• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Selasa, Agustus 11, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Aliyus Akmal | Pembaringan

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
22 Juli 2023
in Sastra, Puisi
2.2k 90
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Pembaringan.

Letak lamunku berhenti menyeka bulan redup
dimeja bergetah kata-kata
jalan terjal mengetuk hening sekat napas
lelah bertangga menyingkap ganas irama

melepuh dalam larung kisah pejam yang tak kunjung lengang
berteka-teki alir jauh memenjarakan kicau
menerjang lelap dalam lebur menghunus perih

menuju menara pedih kau tersesat sebagai hutan yang agung
menyembah di bukit sepi
adakah hidup yang tak menuju tepi.

Kau terikat bagai burung yang pulang petang
menjelajah pada hitam sarang
menumpuk darah kering membingkai terbangmu
ditengah jenuh kau pergi menipu waktu

melesat syahdu yang berdengung
lalu siapa peluru yang membaringkanku
lamunku melayang bagai kayuh kapas
sebelum lelah kutenggak malam yang buas.


Untuk Suatu Waktu.

Kertas kosong ditikam sebentuk remuk
kerumunan darah berbunga gelisah
membentur kepala kepada sebuah do’a
meniduri langkah yang mati
bayangan kata membakar air mata

Untuk suatu waktu
sepasang telinga adalah petuah
dari makna yang telah murka
menjadi suara untuk sebuah diam.

Untuk sebentuk pilu
kegelapan menjadi arah tersunyi
tanpa cahaya ialah jalan terang menuju hampa
begitu rindu ini menjadi hasrat tersendu
yang menyentuh kabut waktu

Dipeluk bayang risau
berenanglah cinta disungai kata-kata
terpejam rasa, binasa gelora
di hulu tubuhmu terlelap lara.


Siapa hujan digurun sunyi.

Entah yang tersadar dari sembunyi disemak nama-nama
kayu-kayu yang lapuk mulai membusuk
mengubah sudah kehulu nasib
berserak diam
pecah hingga hanya yang tinggal sebentuk entah
seperti tidur seekor semut nan serakah
yang berbagi seindah rayu-rayuan
untuk sekedar tumbuh
menyentuh hela napas
ada yang patah
ada yang menunas
ada tikam ganas
ada rendah membungkuk
ada tikar, membakar
ada siapa digurun sunyi.

Lalu apa hutan dan hujan
lalu apa kawan dan lawan
habis sudah pertanyaan
siapa sesak yang langka
menyala sunyi melengkapi.



Sengsara berbunga.

Kemanusiaanku dalam terang bulan
Ditemani bandrol rokok orang demam
Berkicau, merdu bernafsu dan sengau
Sembilan sisi gelap mengapung
Dalam tangisku
Tangisi
Menangis kugenggam
Genggaman kutangisi
Belantara semu
Sendu secuil candu.

Jaga matamu, rindang
Hujan itu dibelenggumu.



Bertubuh kala rendah.

Nestapa rebah bertadah apa siapa yang singgah
beralur sesak, terpijak
mendekam aroma jatuh
dalam selubung rima
menyucikan tubuh kala rendahnya
bergeliat kota-kota didusun jiwa

Sebuah kata-kata bagus menjelma kilas
terkilang ironi yang tak kupilih kamu dalam rentang
mengigau retak dalam dada
menepi dalil-dalil suaka
kita telah bersama hanya dalam nada yang dipaksa(kan)
sejauh alir yang melelahkan
dalam malam yang juang
terjengkang..!


Adakah kau menjadi habis sebelum pulang.

Pada sebuah buku, ada malam yang menyatu
terbuka bergerak dalam kata-kata
mengetuk rangkaian lirih kaki-kaki kenangan
menjadi hujan membasahi kain penutup kepala
terbawa terus meraga ditepi keliaran kalimatnya
terbenam menuju denyut sepi
hingga kau menjadi kami

Kurengkuh sebelum patah pada pejam
nyenyaklah pagimu menerangi bangunku nanti
sebagai motivasi diri sebelum pergi berkelana
yakinkan gerak menerpa kala mati
menetes embunmu, hingga tergenangku
sederas tintamu, mengelilingi pukauku

Apakah kau adalah kami yang sekarang
menerjang gejolak lambaian usang,
adakah kau menjadi habis sebelum pulang
ketika hunusmu menerkam ruang.



-Aliyus Akmal-
Menghasilkan sebuah buku puisi dengan judul Yang Belum Pulang (2021), terbitan Epigraf. Beralamat di Tapan, kec. Ranah Ampek Hulu, kab. Pesisir Selatan, SUMBAR.
Instagram_ @cgoretsan


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata - 4 Agustus 2026
  • Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata - 17 Juli 2026
  • Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung - 11 Juli 2026
Tags: CerpenMarewaipuisiSastra

Related Posts

Kata Ruang: Strategi Mendang-Mending dalam Puisi | Dandri Hendika

Kata Ruang: Strategi Mendang-Mending dalam Puisi | Dandri Hendika

Oleh Dandri Hendika
7 Agustus 2026

Antara guru kulit terang dan guru lokal sawo matang ada jenjang tak kepalang. Gaji guru sawo matang merangkak-rangkak seperti...

RUBRIK KATA RUANG

Oleh Dandri Hendika
7 Agustus 2026

Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung

Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung

Oleh Redaksi Marewai
11 Juli 2026

Pulang Kampung             Haris keluar dari bus angkutan antar kota. Langkahnya pelan menghentak seakan menumpahkan kekesalan di hatinya. Bagaimana...

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Kepada Shei

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Kepada Shei

Oleh Redaksi Marewai
26 Juni 2026

KEPADA SHEI Aku senang membayangkan hal-hal yang indah. Kubayangkan matamu menjadi rumah paling megah: tempat di mana lelah perlahan...

Next Post
Puisi-puisi Fitri Wijaya | Masa Kecil Santi

Puisi-puisi Fitri Wijaya | Masa Kecil Santi

Cerpen Ede Tea | Perempuan yang Melahirkan Banyak Puisi

Cerpen Ede Tea | Perempuan yang Melahirkan Banyak Puisi

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In