• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Maret 24, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Contemporary Dance Bailau: Ritual Kemalangan dan Sebuah Tradisi Seni Pertunjukan | Rahayu Nengsih

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
12 Oktober 2020
in Budaya
2.1k 89
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Berawal dari saya (penulis) koreografer dalam karya ini yang ingin mengangkat budaya yang ada di Sumbar, yang sudah lama dan jarang didengar. Dan mungkin dikalangan anak-anak sekarang banyak yang tidak tau bahwa kesenian ini atau ritual ini ada di daerah kita.

Berangkat dari kota Padang menuju daerah Kabupaten Solok di nagari Selayo, Kecamatan Kubung, bersama tim kita berangkat menuju salah satu narasumber yang mengetahui sejarah awal dari ritual Bailau ini. Beliau biasa dipanggil “bude”. Banyak pertanyaan yang saya dan tim lontarkan mengenai ritual Bailau ini, karena kami takut sembarangan mengangkat budaya dan salah mengartikan sejarahnya, nantinya akan diartikan atau ditampilkan dalam sebuah gerakan tari.

Tari “Bailau” berasal dari kata Ilau (ba-ilau/ ber-ilau/ melakukan-ilau). Konsep tarian ini merupakan sebuah ritual tradisi dari adat Minangkabau yang digarap dalam bentuk seni pertunjukan. Tarian ini merupakan sebuah ritual tradisi untuk meratapi kematian seorang anak. Tarian “Bailau” dulunya dijadikan ritual adat kematian yang terjadi di Nagari ini. Tepatnya berlokasi di Nagari Selayo, Kecamatan Kubung, Sumatra Barat. Tarian “Bailau” ini diselenggarakan jika anak dari sebuah keluarga meninggal dunia diperantauan (rantau) dan jenazah tersebut tidak bisa dikebumikan di kampung halamannya, maka dibuatlah ritual tradisi ini yang bertujuan untuk mengenang arwah sang anak.

Poto: Rahayu Nengsih

Menurutnya, “Ilau, hal ini dilakukan karena dulu susahnya alat transportasi dan keterbatasan yang terjadi sehingga jenazah tersebut susah dikembalikan/dipulangkan ke kampung halaman”. Dari kejadian seperti itulah membuat warga di Nagari Salayo mengadakan sebuah ritual tradisi seperti itu. Ritual tradisi ini hanya ada pertama kali di Nagari Selayo dulunya. Adapun maksud dari tarian ini adalah ratapan/sesal/kesedihan/frustasi dari seorang Ibu dan kerabat yang tidak bisa menerima kematian anaknya di perantauan.

Tarian “Bailau” ini berisikan tentang anaknya yang merantau dan tiba-tiba ada berita / ‘kaba’ yang ia dapat dari sanak familinya yang membuat si ibu tidak terima atas kematian anaknya. Maka dari itu seorang Ibu tersebut memintak kepada pihak keluarga ‘ninik-mamak’, untuk membuat semacam ritual untuk dapat mengingat dan mengenang roh anak, maka badan sang anak digantikan dengan media “batang pisang”. Pengibaratan jenazah dengan batang pisang, pun tidak juga asal pilih. Karena sifatnya sama dengan manusia yaitu pantang bertunas untuk kedua kalinya, maka dari itu batang pisang dipilih untuk menjadi ikon penggambaran si mayat. Tarian “Bailau” dikembangkan dan diperindah tanpa menghilangkan orisinalitasnya. Seperti ada gerakan-gerakan dasar dari ritual ini yaitu menghentakkan kaki ke tanah dengan posisi badan condong melihat ke bawah itu menggambarkan kesedihan si ibu yang sedang mencari anaknya

Adapun pengaruh dari tarian “Bailau” ini ketidaktahuan keluarga akan adanya Tuhan. Mereka mengungkapkan sesal/ratapan/frustasi dengan cara meratapi badan anak dengan begitu tidak baik, bahkan sampai menganiaya badan dirinya sendiri.  Sampai ada yang kerasukan, menangis terisak-isak dan lainnya. Maka dari itu koreografer ingin mengangkat kembali tarian “Bailau” ini agar masyarakat Minangkabau dan masyarakat Nusantara mengetahui bahwa Tari “Bailau” ini pernah ada di Sumatra Barat. Dan memberitahu kepada orang-orang bahwa tarian ini adalah tarian asli Minangkabau, bagian dari bentuk ritual tradisi yang dikemas dalam seni pertunjukan tari.

Perubahan fungsi ini barangkali bisa kita sebut sebagai respon dari masyarakat setempat untuk melestarikan sebuah fenomena budaya, ritual tradisi tersebut tetap berupaya menyiarkan nilai-nilai yang terkandung dalam ritual itu sebelumnya, yang tentu saja “si anak yang meninggal” hanyalah sebuah imajinasi. Penulis, Rahayu Nengsih

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung - 16 Maret 2026
  • Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
  • Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
Tags: CerpenPelesiran

Related Posts

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Maret 2026

Ekosistem teater di Sumatera Barat, khususnya pada Maret 2025 ini, tampak seperti panggung yang lampunya padam sebelum pertunjukan dimulai....

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Oleh Redaksi Marewai
23 Februari 2026

Memasuki bulan Rajab, dapur-dapur rumah mulai dipenuhi aroma rempah, kunda pun siap dihidangkan. Sementara lantunan kalimat-kalimat Allah terdengar dari...

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Oleh Redaksi Marewai
15 Februari 2026

Sebanyak 61 siswa Kelas Nan Tumpah Akhir Pekan (Kelana Akhir Pekan) menggelar karya hasil pembelajaran Semester II (September–Desember 2025)...

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Oleh Redaksi Marewai
5 Februari 2026

Dua bulan setelah banjir bandang dan galodo melanda 16 kabupaten kota di Sumatera Barat, Komunitas Seni Nan Tumpah menggelar...

Next Post
Marewai

Fenomena Sumur Batu dan Mitosnya yang Berkembang, Teratak Panas, Amping Parak Pesisir Selatan

Carito: Yuang Sewai-Manabuang Harato | Rori Aroka Rusji

Carito: Yuang Sewai-Manabuang Harato | Rori Aroka Rusji

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In