• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Diego Alpadani | Ia Memperkirakan Kisah Masa Depan

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
26 April 2022
in Sastra
1.5k 15
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Ia Memperkirakan Kisah Masa Depan

Andai saja kerinduan telah dimiliki
segelas minuman seribu dengan utuh, tentu
Dini ingin melambaikan tangan ke kamera.
Memaksa diri untuk tetap membatu

di antara ragam wacana yang mulai
kelabu. Ia tak pernah pamrih,

masih bertahap merangkai ragam kisah,
tentang sepucuk surat yang tak lagi ingin
bicara. Menyoal piring yang enggan menemui
nasi hangat dan sambal yang tak lagi merah. Dini tak
pernah marah. Kerana andai saja kerinduan
seutuhnya dimiliki segelas minuman seribu

ia akan melambaikan tangan ke kamera.
Berakhir kisah,
dimulai tentang kelabu yang kini
menjadi nyata.

Piai, 2021


Kisah Kedua Adalah Puisi Paling Resah

Inti dari kemarahan adalah gergaji
yang mencium akal Dini. Walau tak pernah
ia berlabuh di dermaga kusam. Meski
tak pernah memberhentikan bus dengan
tangan kanan. Dini tak mampu menahan akalnya
dicampuri kediktaktoran gergaji.

Tak ada yang benar-benar renyah.

Dirinya sudah layu di ceruk pasrah.
Gergaji menajamkan setiap mata untuk
mengakali akalnya. Bagaimana bisa sepanjang
itu kisah Dini merajut resah.

Dalam akalnya.

Piai, 2021



Keutuhan Kisah yang Diambil Paksa

Burung camar burung kenari
Kedua burung tak di tangan
Jangan pernah coba mendekati
Jika hanya untuk meninggalkan
Dini tahu bahwa mata harus dibalas mata.
Burung kenari kembali ke peraduan
Burung camar hilang arah tujuan
Bukan niat hati hendak meninggalkan
Kehendak orang tua tak bisa dilawan

Piai, 2021



Kisah Terakhir

Sekian kisah berlalu akhirnya Dini melepas
tuah di dirinya. Pagar sudah lama lapuk

dihantam hujan dan panas. Setiap hari.
Bila malam datang, tak lagi perlu
ia rasa salah menghantuinya.

Hanya saja, Dini ikut terlepas di
Pelepasan tuah yang telah lama
tertanam di badan dirinya.

Piai, 2021



Awal Kisah

Dimulailah kisah yang turun.
Dari sepasang telinga ke semiliyar
muncung.

Dini pergi membunuh segelas minuman seribu,
ia tak pernah ingin menyakiti. Sebagaimana
mata yang lebih dulu mati dari yang lainnya.

“Jangan ucapkan selamat datang pada diri ini,
jika kelak kematian membisu di hadapan,”

Dini menghitung-hitung dirinya,
semakin dalam.
Semakin tak masuk akal.

Ia membunuh kisah di awal cerita.
Namun muncung tak pernah tahu
kata henti untuk dirinya.

Piai, 2021


Penulis, Diego Alpadani memiliki hobi duduk di Lepau Wo Wat sambil mendengarkan Ota Lapau dan meminum teh telur. Ia berharap dapat duduk di Lepau Wo Wat bersama Pevita Pearce.


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: CerpenpuisiSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Punago Rimbun: Empat Pendekar Penyelamat Pesisir Barat | Zera Permana

Punago Rimbun: Empat Pendekar Penyelamat Pesisir Barat | Zera Permana

Punago Rimbun: Empat Pendekar Penyelamat Pesisir Barat | Zera Permana #2

Punago Rimbun: Empat Pendekar Penyelamat Pesisir Barat | Zera Permana #2

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In