• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Maret 24, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Aliyus Akmal | Pembaringan

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
22 Juli 2023
in Sastra, Puisi
1.2k 50
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Pembaringan.

Letak lamunku berhenti menyeka bulan redup
dimeja bergetah kata-kata
jalan terjal mengetuk hening sekat napas
lelah bertangga menyingkap ganas irama

melepuh dalam larung kisah pejam yang tak kunjung lengang
berteka-teki alir jauh memenjarakan kicau
menerjang lelap dalam lebur menghunus perih

menuju menara pedih kau tersesat sebagai hutan yang agung
menyembah di bukit sepi
adakah hidup yang tak menuju tepi.

Kau terikat bagai burung yang pulang petang
menjelajah pada hitam sarang
menumpuk darah kering membingkai terbangmu
ditengah jenuh kau pergi menipu waktu

melesat syahdu yang berdengung
lalu siapa peluru yang membaringkanku
lamunku melayang bagai kayuh kapas
sebelum lelah kutenggak malam yang buas.


Untuk Suatu Waktu.

Kertas kosong ditikam sebentuk remuk
kerumunan darah berbunga gelisah
membentur kepala kepada sebuah do’a
meniduri langkah yang mati
bayangan kata membakar air mata

Untuk suatu waktu
sepasang telinga adalah petuah
dari makna yang telah murka
menjadi suara untuk sebuah diam.

Untuk sebentuk pilu
kegelapan menjadi arah tersunyi
tanpa cahaya ialah jalan terang menuju hampa
begitu rindu ini menjadi hasrat tersendu
yang menyentuh kabut waktu

Dipeluk bayang risau
berenanglah cinta disungai kata-kata
terpejam rasa, binasa gelora
di hulu tubuhmu terlelap lara.


Siapa hujan digurun sunyi.

Entah yang tersadar dari sembunyi disemak nama-nama
kayu-kayu yang lapuk mulai membusuk
mengubah sudah kehulu nasib
berserak diam
pecah hingga hanya yang tinggal sebentuk entah
seperti tidur seekor semut nan serakah
yang berbagi seindah rayu-rayuan
untuk sekedar tumbuh
menyentuh hela napas
ada yang patah
ada yang menunas
ada tikam ganas
ada rendah membungkuk
ada tikar, membakar
ada siapa digurun sunyi.

Lalu apa hutan dan hujan
lalu apa kawan dan lawan
habis sudah pertanyaan
siapa sesak yang langka
menyala sunyi melengkapi.



Sengsara berbunga.

Kemanusiaanku dalam terang bulan
Ditemani bandrol rokok orang demam
Berkicau, merdu bernafsu dan sengau
Sembilan sisi gelap mengapung
Dalam tangisku
Tangisi
Menangis kugenggam
Genggaman kutangisi
Belantara semu
Sendu secuil candu.

Jaga matamu, rindang
Hujan itu dibelenggumu.



Bertubuh kala rendah.

Nestapa rebah bertadah apa siapa yang singgah
beralur sesak, terpijak
mendekam aroma jatuh
dalam selubung rima
menyucikan tubuh kala rendahnya
bergeliat kota-kota didusun jiwa

Sebuah kata-kata bagus menjelma kilas
terkilang ironi yang tak kupilih kamu dalam rentang
mengigau retak dalam dada
menepi dalil-dalil suaka
kita telah bersama hanya dalam nada yang dipaksa(kan)
sejauh alir yang melelahkan
dalam malam yang juang
terjengkang..!


Adakah kau menjadi habis sebelum pulang.

Pada sebuah buku, ada malam yang menyatu
terbuka bergerak dalam kata-kata
mengetuk rangkaian lirih kaki-kaki kenangan
menjadi hujan membasahi kain penutup kepala
terbawa terus meraga ditepi keliaran kalimatnya
terbenam menuju denyut sepi
hingga kau menjadi kami

Kurengkuh sebelum patah pada pejam
nyenyaklah pagimu menerangi bangunku nanti
sebagai motivasi diri sebelum pergi berkelana
yakinkan gerak menerpa kala mati
menetes embunmu, hingga tergenangku
sederas tintamu, mengelilingi pukauku

Apakah kau adalah kami yang sekarang
menerjang gejolak lambaian usang,
adakah kau menjadi habis sebelum pulang
ketika hunusmu menerkam ruang.



-Aliyus Akmal-
Menghasilkan sebuah buku puisi dengan judul Yang Belum Pulang (2021), terbitan Epigraf. Beralamat di Tapan, kec. Ranah Ampek Hulu, kab. Pesisir Selatan, SUMBAR.
Instagram_ @cgoretsan


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung - 16 Maret 2026
  • Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
  • Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
Tags: CerpenMarewaipuisiSastra

Related Posts

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Oleh Redaksi Marewai
16 Maret 2026

Entah Buku Apa Namanya Aku pernah membaca tubuh bukuDan aku jatuh cinta pada manisnya kata pengantarBegitu syahduSesampai malam menemani...

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

RANJANG akhir-ahkir ini aku sering kali melihat laki-laki paruh baya duduk depan jendela sambil melantunkan nyanyian kecil ninabobo, ninabobo...

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

Sebelum diborgol, Darso teringat permintaan putra semata wayangnya yang ingin sekali pergi piknik di kaki gunung. Darso berpikir, boro-boro...

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Oleh Redaksi Marewai
7 Maret 2026

Sambirenteng Desa Penyadap Tuak rumah kekasihku dibangun pagi hari. matahari jatuh di bukit sanghyang, setelah bukit ibu melukis langit...

Next Post
Puisi-puisi Fitri Wijaya | Masa Kecil Santi

Puisi-puisi Fitri Wijaya | Masa Kecil Santi

Cerpen Ede Tea | Perempuan yang Melahirkan Banyak Puisi

Cerpen Ede Tea | Perempuan yang Melahirkan Banyak Puisi

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In