya memelintir kain tirai, memandang jauh, ke arah persawahan luas di seberang tembok istana Trowulan.

Pintu kamar diketuk pelan, Maharani mendengar seseorang berbisik di balik daun pintu kamar. “Yang Mulia Maharani, hamba Patih Amangkubhumi datang menghadap Yang Mulia..”.
Pintu terbuka, Patih Gajahmada berdiri di pintu sambil dikawal 2 orang penjaga bersenjatakan tombak.
“Kalian berdua, tinggalkan kami..”, perintah Maharani kepada penjaga tadi.

“Apakah sudah ada kabar dari Wredhamantri kerajaan, tuan Patih?”, tanya Maharani kepada Patih Gajahmada tanpa basa basi.

“Semenjak kepergian beliau ke Svarnabhumi sekitar 10 purnama yang lalu, sampai sekarang tidak ada sama sekali kabar resmi dari beliau Yang Mulia. Hanya saja, petugas mata-mata kerajaan Wilwatikta yang bertugas di wilayah Bhumi Agung Rejang Lebong beberapa hari yang lalu menghadap hamba mengabarkan bahwa Wredhamantri Aji Mantrolot baru saja kembali dari menaklukkan Kerajaan Pannai di pesisir utara bagian timur Svarnabhumi..”, Patih melanjutkan, “Saat ini Wredhamantri kita sedang di tanah ibunya di Dharma Seraya, belum ada infomasi soal langkah berikutnya dari beliau..”, tutup Patih Gajahmada.

“Apakah memang seperti ini cara kerja Sumpah Amukti Palapa yang tuan proklamirkan pada hari pelantikan tuan sebagai Patih Amangkubhumi tahun 1256 Saka yang lalu, tuan..?”, tanya Maharani sambil menatap tajam Patihnya. Patih Gajahmada tidak segera menjawab, beliau seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.

“Jika Yang Mulia Maharani berkehendak memanggil beliau untuk segera pulang ke Trowulan, saya akan segera mengirim utusan ke Dharma Seraya..”, Patih menjawab pendek.

“Tinggalkan dulu saya sementara, tuan Patih. Lakukan apa yang baik menurutmu, saya tunggu hasilnya..”, Maharani mengakhiri pembicaraan.

“Daulat Maharani..!”, Patih menutup kembali pintu kamar Maharani dan berjalan pelan menyusuri lorong istana, tampaknya sedang berpikir keras dan lekas.

*

Patih Gajahmada sudah kembali ke meja kerja di ruangannya yang terletak di seberang istana Truwolan. Lama dia termenung memandang patung Shiva disudut ruangannya. Situasi di Kerajaan Wilwatikta tidaklah aman dan nyaman seperti yang dilihat oleh kebanyakan orang. Pemberontakan terjadi dimana-mana, sebagian diantaranya terungkap kemudian ada berhubung kait dengan gerakan pengikut wangsa Rajasa yang pengaruhnya masih kuat didalam Istana karena kedudukan ibu Suri Gayatri Sri Rajapatni, mereka membenci keturunan Wangsa Mauli yang kini sedang berkuasa semenjak Sri Indeswari ditetapkan sebagai Permaisuri dari Raja Raden Wijaya dan ingin mengembalikan Wangsa Rajasa murni sebagai pemimpin Kerajaan Wilwatikta.

Sepertinya dia harus segera berkirim surat kepada Aji Mantrolot.

“Eksistensi bangsawan Mauli di tanah Majapahit tidaklah lama lagi. Satu persatu perekat hubungan antara Dharma Seraya dan Trowulan yang sudah dibangun sejak era Maharaja Srimat Trilokyaraja satu persatu mulai tersingkir. Sepupumu Jayanagara sudah dibunuh. Bapakmu sudah dipensiunkan dengan cara halus dan kini menyibukkan diri mengurus Agama dan menjauh dari hiruk-pikuk di Kerajaan.

Aku, yang merintis karir sebagai Prajurit Militer di Majapahit benarlah bersumpah setia kepada Raja Wilwatikta sampai akhir hayatku. Namun, aku tak mungkin melupakan kampung halamanku, tanah ibuku, tanah Sungai Lansek. Kerajaan Malayu yang saat ini masih terpecah-belah sudah berdasawarsa lamanya. Maharani Puti Reno Marak Janggo memang dicintai oleh rakyat Malayapura, tapi itu tidaklah cukup. Kau harus menyatukan kembali tanah malayu dibawah panji-panji kebesaran Kerajaan malayapura, Aji..!, kau harus kembalikan kejayaan kakekmu Srimat Tribhuvanaraja, kembalikan kejayaan Wangsa Malayu di Svarnadvipa, bagaimanapun caranya..!

Sengaja aku selipkan celah dan jalan melalui gagasan Amukti Palapa yang mencanangkan penyatuan Nusantara kedalam satu payung Wilwatikta agar kau bisa memanfaatkan sebagian dari kekuatan dan sumber daya Majapahit saat ini untuk kembali merestorasi Kerajaan Malayu yang saat ini tercerai berai. Maharai Tribuvana Wijayatunggadevi tidak mengetahui hal ini, dan apabila dia tahu, maka biarkan lah..! Dia tidak akan mencegahmu karena dia sendiri sudah cukup kerepotan mengurus pemberontakan-pemberontakan di Wilwatikta belakangan ini. Dia juga tidak akan mencegahmu karena dia sejak awal tahu siapa dirimu, Aji..!.
Majapahit sendiri menurut firasatku tak lama lagi akan berganti kepemimpinan, tak tahu dengan skenario dan jalan Sang Hyang yang bagaimana, tapi menjelang itu terjadi kau harus berhasil mempersatukan dan mengembalikan kejayaan Kerajaan Malayu dimana kau adalah bakal calon pewaris sahnya nanti, Aji…!!

Surat ini aku tulis kepadamu sebagai pengingat bahwa engkau telah berjanji kepadaku bahwa engkau akan mengembalikan kejayaan Kerajaan Malayapura. Aku dengar kau sudah berhasil menguasai Kampar, Natal dan Pannai dan mengembalikan Tiga Vassal ini kembali dibawah panji Kerajaan Malayu. Aku sarankan engkau mulai menyusun langkah mu menuju Pariangan, Kedatuan Pasumayam Koto Batu, Pusek Jalo Pumpunan Ikan. Selesaikan urusanmu dengan Sutan Maharajo Basa dan Sutan Balun. Jika sudah sampai waktunya nanti, kita akan bertemu kembali di batas Samudera Pasai tak lama lagi..!”

Surat itu kemudian digulung lalu disegel. Patih Gajahmada kemudian berseru,
“Penjaga..!, kirimkan surat ini ke Dharma Seraya segera..!!”.

Patih Gajahmada kemudian membenamkan dirinya membaca bait demi bait kitab Arthasastra.


Insert Foto:
Arca Parvati, yang menggambarkan sosok Maharani Tribuvana Wijayatunggadevi, Raja III Kerajaan Wilwatikta (Majapahit). Arca saat ini tersimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta

NB:

  • Pada akhir tahun 1350 masehi (1272 Saka), Tribuana Wijayatunggadewi mundur dari jabatannya sebagai Raja Majapahit dan menyerahkan jabatannya kepada anaknya Sri Rajasa Nagara alias Hayam Wuruk.
  • Asal Usul Hayam Wuruk masih simpang siur karena beberapa sejarawan percaya bahwa Hayam Wuruk adalah anak dari Tribuana Tunggadewi bersama Jayanagara, Raja II Majapahit, anak Dara Petak/Sri Indeswari, sekaligus sepupu dari Adiytavarman. Artinya ada kemungkinan Hayam Wuruk masih berdarah bangsawan Malayapura.
  • Gajahmada konon dikabarkan bertemu kembali dengan Adityavarman sekitar 1349/1350 masehi pada saat Gajahmada memimpin penyerangan ke Kerajaan Samudera Pasai (Aceh saat ini)
Tags: Budaya

Related Posts

Aji Mantrolot: Penggalan XI: KABAU KETEK (Bagian I) | Dewang Kara Sutowano

Aji Mantrolot: Penggalan XI: KABAU KETEK (Bagian I) | Dewang Kara Sutowano

Oleh Dewang Kara Sutowano
7 April 2026

AJI MANTROLOT(Sebuah Cerita Panjang Yang Sengaja Dicerai-Berai).Penggalan XI: KABAU KETEK (Bagian I)Oleh: Dewang Kara Sutowano Satu Minggu setelah peristiwa...

SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

Oleh Redaksi Marewai
3 Februari 2026

Sebuah Cerita Panjang yang Sengaja Dicerai-Berai Namanya Bukit Atar, terletak tak jauh dari Batang Sinamar. Dari bukit itu terlihat...

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

Oleh Dewang Kara Sutowano
9 Januari 2026

Sebuah Cerita Panjang yang Sengaja Dicerai-Berai Namanya Bukit Atar, terletak tak jauh dari Batang Sinamar. Dari bukit itu terlihat...

Aji Mantrolot: Penggalan XI – KABAU GADANG (Bagian VII)

Aji Mantrolot: Penggalan XI – KABAU GADANG (Bagian VII)

Oleh Dewang Kara Sutowano
25 November 2025

Manakala sidang pemilihan Datuk Indharma gelar Tuan Suravaca sudah memasuki hari ke lima… Sore itu di tepian Nagari Sitangkai...

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In