• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Jumat, April 24, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Aji Mantrolot: AWAL PERANTAUAN PUTRA MAHKOTA

Dewang Kara Sutowano Oleh Dewang Kara Sutowano
24 April 2026
in Aji Mantrolot
953 61
0
Home Aji Mantrolot
BagikanBagikanBagikanBagikan
  • About
  • Latest Posts
Dewang Kara Sutowano
Dewang Kara Sutowano
Dian Ihkwan S.IP, dengan nama pena Dewang Kara Sutowano, seorang penikmat sejarah Minangkabau. Hadirnya serial Cerita Pendek yang berbalut sejarah ini semata-mata bertujuan untuk melihat Maharaja Adityavarman dari sudut pandang yang berbeda, agar ada perimbangan sejarah yang adil atas sosok Raja Malayu tersebut.
Dewang Kara Sutowano
Latest posts by Dewang Kara Sutowano (see all)
  • Aji Mantrolot: AWAL PERANTAUAN PUTRA MAHKOTA - 24 April 2026
  • Aji Mantrolot: DENDAM TAK SUDAH WANGSA RAJASA - 17 April 2026
  • Aji Mantrolot: Penggalan XI: KABAU KETEK (Bagian I) | Dewang Kara Sutowano - 7 April 2026

AWAL PERANTAUAN PUTRA MAHKOTA
(Sebuah cerita panjang yang sengaja dicerai berai)
Oleh: Dewang Kara Sutowano

Pagi itu dia terbangun dari tidurnya yang pulas tadi malam ketika kelopak matanya disinari mentari yang baru muncul menembus jendela kamarnya. Dia mencari ibunya, tak biasanya beliau tidak ada ketika dia bangun pagi, ke manakah gerangan beliau..?

Langkah kecil bocah berumur 6 tahun itu begitu lihai berlarian ke sana ke mari mencari keberadaan sang ibu, aroma wangi rambut sang ibu yang selalu membuat istana bergonjong sembilan ini semerbak menuntun si bocah ke arah pelataran Istana. Menengok ke kiri lalu kekanan sebentar, itu dia..! Si bocah menemukan sang ibu sedang termenung menatap kuntum melati berwarna merah yang tumbuh mekar tak jauh dari jejeran Empat Rangkiang besar nan megah yang menjaga wibawa penghuni istana atas rakyatnya.

“Apa yang sedang engkau menungkan, wahai ibunda..?”, seolah sang bocah bertanya dalam diam ketika dia menyelinap diantara dua lengan sang ibu. Sang ibu hanya tersenyum melihat anak kesayangannya tersenyum manja sambil menguap, “sudah bangun kau, Aji..?”.

*

Sang ibu memang terlihat hanya sekadar memandang mekarnya bunga melati merah pagi ini, tapi siapa pula yang akan menyangka bahwa jauh dalam hatinya beliau sedang gundah gulana memikirkan saat-saat perpisahan yang akan datang beberapa hari kedepan saat Aji tepat berumur 6 tahun.

Dulu, ketika dia masih mengandung si Bocah, dia harus kembali ke Dharma Seraya menjemput panggilan sang Ayah yang memanggilnya pulang. Perjalanan dua tahun di Trowulan hanya diakhiri oleh cerita perpisahannya dengan suami tercinta yang diperintah oleh Maharaja Majapahit untuk memperbaiki hubungan dengan Maharaja Mongol setelah bertahun-tahun lamanya mereka saling bakar di laut utara pulau Jawa.

Dia harus pulang ke Dharma Seraya, sendiri membawa orok dalam kandungan. Pulang yang hanya akan membawa badan ke arah beban yang lebih dahsyat dari sekedar perpisahan dengan suami, sang Ayah yang sudah sakit-sakitan, dan sebuah Mahkota yang sudah ditetapkan oleh Ayah untuk diletakkan diatas kepalanya, Puti Reno Marak Janggo.

Itu cerita 6 tahun yang lalu.

*

Pelukan sang Ibu kepada anaknya sedikit longgar ketika di belakang mereka muncul suara memanggil pelan, suara perempuan yang lembut menyapa. “Anakku, apa yang merisaukan hatimu, nak..?”. Puti Reno membalikkan badan, tersenyum ke arah asal suara dan bergumam lirih, “bagaimana tidak aku kan resah, wahai Ibu Suri Kerajaan, sesuai perjanjian ku dengan suami ku dulu, maka beberapa hari lagi Aji akan dijemput oleh Ayahnya, tepat ketika umurnya memasuki 6 Tahun. Bagaimana mungkin aku bisa berpisah dengan Aji anak bujang semata wayangku, wahai ibu..? Apa kau tidak melihat bagaimana polosnya wajah cucu mu ini..? Aku sungguh tidak tega di usia yang semuda ini dia harus menjalani kehidupan yang berat diperantauan..”.

Ibu Suri merangsur duduk di sebelah Puti Reno, membelai rambut wangi Puti, sedikit merunduk beliau berbisik, “kau tentu tau dengan keadaanmu yang sekarang bukan..?, dan kau tentu tau pula apa-apa yang menjadi alasan si Aji harus pergi ke Trowulan beberapa hari lagi. Sepupu Aji, Kalagemet, akan dinobatkan menjadi Maharaja Majapahit beberapa waktu yang akan datang, dan Adik Kandung mu yang merupakan Ibu dari Kalagemet, Data Petak, masih disana. Belum lagi menimbang posisi Suami mu di Trowulan, maka terimalah kejadian ini sebagai Takdir dari Sang Hyang..”.

“Tapi ibu….!”, Puti Reno mencoba mendebat. Ibu Suri menggerakkan telapak tangannya menahan keresahan Puti Reno yang akan meledak keluar dari mulutnya, “kau seorang Maharani, Puti. Maharani Kerajaan Malayu. Hubungan persahabatan antara Kerajaan Malayu dengan Kerajaan Wilwatikta di tanah Jawa sudah berlangsung berabad-abad lamanya. Jangan kau rusak keharmonisan Nusantara dengan membatalkan perjanjian yang sudah dibuat oleh Ayahmu, Maharaja Tribhuwana Raja, dengan Maharaja Kertanegara dari Kerajaan Wilwatikta. Aji harus menjemput tugas dan tanggungjawabnya meneruskan tugas ayahnya, suamimu, Mahamantri Advayavarman. Kelak ketika kau sudah tua, dan Aji sudah dewasa dan siap, dia akan pulang ke Dharma Seraya dan menggantikanmu. Saat ini biarlah dia dididik oleh ayah serta eteknya Dara Petak, biarkan dia belajar dan bermain bersama sepupunya, Kalagemet. Yakinlah engkau bahwa suratan ini punya tujuan. Tak usah kau risau, tempatmu di sini Puti, memimpin tanah air Batanghari..”

Puti Reno memalingkan wajahnya dari Ibu Suri, memandang Istana bergonjong sembilan dan tatapannya terhenti di pintu masuk Istana. Pintu itu beberapa hari lagi akan memisahkan dia dengan anak bujangnya.

*

Tujuh hari berlalu,
Puti Reno yang sedang duduk di singgasana kedatangan pembawa kabar dari pintu gerbang. “Daulat Maharani, Rombongan dari Trowulan telah tiba di gerbang Istana..”.

“Siapa gerangan yang memimpin rombongan..?”, tanya Puti Reno.

“Patih Daha, Yang Mulia Maharani, tuan Gajahmada..!”.

  • Puti Reno hanya menatap nanar ke arah sang tamu yang sudah bersimpuh di depan beliau. “Apa kabar dari suamiku, wahai tuan Patih..?”.

Patih Gajahmada diam sebentar, “Beliau dalam keadaan sehat dan masih memimpin di Trowulan membantu Maharaja Kertarajasa memimpin Kerajaan Wilwatikta, Yang Mulia..”.

“Apakah engkau membawa serta tanda dari suamiku sebagai syarat untuk membawa Aji ketanah Jawa, tuan Patih..”, tanya Puti Reno.

Patih Gajahmada mengeluarkan sesuatu dari balik jubah beratnya lalu sambil merangkak pelan menyerahkan benda dalam bungkusan kain sutra berwarna kuning keemasan tersebut kehadapan Puti Reno.

Puti Reno memegang Regalia lebih kurang seukuran tapak tangannya itu. Memandang pisau berbentuk lancip tersebut sambil membelai pelan bilahnya, Curiak Simalagiri, berhiaskan motif Bhairawa dan Bhairawi tercetak dimasing2 muka hulu bilahnya. Pisau buatan Suami nya ini yang merupakan tanda jadi yang disepakati bersama ketika Advayavarman berangkat ke negeri China dan Puti Reno harus kembali ke Dharmasraya sambil mengandung buah hati mereka berdua, diikat janji bahwa si Anak akan dipertemukan kembali dengan ayahnya tepat 6 tahun kemudian, hari ini.

*

“Menginaplah Tuan Patih barang semalam, besok kita mulai prosesi melepas perjalanan Aji Mantrolot menyusul Ayahnya ke tanah Jawa…”

“Daulat Maharani…!”, ujar Patih Gajahmada singkat.


Dari sudut mata, Puti Reno melihat Aji mengintip di balik tirai jendela ujung istana. “Oh Anakku, kemana nasib akan membawa engkau kelak..?”

BERSAMBUNG.

Insert Foto:
Curiak Simalagiri, konon merupakan Keris yang dibuat khusus oleh Advayavarman untuk anaknya, Adityavarman. Bermotif gambar Bhairawa dan Bhairawi di kedua sisi bilah pisau.

Tags: aji mantrolot

Related Posts

Aji Mantrolot: DENDAM TAK SUDAH WANGSA RAJASA

Aji Mantrolot: DENDAM TAK SUDAH WANGSA RAJASA

Oleh Dewang Kara Sutowano
17 April 2026

DENDAM TAK SUDAH WANGSA RAJASA(Sebuah cerita panjang yang sengaja dicerai berai)Oleh: Dewang Kara Sutowano Pagi itu tidak seperti biasa.Maharani...

Aji Mantrolot: Penggalan XI: KABAU KETEK (Bagian I) | Dewang Kara Sutowano

Aji Mantrolot: Penggalan XI: KABAU KETEK (Bagian I) | Dewang Kara Sutowano

Oleh Dewang Kara Sutowano
7 April 2026

AJI MANTROLOT(Sebuah Cerita Panjang Yang Sengaja Dicerai-Berai).Penggalan XI: KABAU KETEK (Bagian I)Oleh: Dewang Kara Sutowano Satu Minggu setelah peristiwa...

SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

Oleh Redaksi Marewai
3 Februari 2026

Sebuah Cerita Panjang yang Sengaja Dicerai-Berai Namanya Bukit Atar, terletak tak jauh dari Batang Sinamar. Dari bukit itu terlihat...

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

Oleh Dewang Kara Sutowano
9 Januari 2026

Sebuah Cerita Panjang yang Sengaja Dicerai-Berai Namanya Bukit Atar, terletak tak jauh dari Batang Sinamar. Dari bukit itu terlihat...

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In