• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Thomas Elisa | Langgam Lama

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
11 September 2021
in Sastra
1.3k 67
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

LANGGAM LAMA

Di langgam lama namamu kembali berputar
Kisahmu lirih terurai bersama sore yang menua
Adakah batas henti untuk semua kisah masa silam?
Sedangkan kalender berulangkali memajang nama yang sama

Aku tahu tak seorangpun ingin tinggal dalam kenangan
Tak ada yang mau terperangkap pada malam yang tak berwarna
Dan berhenti dengan rupa yang sama serta senyum yang tak berbeda
Tetapi, adakah yang ingin menolak sebagian kenangan yang singgah datang?

Di langgam tua aku tahu engkau dan jutaan manusia lainnya telah pergi
Sementara aku dan jutaan manusia lainnya mendatangi lagi stasiun ingatan
Bukan untuk bertamu pada hari-hari pedih atau bulan penuh sumringah
Sebaliknya, aku ingin membuat sketsa wajah yang baru untuk cerita berikutnya

( Semarang, 2021)

RUANG SANG MAHA

(Terinspirasi Lirik Lagu Ruang Rindu)
Telah lama aku salah mencari letak ruanganmu
Aku mendatangi riuh rendah kota untuk mencarimu
Namun engkau tak di sana dan kini kota telah poranda
Aku lantas berlari ke gedung-gedung langit tinggi
Tetapi engkau tiada diantara gedung warna-warni dan kaca raksasa
Apakah aku sudah terlambat mengunjungimu?

Aku berjalan dan bertanya kepada sesiapa saja
Sayang tak ada kata dan denah tentang ruang keberadaanmu
Buku-buku telah diikat keegoisan dan manusia terkurung ruang maya
Dimana dan kepada siapa aku menemukan kunci jawabannya?
Dalam lelah dan perangkap maya aku memutuskan istirah
Menerima perjalananku yang tak sampai padamu

Kini kuputuskan dalam bimbang dan istirah
Untuk memilih terang dibandingkan warna maya
Dan lamat-lamat kudengar engkau berbisik
“Akulah makna apabila engkau melepas wujud dan bayang”
Inikah ruangmu Sang Maha?

Semarang, 2021

MENGEMAS PERJALANAN

Dalam ransel usang ini rindu melipat kabut di punggung
Gelap berjalan menjadi sinar lentera oleh kata kecil doa
Jarak berubah menjadi selembar peta dengan sejumput tabah
Dingin terbalut hangat oleh harum tanah kampung halaman

Tiada yang benar-benar jauh
Tak ada musim yang membuat merapuh
Bagi para rantau mengemas perjalanan
Adalah sebuah kecup nikmat keniscayaan 

Solo—Semarang


BIODATA PENULIS

Thomas Elisa, berasal dari kota Surakarta. Penulis juga telah menyelesaikan program Strata-1 di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) 2018 lalu. Karya terbaru penulis adalah novel fiksi anak berjudul Bangunnya Peri Merah (2017). Penulis mengajar di SMA Kolese Loyola  Semarang. Temui saya di Facebook: Thomas Elisa P



  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: BudayaCerpenEsaipuisiSabtuSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Cerpen Iswadi Bahardur | Jejak Tak Tercatat

Cerpen Iswadi Bahardur | Jejak Tak Tercatat

Maligi, Mozambik di Sumatra Barat

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In