• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Pantangan Penghulu di Minangkabau | Yori Leo Saputra

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
1 Juli 2021
in Budaya, Berita Seni Budaya
4k 301
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Dalam adat Minangkabau seorang “penghulu” diibaratkan laksana “kayu rindang di tangah koto — ureknyo tampek baselo — batangnyo tempek basanda — dahannyo tampek bagantuang — daunyo perak asuaso — bungonyo ambiak kasuntiang — buahnyo buliah dimakan; tampek bataduah katiko hujan — tampek balinduang katiko paneh”. Kemudian, ada juga pepatah yang mengatakan bahwa “penghulu” adalah “pai tampek batanyo — pulang tampek barito — manyalasaikan nan kusuik — manjaniahkan nan karuah”. Secara bahasa, kata penghulu berasal dari dua kata, yaitu kata peng dan hulu. Kata peng mengandung arti pemegang dan bersifat kebendaan, sedangkan hulu adalah tangkai atau pangkal. Jadi, dapat diartikan bahwa penghulu adalah orang yang memimpin adat atau sebagai kepala adat.

Menurut Edison dan Dt. Sungut dalam Tambo Minangkabau Budaya dan Hukum Adat di Minangkabau, penghulu adalah orang pemegang hulu, atau pangkal dari segala-galanya. Dari definisi tersebut tampak jelas bahwa seorang penghulu ialah sebagai pemegang kekuasaan, sebagai pemimpin yang harus menjadi contoh dan panutan yang baik dalam keluarga, kaum, dan negeri.Selain pemegang kekuasaan, penghulu juga menjadi sumber perdamaian, kesejahteraan, dan pelopor dalam segala pembangunan.

Penghulu merupakan hulu dari pergerakan kemajuan dalam kaum dan juga menjadi hulu dalam nagari untuk beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. Pantang bagi seorang penghulu menjadi: Tungkek nan membawa rabah, Pasak nan mambuek lungga. Meskipun seorang penghulu mempunyai kedudukan dan martabat yang tinggi dalam kaumnya, hal ini bukan berarti seorang penghulu memiliki kekuasaan yang sewenang-wenang saja. Namun, ada beberapa pantangan yang harus dimiliki oleh penghulu, yaitu sebagai berikut:

1. Salah satu sifat rasul yang dimiliki oleh penghulu adalah siddiq dan tabligh. Siddiq berarti jujur atau berkata benar, sedangkan tabligh adalah menyampaikan. Kedua sifat ini wajib dimiliki oleh penghulu. Seorang penghulu tidak boleh lari dari kebenaran (jauh dari tindakan yang benar) dan tidak pelit terhadap ilmu pengetahuan yang dimiliki.

2. Marah adalah pantangan bagi penghulu. Khusunya, dalam kerapatan seorang penghulu tidak boleh memerahkan muka dan berkata kasar kepada pendengar, apalagi sampai menyinggung perasaan pendengar.

3. Penghulu pantang merubah lahir dan batin, mengandung dendam dan kesumat, menggunting dalam lipatan, dan tidak malu menahan jerat di muka pintu.Penghulu tidak boleh menghardik, melainkan harus bersikap lembut dan tenang, serta manis dalam bertegur-sapa.

4. Penghulu pantang memakai cabul, pantang mengganggu istri orang, dan tidak berpikiran kotor.

5. Penghulu tidak boleh menyinsingkan lengan baju, karena dianggap tidak sopan. 6. Penghulu harus senantiasa berpakaian sopan, karena penghulu adalah contoh teladan yang baik bagi anak kemenakan dalam adat.

7. Penghulu tidak boleh berdusta (omong besar), tidak sombong, dan tidak tekabur dalam hati.

8. Berlari, menjunjung, dan memanjat merupakan pantangan bagi penghulu, tujuannya untuk menjaga marwah dan kehormatan penghulu.

Nah, itulah beberapa pantangan yang harus dimiliki oleh penghulu. Tentunya patangan ini merupakan hal penting yang harus diketahui bagi masyarakat Minangkabau, terutama bagi penghulu. Semoga tulisan ini bermanfaat dan mencerahkan.


Sumber:
Edison, Marajo Sungut. 2010. Tambo Minangkabau Budaya dan Hukum Adat di Minangkabau. Bukittinggi: Kristal Media.
Manggis, M. Rasjid. 1985. Sejarah Ringkas Minangkabau dan Adatnya. Jakarta: Mitiara Offset.

Yori Leo Saputra merupakan seorang pria kelahiran 03 Agustus 1999 di Pale Koto VIII Hilir, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Saat ini, Ia sedang menempuh pendidikan S-1 di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Padang. Tulisan-tulisannya sudah pernah dimuat di berbagai media, baik itu media massa ataupun media siber seperti, Utusan Borneo Malaysia, Medan Pos, Singgalang, Cakra Bangsa, Scientia.id, Banaranmedia.com, Marewai.com, dan jurnalsumbar.com. Ia juga pernah melahirkan sebuah buku antologi puisi bersama David Dutu yang berjudul Tangis di Rantau. Medsos: Blogger: jurnalismuda03.blogspot.com dan WhatApps:085265782680.

— Marewai.com

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung - 16 Maret 2026
  • Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
  • Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
Tags: BudayaCaritoCerpenPelesiranpuisiPunago RimbunSastra

Related Posts

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Maret 2026

Ekosistem teater di Sumatera Barat, khususnya pada Maret 2025 ini, tampak seperti panggung yang lampunya padam sebelum pertunjukan dimulai....

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Oleh Redaksi Marewai
23 Februari 2026

Memasuki bulan Rajab, dapur-dapur rumah mulai dipenuhi aroma rempah, kunda pun siap dihidangkan. Sementara lantunan kalimat-kalimat Allah terdengar dari...

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Oleh Redaksi Marewai
15 Februari 2026

Sebanyak 61 siswa Kelas Nan Tumpah Akhir Pekan (Kelana Akhir Pekan) menggelar karya hasil pembelajaran Semester II (September–Desember 2025)...

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Oleh Redaksi Marewai
5 Februari 2026

Dua bulan setelah banjir bandang dan galodo melanda 16 kabupaten kota di Sumatera Barat, Komunitas Seni Nan Tumpah menggelar...

Next Post
Puisi-puisi Awawa Yogarta Prabaning Arka | Majenun

Puisi-puisi Awawa Yogarta Prabaning Arka | Majenun

Cerpen Faiq Haykal | Andai Saja Bapak Orang Baik

Cerpen Faiq Haykal | Andai Saja Bapak Orang Baik

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In