• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Suku Nan Ampek Palangai Tumpuan Niniak 60| Zera Permana

Zera Permana Oleh Zera Permana
29 Maret 2021
in Punago Rimbun
1.5k 15
0
Home Punago Rimbun
BagikanBagikanBagikanBagikan

Negeri Ujuang Darek Kapalo Rantau Alam Surambi Sungai Pagu, mancancang latiah (kerja dan usaha) ke negeri pesisir baruh mata angin untuk dijadikan bandar-bandar  kualo-kualo pelabuhan guna menyalurkan hasil bumi, memperluas tempat pertanian untuk keberlangsungan hidup, dan kekuasaannya.

Pada perjalanan itu terjadilah peristiwa antara Kerajaan Sungai Pagu dengan Kerajaan Indrapura. Raja Indrapura meminangkan anaknya dengan seorang putri dari Kerajaan Sungai Pagu. Berjalan dengan semestinya adat timbang tando kedua belah pihak dan memutuskan suatu ketetapan hari, bulan, tahun untuk melakukan acara “alek pernikahan”. Suatu janji, ketetapan dua belah pihak telah diputuskan. Hari berjalan demi hari, bulan berganti bulan, tahunpun berganti tahun. Tibalah masanya perjanjian dan ketetapan itu akan dilakukan.

Oleh Raja Indrapura diutus seorang pembesar dari Kerajaan Indrapura untuk meninjau kembali perjanjian “timbang tando” yang dahulu dilakukan. Pembesar itu bernama Rangkayo Karanggo Bagigi Basi, datang bersama pengiring dan kawan-kawanya. Setiba di Sungai Pagu, buah kata yang telah diterima dari Raja Indrapura disampaikan kepada Raja Sungai Pagu, ditingkek janjang ditapiak bandua, menyambah dan disampaikan buah kata dari Kerajaan Indrapura kepada Raja Sungai Pagu.

Mendengar sambah dan buah kata dari Rangkayo Karanggo Bagigi Basi, Raja Sungai Pagu, menolak buah kata itu, mengatakan perjanjian itu belum tepat pada waktunya, pun masih lama harinya sesuai ketetapan timbang tando dahulunya. Mendengar perkataan dari Raja Alam Surambi Sungai Pagu. Membuat hati Rangkayo Karanggo Bagigi Basi panas (naik darah) kemudian memutuskan untuk keluar dari rumah Raja Surambi Sungai Pagu.

Ketika Rangkayo Karanggo turun dari jejang dan tiba di halaman rumah, kemudian pada saat itu melihat anak dari Rajo Sungai Pagu, mau pergi mandi beserta dayang-dayangnya. Timbulah niat untuk menculik Puti dari Sungai Pagu. Disaat Puti sudah mandi didatangi oleh Rangkayo Karanggo Bagigi Basi, dipaksa dan dibujuk pergi bersama ke  Kerajaan Indrapura untuk melihat dan menemui kekasihnya di sana. Paksaan dan bujukan itu berhasil dan Puti (putri) dari Kerajaan Surambi Sungai Pagu berasil dibawa ke Kerajaan Indrapura.

Dayang-dayang dari seorang putri lalu bergegas untuk menyampaikan peristiwa yang terjadi. Mendengar perkataan dari dayang-dayang membuat hati Raja Sungai Pagu panas “ampeh mareh” (marah besar) dan memanggil pula seorang pembesarnya untuk menyerang Kerajaan Indrapura (Rangkayo Karanggo Bagigi Basi). Membawa kembali putrinya dari Kerajaan Indrapura. Keputusan itu dari Raja Sungai Pagu, membuat pembesar Kerajaan Sungai Pagu mengumpulkan (memanggil) seluruh pembesar-pembesar yang lain, dan pembesar-pembesar itu pun mengumpulkan hulubalang-hulubalang kerajaan beserta toboh-tobohnya.

Kemudian berangkat menuju Kerajaan Indrapura, melalui mendaki Bukit Musueh sampai kepada Bukit Pasikai-an, lalu dititi pematang bukit itu berjalan menepi beberapa bukit menuju ke barat baruh mata angin, maka sampai di Bukit Sikai kemudian diteruskan perjalanan ke baruh sampailah di Indrapura.

Pada saat sampai di Lubuak Obai, perperangan itu dikepalai oleh Rangkayo Karanggo Bagigi Basi, Hulubalang yang sangat kuat dan mempunyai benteng di Lubuak Obai yaitu di Bukit Kuda Tajun. Melihat kekuatan itu, Pembesar, Hulubalang-hulubalang  Sungai Pagu beserta toboh-tobohnya tidak sanggup menghadapi kekuatan dan beteng yang dikepalai oleh Rangkayo Karanggo Bagigi Basi sangatlah kuat. Memutuskan untuk kembali, di suatu perjalanan hendak kembali ke Kerajaan Sungai Pagu, pada sebuah bukit yang bernama Bukit Sikai (Lagan) Sikai dipenuhi air. sebagian kecil yang memutuskan untuk kembali ke Sungai Pagu, dan sebagian besar (Suku Malayu, Suku Tigo Lareh, Suku Kampai, Suku Panai) tidak mau kembali ke Sungai Pagu akibat malu tidak bisa melakukan tugas, dan ingin untuk membuat kampung dan ulayat bagi Kerajaan Sungai Pagu (memperluas Rantau) dan mendirikan kualo-kualo. Membuat Taratak di Bukit Sikai, Kayu Arang, sampai ke Lagan Kecil, Lagan Gadang dan Kampuang Akat.  

Referensi: Adat Monografi Nagari Palangai.

  • About
  • Latest Posts
Zera Permana
ikuti saya
Zera Permana
Redaksi Marewai at Media
Zera Permana
Salimbado Buah Tarok (Anggota Pusat Kajian Tradisi Salimbado Buah Tarok). Sekarang bekerja fokus di Serikat Budaya Marewai. Berasal Dari Nagari Sungai Pinang, Koto XI Tarusan Pesisir Selatan. Pengelola dan Penulis Tetap Rubrik "Punago Rimbun". Zera merupakan arsiparis muda manuskrip-manuskrip Minangkabau, selain fokus mengarsipkan manuskrip, Zera juga aktif berkegiatan dalam Alih Aksara dan Alih Bahasa. Salah satu manuskrip yang sudah terbit, "Kitab Salasilah Rajo-Rajo Minangkabau".
Zera Permana
ikuti saya
Latest posts by Zera Permana (see all)
  • Punago Rimbun: Indrapura Urat Tunggang Daulah Kesultanan Minangkabau – Zera Permana - 3 September 2025
  • Sejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan – Bagian 2 - 2 Oktober 2024
  • Seri Punago Rimbun: Sejarah Menepinya Raja Alam Surambi Sungai Pagu, Samsudin Sandeowano Setelah Penobatan di Pagaruyung - 26 September 2024
Tags: BudayaEsaiPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

Punago Rimbun: Indrapura Urat Tunggang Daulah Kesultanan Minangkabau – Zera Permana

Punago Rimbun: Indrapura Urat Tunggang Daulah Kesultanan Minangkabau – Zera Permana

Oleh Zera Permana
6 November 2025

Burek Tunggang Ka Karajaan Indopuro Lunang Bapucuak Bulek Di Minangkabau Pagaruyuang Bajulai si aka jambai, di Tepian Sungai Muara...

Sejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan – Bagian 2

Sejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan – Bagian 2

Oleh Zera Permana
6 November 2025

Seri Punago RimbunSejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan (Bagian 2) Maka...

Seri Punago Rimbun: Sejarah Menepinya Raja Alam Surambi Sungai Pagu, Samsudin Sandeowano Setelah Penobatan di Pagaruyung

Seri Punago Rimbun: Sejarah Menepinya Raja Alam Surambi Sungai Pagu, Samsudin Sandeowano Setelah Penobatan di Pagaruyung

Oleh Zera Permana
26 September 2024

Suatu waktu terjadi peristiwa di Alam Surambi Sungai Pagu, tiga orang pembesar; Raja Kampai Tuangku Bagindo, Raja Panai Tuangku...

Punago Rimbun: Hilangnya Keris Kesaktian Bunga Kesayangan | Zera Permana

Punago Rimbun: Hilangnya Keris Kesaktian Bunga Kesayangan | Zera Permana

Oleh Zera Permana
21 September 2024

Sumatra yang lebih dikenal dalam bahasa tradisi Pulau Perca, ujungnya Negeri Aceh pangkal hingga Lampung. Orang yang mendiami Pulau...

Next Post
AYIA ANGEK : WISATA SEHAT NAGARI MUARO PAITI

AYIA ANGEK : WISATA SEHAT NAGARI MUARO PAITI

Opini: Diferensiasi Sosial, Benarkah Menjadi Alasan Lambannya Kemajuan Era?| Inez Syawalytrie F

Opini: Diferensiasi Sosial, Benarkah Menjadi Alasan Lambannya Kemajuan Era?| Inez Syawalytrie F

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In