• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Pelesiran: Baralek dengan Dekorasi Tradisional, Apa masih Zaman? | Anggi Oktavia

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
20 April 2024
in Pelesiran
1.2k 25
0
Home Pelesiran
BagikanBagikanBagikanBagikan

Undangan turun mandi dari keluarga jauh Ayah datang dari daerah yang terkenal dengan oleh-olehnya, ya kacang tanah. Membuat Saya dan keluarga berangkat sekitar jam sepuluh pagi dari Lubuk Selasih. Duduk di atas mobil pick up yang terbuka, membuat mata lepas memandang. Saya  dan keluarga menikmati perjalanan. Saat tiba di daerah  tanah hitam, terlihat hamparan kebun hamparan kebun teh di kanan membentuk bukit dan di kiri berderet kedai beratap dan berdinding terpal. Penjual strawberry, dan bawang pun tampak bersemangat menjajakan dagangan sepanjang jalan.

Ibu dan Uwo langsung mengambil jaket dari dalam tas, menyuruh kami memakai jaket, supaya tidak kedinginan, karena semakin jauh perjalanan, udara semakin terasa dingin, menusuk tulang-tulang Kami. Sampai di seberang Masjid Umi, tepat di depan SMA Negeri 1 Lembah Gumanti, mobil di hentikan suami one. Angin sepoi-sepoi terasa menghempas badan. Kami sekeluarga mengeluarkan nasi dan samba untuk makan. Selesai makan, saya dan Uwo menunaikan kewajiban di Masjid Umi, Alahan Panjang. Hal ini yang sangat Saya nikmati ketika sampai di sebuah tempat baru.

Mobil pick up milik One terus melaju kian kencang, menelusuri jalanan. Jalanan-jalanan berlubang membuat perut kami berguncang. Sekitar jam satu Kami sampai di rumah keluarga yang ada di Surian. Di suguhkan makanan. Tetapi sayang, saat kami sampai ritual turun mandi anak adik ayah yang kami kunjungi, sudah selesai. Tinggal menunggu alek sampai sore saja, seperti kami keluarga jauh yang datang. Di sudut rumah milik Adik Ayah, tampak ada kasur anak Bayi, dan di sebelah kasur ada Ibunya dengan kaki selonjoran. Ujung kaki Si Ibu di ikat sebuah daun, katanya ini Penangkal untuk tidak terkena aura jahat. Kami makan dengan senangnya. Namun, Ada satu makanan yang asing bagi Saya, makanan yang berbeda. Makanan kudapan, berwarna merah, berstruktur lembut dan berbentuk bulat. Ketika Saya tanya, pinukuik nama makanan itu. warnanya yang khas, membuat Saya menyadari, ternyata makanan minang begitu banyak jenisnya. 

Sekitar jam tiga, kami memutuskan untuk pulang dari Surian. Tidak jauh dari tugu bertuliskan selamat jalan, One berhenti membeli kacang. Saya pun ikut turun untuk membeli Kacang dan berbagai olahan makanan dari kacang tanah. “Kacang Haji Arifin” merek berwarna kuning yang tertera pada pembungkus kacang.

Terlihat hamparan sawah berpetak-petak yang membuat Saya serasa ingin berguling di sana, di tambah ranumnya buah padi yang merunduk. Belokan berikutnya tampak Bukit yang di penuhi batang Surian membuat mata indah memandang, berwarna hijau dan kuning. Tiba di belokkan selanjutnya, terlihat bukit yang meliuk-liuk.  Ladang di atas bukit beserta satu-dua pondok terlihat sangat tinggi untuk sampai di sana.

One membawa kami singgah di Aia Dingin, melihat anak teman suaminya baralek. Baralek adalah pesta pernikahan yang di lakukan orang Minangkabau. Kami sampai di sana sekitar jam lima sore. Hamparan bukit yang luas di sana, beserta jejeran rumah di seberang sana membuat pemandangan segar, menciptakan perasaan kagum di hati saya. Akan terlihat Bukit berwarna hijau kekuningan, karena di terpa cahaya matahari. Rumah kayu itu sudah di penuhi oleh tamu undangan yang datang.

Tetapi, ada yang tidak saya temukan, tidak ada panggung orgen dan pelaminan luar bergaya prasmanan yang biasa ada saat orang Baralek di kampung saya. Seketika itu saya berpikir, bahwa keluarga memang menyelenggarakan pesta pernikahan dengan pelaminan di dalam rumah. Udara dingin kembali ngilu, menusuk tulang.
Ibu berbisik di telinga saya “Nak, jangan ketawakan orang sembarangan” Saya mengangguk dan langsung mengerti. “iya Bu, orang atas ini” bisikku menjawab ibu. Atas maksudnya adalah alahan panjang. Tidak bisa di pungkiri di sini masih sangat kental dengan penggunaan ilmu hitam.

Saya melihat ada sekelompok ibu-ibu yang turun dari rumah orang Baralek. Ibu-ibu itu Menggendong anak mereka yang masih balita, di punggung menggunakan kain panjang, yang lebih mengejutkan lagi ialah mereka tidak menggunakan sendal. Hati saya tergugah, merasakan suasana orang zaman dahulu. Dalam rumah yang sesak, karena orang banyak, kemudian keluar Marapulai memakai baju warna merah. Dia keluar bersamaan dengan orang laki-laki yang memakai baju putih, celana hitam, serta salempang dari kain sarung. Kata One mereka adalah Ninik mamak dari pihak Marapulai.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Page 1 of 2
12Next
Tags: BudayaMarewaiPelesiranSastra

Related Posts

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

Oleh Redaksi Marewai
10 Januari 2026

            Tanggal 10 Juni Mbak Ruth Priscilia menghubungi saya, menyampaikan pesan bahwa novel Leiden (2020-1920) lolos dalam kurasi Ubud...

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Oleh Redaksi Marewai
7 Desember 2025

Arah Tutur Padang dengan semua penghuninya larut bersama malam yang dingin dan lembap. Adam, yang masih bayi acap kali...

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

Oleh Redaksi Marewai
17 November 2025

Di tengah rimbunnya hutan lindung Rimbang Baling, di sebuah desa terpencil bernama Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten...

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Oleh Arif P. Putra
1 November 2025

Perjalanan-perjalanan satu dekade terakhir yang saya lakukan kerap menemukan keajaiban-keajaiban, barangkali sebelumnya belum pernah terpikirkan. Bahkan, sebagian dari tempat...

Next Post

Pameran Poto Fatris MF Bertajuk "Di Bawah Kuasa Naga":  Melihat Potret Komodo dan Kemurungan lainnya

Mengopi di Atas Angkot | David Utomo

Mengopi di Atas Angkot | David Utomo

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In