• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Profil Tokoh & Karya: Sastrawan Raudal Tanjung Banua dan Cerita “Nyaris Wartawan” | Arif P. Putra

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
1 Januari 2022
in Sastra, Tokoh
1.7k 108
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Raudal Tanjung Banua lahir di desa Lansano, Kenagarian Taratak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, 19 Januari 1975. Pendidikan menengahnya diselesaikan di SMA Negeri I Painan. Sambil bersekolah, ia menjadi koresponden harian Semangat dan harian Haluan yang terbit di Padang. Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, pada awal tahun 1995 Raudal pergi merantau ke Bali dan ke Pulau Jawa. Mula-mula ia menuju Denpasar. Di sana ia bergabung dengan “Sanggar Minum Kopi” dan banyak belajar pada penyair Umbu Landu Paranggi yang mengasuh rubrik budaya Bali Post.

Di Yogyakarta Raudal Tanjung Banua mendirikan Komunitas Rumah Lebah dan bergiat dalam lembaga budaya “Akar Indonesia” yang berhasil menerbitkan Jurnal Cerpen Indonesia. Raudal Tanjung Banua yang masih berdomisili di Yogyakarta bekerja sebagai editor lepas. Di samping itu, ia juga bekerja sebagai Ketua Redaksi Jurnal Cerpen Indonesia (majalah yang diterbitkan oleh lembaga budaya Akar Indonesia) dan menjadi pengulas puisi remaja di surat kabar Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta.

Karya berupa puisi, cerpen, esai, naskah drama Dan catatan perjalanan dipublikasikan di berbagai media tanah air, di samping terhimpun dalam antologi bersama dan pemenang lomba. Bukunya Pulau Cinta di Peta Buta (Jendela, 2003, kumpulan cerpen), Ziarah bagi yang Hidup (Mahatari, 2004, kumpulan cerpen), Parang Tak Berulu (Gramedia, 2005, kumpulan cerpen), Gugusan Mata Ibu (Bentang Pustaka, 2005, kumpulan puisi), Api Bawah Tanah (Akar Indonesia, 2013) Dan Kota-kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai (Akar Indonesia, 2019, kumpulan cerpen), Cerita-Cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan (Akar Indonesia, 2020, Kumpulan Carpen).

Bukunya yang lain, jelajah literasi (di) pulau buru, hasil residensi ke Maluku, diterbitkan secara terbatas oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jakarta (2018). Ia juga mengikuti resindensi yang diadakan Komite Buku National (2019) dengan memilih menyusuri wilayah pantai barat Sumatra dan Krui hingga Natal. Beberapa karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Swedia, Thailand, Portugal, Prancis, Mandarin, Malaysia, dan Wolio.

Penghargaan:
Sih Award 2005 dari Jurnal Puisi, Anugerah Sastra Horison 2005, MASTERA 2007(untuk buku Gugusan Mata Ibu) di Kualalumpur dan Anugerah Cerpen Terbaik Kompas 20018. Sekarang mengelola Komunitas Rumahlebah dan Lembaga Kebudayaan AKAR Indonesia yang pernah menerbitkan Jurnal Cerpen Indonesia dan rumahlebah ruangpuisi di Yogyakarta.

Selain itu, Raudal juga banyak terlibat dalam iven-iven besar, antaranya Festival Kesenian Yogyakarta, Kongres Cerpen Indo, Festival Musik Puisi Indonesia dan Temu Sastrawan Indonesia. Juga diundang sejumlah festival sastra, baik nasional maupun internasional.

Meski sudah lama di rantau (walau barangkali tidak lagi bisa disebut begitu) di pulau Jawa, kecintaan Raudal dengan tanah kelahirannya tak pernah pudar. Kecintaan tersebut Ia sampaikan lewat tulisan-tulisan, baik puisi, cerpen, dan esai. Lokalitas yang Ia tuangkan dalam tulisannya barangkali memang tak sepenuhnya soal kecintaan karena ia lahir di sana, tapi lebih dari itu kecintaan yang diutarakan juga lewat kritik. Begitu juga dengan pandangan-pandangan soal karya, beliau selalu terbuka kepada generasi-generasi, berdiskusi seputar keilmuan beliau, baik itu Sumatra Barat ataupun diluarnya. Karya-karya beliau sangat mudah kalian temui di mesin pencarian internet, tinggal ketik nama beliau saja. Salah satu karya beliau yang membekas dalam perjalanan membaca saya adalah tentang mitos-mitos kampung; Anak Gombak dan Pusar-pusar dua di kepala. Terlebih dalam dua buku beliau “Parang Tak Berulu dan Cerita-Cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan”. Tentu masih banyak lagi, mitos/kebiasaan/tradisi/sejarah/budaya dan lainnya. 


“NYARIS” WARTAWAN

Ada satu periode dalam dunia kepenulisan Raudal yang “nyaris” membuat ia jadi wartawan “benaran” (dalam arti berprofesi sebagai wartawan). Itu terjadi awal tahun 90-an ketika beliau duduk di bangku kelas satu SMAN 1 Painan di Salido.

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
  • Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025
Page 1 of 2
12Next
Tags: CerpenIndonesiaMarewaiPenulisProfilpuisiRaudal Tanjung BanuaSastraSastrawan

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Pelesiran: Ampiang Parak dalam Bayang-bayang Kejayaan Masa Lampau Sebagai Ibukota Bandar Sepuluh | Arif P. Putra

Pelesiran: Ampiang Parak dalam Bayang-bayang Kejayaan Masa Lampau Sebagai Ibukota Bandar Sepuluh | Arif P. Putra

Cerita Rakyat: Kali Mambu Mandirancan | Lely Nur Tachi

Cerita Rakyat: Kali Mambu Mandirancan | Lely Nur Tachi

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In