• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Putri Erline | Tidak Ada yang Perlu Diselamatkan

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
16 April 2022
in Sastra
1.4k 14
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan


Tidak Ada yang Perlu Diselamatkan

Di panas bintang, kau menyulut suasana
dengan rokok di tubir percakapan
Anggur menjulang
meratapi bayang-bayang
yang saling berjauhan

Tidak ada yang perlu diselamatkan
dari sebuah tamparan

Api itu masih hidup di grotto
menyembunyikan embun milikku
tapi hujan lebih nyalang
menderas ke cappuchino tiap pagi

Tidak. Tidak ada salah paham
hatimu berpindah tangan
hatimu memang berpindah tangan

Kita melupakan benang merah
“Perché sei un essere speciale, ed io avrò cura di te.”*
Membelakangi Gedung-gedung tinggi
mengebumikan diksi
–atau apa saja
yang mencederai

Sewaktu topeng ratu dansa hanyut
mencuri denyut dan netramu
kau mainkan pula, La Cura
dari kanal ke kanal
dari pesta ke pesta
Lalu sebilang napas kita yang genap
jatuh di kelopak-kelopak ganjil
–putih, perih

Di bibir kastil
burung-burung, bayu dan batu putih
sekali lagi menamparku
tanpa kuda dan seikat puisi
aku hanya perhiasan dunia
yang kehilangan bujangga

Depok, 1 April 2022

*Lirik lagu La Cura karya Franco Batiatti, artinya “Karena kamu adalah makhluk yang istimewa, dan aku akan menjagamu.”


Dua Puluh

Di pagar batu, dulu, engkau setia menunggu
hujan atau kata-kata lain
selain pulang
Pagi adalah api
yang siutnya membuatmu
tuna jarum jam ibu kota

“Kau tetaplah di sini”

Di ambang tidak ada yang kutuju
selain menyiram doa untuk Ayah Ibu
dan engkau yang kembali sekali waktu

Aku tidak ingat kapan terakhir engkau
menghadiahkan senyuman, sesuatu yang
mahal di deras luka-luka
tidak jua saat lebaran
pun jamuan akbar
tidak sejak Ayah Ibu beruaya
dan kau mengungsikan dunia
ke pundak serta kepalamu
seorang

Sudah dua puluh tahun
tidak ada genggaman seorang sulung
yang matanya selalu teduh, membuat terik luluh
yang jadi muara, kala hilang arah cita

Di simpang itu, kak, sudah bermangir aspal
Desa kita jadi tembok terakhir
menampung bayang dan cahaya
riasan kota
lebih banyak marka, baliho dan pariwara
Bising kendaraan masih jamur di ruas-ruas besar
Anak-anak kadang menyambat burung
menjarah keong, belut nan langka
bermain layang atau memetik kangkung liar

Tanah menua, hujan kian ranum
padi tak kuat mendampingi cuaca
dalam kepikunan-kepikunan

Pagar batu itu, pun kini mendekapmu
sejajar Ayah Ibu

Kak, rumah dan sawah telah bungkuk
rata dengan tanah, menjadi puing yang
mungkin selalu pening,
dipenuhi klakson yang lupa dzikir

Di tengah ramainya kamboja dan puring
biarkan aku kali ini
berjalan kaki
agar jalan-jalan sempit
membuatku sulit
merumahkanmu
juga masa lalu

Depok, April 2022


Matros dan Ladam di Gelombang

Suraimu masih saja datang
selepas mengaduk-aduk jiwa karam
mengungsikan terumbu karang
juga bintang-bintang

Di bawah daun kuyu, tergugu, aku
kehilangan kata-kata di luas kesunyian,
membiarkanmu mengayun netra ke mana saja

Emas-emas punah, galiung bertunas panah
Rasian padam,
di sengit aduan parang

Yang diputar waktu
hanya keping-keping suara
Buah simalakama terjun
menuntaskan misinya
menjelma humus-humus, pada
penyesalan yang mengakar, pada
birai yang terus mempertanyakan
apa dan di mana sebuah rumah

Bulan mengungsi
menyembunyikan nur, menyambunyikan asal usul
Dan getar tubuhmu
masih nyalang di sempadan
menyisir segala yang asing
mengasingkan segala yang mungkin

Mungkin sepatutnya
Aku tak perlu mengadu kuda sembrani
berlakon gagah bak sentani
Mungkin semestinya
anak-anak tak labas melempari batu padaku
yang tak menyisakan tulang
milik Ayah Ibu

Di sisa sekoci
api belum padam
diamuk eksodus dan ingatan
Di bawah konstelasi, lagi
luka-luka membawa ladam
padamu, hunian yang begitu
membuatku batu


Penulis, Putri Mariam A. Erline kelahiran Jakarta. Karyanya puisinya telah dimuat di majalah Story, laman Omong-omong, Suku Sastra, Riau Sastra, Fopini, Madrasah Digital, dan Cangkeman. Saat ini penulis berdomisili di Depok, Jawa Barat. Jumpai penulis di Akun IG: @putri26maryam


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: CerpenMarewaipuisiSabtuSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Puisi-puisi Diego Alpadani | Ia Memperkirakan Kisah Masa Depan

Puisi-puisi Diego Alpadani | Ia Memperkirakan Kisah Masa Depan

Punago Rimbun: Empat Pendekar Penyelamat Pesisir Barat | Zera Permana

Punago Rimbun: Empat Pendekar Penyelamat Pesisir Barat | Zera Permana

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In