• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Aris Setiyanto | Tidur Awal

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
4 September 2021
in Sastra
1.3k 66
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Tidur Awal

aku ingin tidur awal. tapi, tahu-tahu terhampar di altar kenduri, bersama seorang bapak yang menjejali mulutku dengan keretek. jangankan merokok, di sakuku saja telah tumbuh dedaun sereh. sejumput kecil sapi yang dimutilasi terus dibicarakan bapak-ibu sekalian. dari mana datangnya sawo ini? dari tuan rumah, tentu saja. jawab bapak. tapi, sosoknya menyayat hidung aku. meski menurut bapak, hanya jeruk yang menari-nari di hidung sesiapa. ketika aku ingat apapun, marigold ini menggenapi ruang rindu. aku ingin melupakan Udin, sebab telah disetubuhinya seluruh gunung, sementara Allah dijerumuskan dasar jurang. dan tangga-tangga menuju rumah Allah itu seperti salah satu gunung paling tinggi baginya.

Maguwo, 06 Juni 2021

Di Dalam Mimpi

tak akan aku melawan perasaan ini. sebab tak pernah ada tangan-tangan ikhlas yang membasuh lukaku. aku senantiasa di kamar ini, memintal mimpi-mimpi percuma. puisi-puisi yang telah lama dipusarakan sajak perpisahan. tatapi, Bapak, di dalam mimpi ini waktu abadi. sepagi, orang-orang menjelma aku. sedang aku ini, Bapak, adalah kebekuan hari. orang-orang mulai tak tahu bagaimana mereka harus memangkas masa. terduduk mereka, tertidur, bahkan ketika wanita bertopi jerami itu berwajah senja, menjelangi mereka. berdirilah, Bapak-Ibu sekalian. Allah telah melewati depan ruang persegi ini, Allah yang juga melihat Anda sekalian membohongi semesta bahkan diri Anda sekalian sendiri.

Maguwo, 07 Juni 2021

Kawan Sejatiku

kulihat parasmu sekejab. kawan sejatiku hanyalah kesepian, Bu. tak berkawan, seperti menjerumuskan diri ke dalam telaga yang baru saja dirasuki winter. seperti mengingat, seperti kerinduan. aku ingin merampas air muka bahagia pada wajah para pembohong ini. aku tunggu Tuan membuka pintu besi itu. membantingnya. yang aku temukan di sana selain Allah yang nongol pada setiap detik dan celah di antaranya, hanyalah berpasang-pasang sepatu. kita begini saja, sejak seminggu yang berguling-guling. wang-wang ini akan merangkak ke kantung kita, membernasi lambung kita tanpa pernah lagi mencakar ketenangan raga dan peluh berpuluh-puluh. dan wanita ini adalah Tuan yang baru, mustinya kau sembah titahnya.

Maguwo, 08 Juni 2021

Pekikan Malam

pekikan itu telah menangkis jantungku, sangat khawatir jika di ujung toa itu tersiar obituari. rupanya teriakan Bob. seperti daerah perbatasan, selalu terjadi peperangan. bahkan dari muasal pertikaian mungil. Bob menyetujui gencatan senjata ini, dan Emas melepaskan layar-layar tameng di langit-langit dukuhnya sendiri. seperti mungkin membernasi telinga dengan kebisuan saat keriuhan paling ramai disenadungkan Bob dalam kesumat yang lama dipendamnya dalam liang hati. nun, semilah kebencian-kebencian yang meniduri kesabaran Bob. meledak. ketika aku tilik langit malam, selain gemericik tetua dan Allah yang menabur bintang, tak kutemu apapaun. tiada apapun.

Maguwo, 06 Juni 2021

Amsal Gigil Telah Mencakar Lambung

amsal gigil telah mencakar lambung, ia pun berangsur bersungut. di seberang langit Allah ini telah terbit suuzan yang ketika ditemukannya secarik kunci terkafani dekapan antara kangkang dan dekapan paling erat, kegirangan bergumul dengan kekesalan batin dan meletus. pudarlah kemudian bayangan ihwal kebengisan buah-buah yang terlahir ke dunia. aku sembunyi kolong langit paling berkilau ini tetapi waktu tak pernah lagi rontok, malah rantingnya menelurkan dedaun detik yang baru. tak pernah aku jejaki kedai kopi, tempat di mana jejak-jejak sepatu saling bertumpuk. pada secangkir kopi, waktu-waktu selanjutnya melambat. ditemuinya kematian demi kematian, berpulangnya sendiri.

Maguwo, 08 Juni 2021


Penulis, Aris Setiyanto, Jawa Tengah. Karyanya termuat dalam beberapa antologi bersama; Progo 5 (2018), 20 Pesan Cerita Hebatkan Anak Indonesia(2019), Jazirah 2: Segara Sakti Rantau Bertuah(2019), Progo 6 (2020), Pringsewu Kita (2020), Desir Pesisir (2020), #DiRumahAja (2020), Gambang Semarang (2020), Nadjmi Adhani: Jalan Lapang Menuju Kebaikan (2020), Antologi Puisi Dukungan Gowes Literasi (2021), Refleksi-Resolusi (2021) dan Ini (bukan) Perayaan (2021).


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: BudayaCerpenPelesiranpuisiPunago RimbunSabtuSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Cerpen B. B. SOEGIONO | Nasib Anak dan Cucu Orang Berpartai Merah

Cerpen B. B. SOEGIONO | Nasib Anak dan Cucu Orang Berpartai Merah

Budaya: Lewat Rabab, Dialektika Terasah

Budaya: Lewat Rabab, Dialektika Terasah

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In