• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Uyung Hamdani | Aku dan Kameraku

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
27 Juni 2025
in Puisi
1.1k 72
0
Home Sastra Puisi
BagikanBagikanBagikanBagikan

AKU DAN KAMERAKU

Aku punya kamera
Moncongnya kuarahkan kemana saja
Ke wajah orang-orang misalnya
Ke wajah sendiri juga misalnya
Sampai habis baterai
Sampai pegal sendi-sendi jemari

Aku putar gambarnya
Kadang gelap kadang terang
Jarang yang biasa-biasa saja
Seperti hidup mereka yang kupotret
Yang sembab atau benderang sekalian

Istriku menyuruhku memotretnya
Maukah kau katanya?
Tentu aku mau
Kan dia istriku
Gelap terang dia istriku

Kuarahkan kamera
Cahaya menerpa wajah istriku
Seperti pertama kami di pelaminan
Kilat kamera dimana-mana

Lain waktu
Tuan besar mendatangi
Ia minta aku memotretnya
Kau mau kan, Katanya
Aku mau saja
Kan dia tuan besar

Kemudian aku potret dia
Sebagian licin mengkilap
Sebagian lagi buram
Seperti hidup yang kerap bersembunyi

Tuan besar marah-marah
Kenapa wajahnya tak semua yang tampak
Dasinya juga
Sinsing lengan bajunya juga

Aku bilang pada tuan besar
Aku tak salah
Kameraku benar
Wajah tuan juga tak salah
Ia sebenar-benar gambar

Tuan besar meradang
Kameraku dicampaknya
Aku ditendang
Terhuyung kiri kanan

Foto tuan besar tetap begitu saja
Sebagian licin sebagian buram
Dasi dan sinsing lengan baju tetap legam tak tampak

Aku pulang
Aku potret istriku
Gelap terang
Aku suaminya
Gelap terang
Dia istriku

===========
Sehari lewat

Malam datang
Lalu esok
Lalu lusa
Lalu terompet lagi
Mercon kembang api
Lalu kita tak ingat apa apa
Sebab keriput di leher
Uban di kepala
Kencing di celana
Tua
Hidup yang
Begitu begitu saja

============
Di dalam warung yang menjual sepi

Kita memesan kopi, sesendok rindu diaduk, menggelar senyum di ujungnya.
Sebatang pagi dihembus
Kabutnya menyentuh kulit dan merayap ke hati.
Bolehkah esok kita datang lagi?
Membeli sepi dan mengubahnya menjadi riuh.
Cuma kita.


Penulis, Uyung Hamdani. Seorang Fotografer Dokumenter dan penulis lepas. Tulisan-tulisannya banyak memuat tentang sosial lingkungan dan kebudayaan.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung - 16 Maret 2026
  • Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
  • Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
Tags: Berita seni dan budayaMarewaipuisi

Related Posts

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Oleh Redaksi Marewai
16 Maret 2026

Entah Buku Apa Namanya Aku pernah membaca tubuh bukuDan aku jatuh cinta pada manisnya kata pengantarBegitu syahduSesampai malam menemani...

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

RANJANG akhir-ahkir ini aku sering kali melihat laki-laki paruh baya duduk depan jendela sambil melantunkan nyanyian kecil ninabobo, ninabobo...

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Oleh Redaksi Marewai
7 Maret 2026

Sambirenteng Desa Penyadap Tuak rumah kekasihku dibangun pagi hari. matahari jatuh di bukit sanghyang, setelah bukit ibu melukis langit...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Next Post
Sepulang dari Ubud Writers and Readers Festival 2024: Sebuah Catatan Singkat dan Ingatan Setelahnya | Arif P. Putra

Sepulang dari Ubud Writers and Readers Festival 2024: Sebuah Catatan Singkat dan Ingatan Setelahnya | Arif P. Putra

PERIHAL SEMBILAN (+1) PENULIS YANG TERJEBAK DI UBUD | Nanda Winar Sagita

PERIHAL SEMBILAN (+1) PENULIS YANG TERJEBAK DI UBUD | Nanda Winar Sagita

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In