• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Rabu, Agustus 12, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Cerpen Robbyan Abel Ramdhon | Pertemuan di Kebun Binatang

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
18 April 2021
in Sastra
2.2k 23
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan


Namaku sudah “digaris” oleh negara, Ibu memberitahukannya padaku. Semua bermula ketika aku berusia empat tahun, saat bapak diangkut ke sebuah truk dan dibawa entah ke mana bersama banyak orang. Kata ibu, mungkin bapak sudah dibunuh atau dicuci otaknya lalu dibiarkan tersesat di tempat yang jauh dari jangkauan kami. Bapak dituduh sebagai komunis. Simpang siur kebangkitan komunis terus beredar, setidaknya demikianlah yang kudengar sampai sepuluh tahun sebelum Pak Harto diturunkan. Dan bapakku, adalah salah satu orang yang dituduh turut terlibat bersama komunis dalam rencana kudeta.
Setelah bapak diculik – ya, kami menganggapnya begitu – akhirnya ibu berinisiatif mengambil alih profesi bapak. Saban hari, ibu mencari peruntungan di kebun binatang. Kadang bernasib baik, tapi lebih sering sebaliknya. Bersaing dengan para tukang foto pria membuat ibu harus lebih berusaha keras.


Ibu sempat mengabadikan momen bersejarah ketika rombongan massa berhambur ke tengah kota untuk melakukan protes pada tahun 1998. Sekarang, kamera yang telah membantu hidup keluargaku itu sudah berada di tanganku. Tapi sedikit sekali momen yang bisa diabadikan lagi. Film kuhabiskan cuma buat menjepret pacarku. Setiap hari ia mengunjungiku, barang membawa makan siang atau sekadar melaporkan wajah murungnya.


“Tidak beli alat yang lebih canggih saja?” tanyanya suatu ketika.
“Jangankan membeli alat, biaya berobat ibu dan menabung untuk pernikahan kita saja semakin sulit,” jawabku mengiba.
“Tapi beberapa temanmu sudah mampu beli, kenapa kamu tidak?”
“Mereka itu yang sering menjepret rombongan dinas. Sedangkan aku tak punya kenalan di sana.”
Kemudian kalau sudah bosan mengobrol sambil melihat kendaraan melintas di jalan, sedih melihat betapa sepinya mesin cetak foto milik bersama, atau capai meladeni guyonan cabul para supir yang mengantar rombongan pengunjung, kami biasanya akan masuk ke dalam kebun untuk mencari kesenangan-kesenangan kecil.


*


Pertama-tama, kami pergi melihat kuda nil, kemudian monyet, kemudian buaya, kemudian kami lari ke bagian belakang mencari tempat berciuman. Tapi tidak dengan hari ini. Tempat yang biasanya kami gunakan sedang dipakai oleh pasangan remaja berseragam sekolah.
“Sepertinya kita sedang diikuti oleh seseorang,” pacarku berbisik.
“Benar kah?” tanyaku sambil menengok ke belakang.


Ternyata seorang pria berkepala gundul memang terlihat sedang mengikuti kami. Tubuhnya ramping seperti tidak suka makan. Mengenakan celana pendek selutut, dan kaus warna putih. Kami sengaja berjalan agak cepat dengan arah yang tidak menentu untuk membuktikan bahwa pria itu memanglah sedang mengikuti kami.
Setelah yakin betul bahwa pria itu benar-benar terus berada di belakang kami, aku langsung berbalik badan lantas bertanya pada pria yang menguntit itu: “Apakah bapak sedang mencari seseorang?”
Wajah pria itu mendadak menjadi kikuk sambil menghadap ke langit setiap kali kuajak bicara.
“Apakah bapak tersesat?” tanya pacarku.
“Saya mau dijepret,” kata pria itu menunjuk tas selempangku yang berisi kamera.
Aku dan pacarku cukup terkejut mendengar permintaannya.
“Tolong jepret saya. Tolonglah. Saya punya uang,” pria itu mengiba seraya mengais isi kantung celananya dan menunjukkan sejumlah uang.

Karena malas mencari perkara, lebih-lebih hari ini belum ada pemasukan, aku segera menyiapkan alatku. Pria itu mengajak kami berkeliling ke tempat-tempat yang sudah kami lalui sebelumnya: kandang kuda nil, kandang monyet, kandang buaya. Perilakunya menjadi sama sekali berbeda. Ketimbang sebelumnya, sekarang dia terlihat lebih ceria dan banyak gaya.
“Sebentar,” kata pacarku saat kami hendak beralih ke kandang ular.


Kami bertiga pun berhenti.
“Bapak, saya rasa bapak terlihat mirip dengan seseorang,” ucap pacarku pada pria itu. Pacarku mengernyitkan dahi. Meneliti wajah pria itu, lalu seakan menyadari sesuatu: “Benar! Kalian berdua terlihat mirip. Kenapa saya baru menyadarinya!”
Mereka berdua tertawa sementara aku merasa canggung dengan situasi ini. Meski aku juga mengakui, sekilas wajah pria itu tampak mirip denganku. Kalau saja aku gundul, pasti kami bakal dikira kembar. “Mungkin kebetulan saja,” kataku.


Setelah selesai dijepret, pria itu memberikan sejumlah uang padaku. Dia menguras isi kantung celananya: sejumlah uang yang terlalu banyak dari yang semestinya diberikan. “Ini terlalu banyak, Pak,” kataku sambil menghitung uang yang diberikannya.
Pria itu tersenyum, dan membalas: “Ambil saja semuanya. Berikan juga untuk ibumu di rumah.”
Pria itu pergi meninggalkan kami yang termangu. Dia berlari-lari riang sambil melompat seperti orang gila, lalu menghilang di antara kerumunan pengunjung.
“Kenapa pria itu pergi? Padahal fotonya belum dicetak,” kataku.
Pacarku hanya menggeleng.

***

Penulis, Robban Abel Ramdhon, adalah Cerpenis juga esais asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tulisan-tulisannya tersebar di berbagai media cetak dan daring. Kini mengelola Aroo Creative Space dan turut bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram.
Media Sosial: Robbyan Abel R (Facebook) / Robbyanabel (Instagram/Twitter)


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata - 4 Agustus 2026
  • Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata - 17 Juli 2026
  • Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung - 11 Juli 2026
Tags: ArtikelBudayaEsaiPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

Kata Ruang: Strategi Mendang-Mending dalam Puisi | Dandri Hendika

Kata Ruang: Strategi Mendang-Mending dalam Puisi | Dandri Hendika

Oleh Dandri Hendika
7 Agustus 2026

Antara guru kulit terang dan guru lokal sawo matang ada jenjang tak kepalang. Gaji guru sawo matang merangkak-rangkak seperti...

RUBRIK KATA RUANG

Oleh Dandri Hendika
7 Agustus 2026

Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung

Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung

Oleh Redaksi Marewai
11 Juli 2026

Pulang Kampung             Haris keluar dari bus angkutan antar kota. Langkahnya pelan menghentak seakan menumpahkan kekesalan di hatinya. Bagaimana...

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Kepada Shei

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Kepada Shei

Oleh Redaksi Marewai
26 Juni 2026

KEPADA SHEI Aku senang membayangkan hal-hal yang indah. Kubayangkan matamu menjadi rumah paling megah: tempat di mana lelah perlahan...

Next Post
Inspiratif: Membangun Icon Pariwisata Kabupaten Batu Bara, dengan Melestarikan Alam dan Mengentaskan Masalah Sosial

Inspiratif: Membangun Icon Pariwisata Kabupaten Batu Bara, dengan Melestarikan Alam dan Mengentaskan Masalah Sosial

Bangunan-bangunan Penanda : Usaha-usaha Pemerintah Merias Daerah

Bangunan-bangunan Penanda : Usaha-usaha Pemerintah Merias Daerah

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In