• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Senin, Agustus 3, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Uyung Hamdani | Aku dan Kameraku

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
27 Juni 2025
in Puisi
2.1k 132
0
Home Sastra Puisi
BagikanBagikanBagikanBagikan

AKU DAN KAMERAKU

Aku punya kamera
Moncongnya kuarahkan kemana saja
Ke wajah orang-orang misalnya
Ke wajah sendiri juga misalnya
Sampai habis baterai
Sampai pegal sendi-sendi jemari

Aku putar gambarnya
Kadang gelap kadang terang
Jarang yang biasa-biasa saja
Seperti hidup mereka yang kupotret
Yang sembab atau benderang sekalian

Istriku menyuruhku memotretnya
Maukah kau katanya?
Tentu aku mau
Kan dia istriku
Gelap terang dia istriku

Kuarahkan kamera
Cahaya menerpa wajah istriku
Seperti pertama kami di pelaminan
Kilat kamera dimana-mana

Lain waktu
Tuan besar mendatangi
Ia minta aku memotretnya
Kau mau kan, Katanya
Aku mau saja
Kan dia tuan besar

Kemudian aku potret dia
Sebagian licin mengkilap
Sebagian lagi buram
Seperti hidup yang kerap bersembunyi

Tuan besar marah-marah
Kenapa wajahnya tak semua yang tampak
Dasinya juga
Sinsing lengan bajunya juga

Aku bilang pada tuan besar
Aku tak salah
Kameraku benar
Wajah tuan juga tak salah
Ia sebenar-benar gambar

Tuan besar meradang
Kameraku dicampaknya
Aku ditendang
Terhuyung kiri kanan

Foto tuan besar tetap begitu saja
Sebagian licin sebagian buram
Dasi dan sinsing lengan baju tetap legam tak tampak

Aku pulang
Aku potret istriku
Gelap terang
Aku suaminya
Gelap terang
Dia istriku

===========
Sehari lewat

Malam datang
Lalu esok
Lalu lusa
Lalu terompet lagi
Mercon kembang api
Lalu kita tak ingat apa apa
Sebab keriput di leher
Uban di kepala
Kencing di celana
Tua
Hidup yang
Begitu begitu saja

============
Di dalam warung yang menjual sepi

Kita memesan kopi, sesendok rindu diaduk, menggelar senyum di ujungnya.
Sebatang pagi dihembus
Kabutnya menyentuh kulit dan merayap ke hati.
Bolehkah esok kita datang lagi?
Membeli sepi dan mengubahnya menjadi riuh.
Cuma kita.


Penulis, Uyung Hamdani. Seorang Fotografer Dokumenter dan penulis lepas. Tulisan-tulisannya banyak memuat tentang sosial lingkungan dan kebudayaan.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata - 17 Juli 2026
  • Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung - 11 Juli 2026
  • Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata - 10 Juli 2026
Tags: Berita seni dan budayaMarewaipuisi

Related Posts

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Kepada Shei

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Kepada Shei

Oleh Redaksi Marewai
26 Juni 2026

KEPADA SHEI Aku senang membayangkan hal-hal yang indah. Kubayangkan matamu menjadi rumah paling megah: tempat di mana lelah perlahan...

Puisi-puisi Cahaya Daffa Fuadzen | Venari In Gehenna (2026)

Puisi-puisi Cahaya Daffa Fuadzen | Venari In Gehenna (2026)

Oleh Redaksi Marewai
18 April 2026

Venari In Gehenna (2026)             — Michelle Petrelll Aku memandangi lukisan anomali persis melihat api melawan gravitasi : alkisah...

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Oleh Redaksi Marewai
16 Maret 2026

Entah Buku Apa Namanya Aku pernah membaca tubuh bukuDan aku jatuh cinta pada manisnya kata pengantarBegitu syahduSesampai malam menemani...

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

RANJANG akhir-ahkir ini aku sering kali melihat laki-laki paruh baya duduk depan jendela sambil melantunkan nyanyian kecil ninabobo, ninabobo...

Next Post
Sepulang dari Ubud Writers and Readers Festival 2024: Sebuah Catatan Singkat dan Ingatan Setelahnya | Arif P. Putra

Sepulang dari Ubud Writers and Readers Festival 2024: Sebuah Catatan Singkat dan Ingatan Setelahnya | Arif P. Putra

PERIHAL SEMBILAN (+1) PENULIS YANG TERJEBAK DI UBUD | Nanda Winar Sagita

PERIHAL SEMBILAN (+1) PENULIS YANG TERJEBAK DI UBUD | Nanda Winar Sagita

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In