• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Alvida Maulida Bowo | Bangsa Roma Dan Mesir Kuno Yang Mencari Bunga

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
20 Maret 2021
in Sastra
1.5k 62
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Bangsa Roma Dan Mesir Kuno Yang Mencari Bunga

Seorang pohon yang tinggi, memangku
daun, jarum jam berayun-ayun. Para taruna pun, bertanya, “Untuk apa, Mesir kuno menghasilkan waktu?”
“Lalu, untuk apa, sebuah akhir diwujudkan?” tanya daun.

Taruna yang memiliki rasa penasaran yang tinggi, mencari bangsa Roma yang tengah mencari jari-jari Bunga raksasa. Dan taruna yang memiliki rasa penasaran yang tinggi,
Ah, angkaranya telah terwujud.

Dari 0—
Memakai sepatu ukuran dewasa—
untuk rebah di atasnya.
Dari 2, Mesir kuno
Menulis Bunga
: obat nyamuk.
Mereka, daun-daun

mengayun-ayunkan nyala. Taruna yang memiliki rasa penasaran tinggi,
ingin sepatunya memerdekakannya—
kata tiada, yang
tak pernah jumpa dengan
gelora.
Sejatinya Universitas Memiliki-Mu?

Seusai berdoa,
Tuhan, aku sudah salat, berdoa yang kuat-
kuat, deminya,
kehidupan setelahnya—

Menetap di University West Michigan,
yang tidak boleh menjadikan nyawa kertas
Ayolah, Bu. Aku tidak boleh mengabaikanmu. karena sejatinya hatiku, tidak
tenang, ingin cintaku belajar—napas
di otak. Ayolah, Bu.

Apakah kau setuju, dalam agama kita— *membuatkan
kue ulang tahun.
Dan merayakannya, bersama
api-Nya lilin

Aku Melihatmu,
Di Pub Konro-ya Di Bir Paling Murah

Pada zaman heian
Tetapi, masih tertampak pilihan-pilihan
Dalam dua terowongan, pintu-pintu hitam— tanpa kuketuki,
“Selamat malam, Nona,”

Adakah yang mau saya beri?
Tak apa yang terlebih dahulu,
kuminta

yang mengejutkanmu, mungkinkah tak apa, tetapi,
ada pun dari ketukanku— “Mungkinkah …
pagi yang akan menjadi pintuku?”

Pub Konro-ya, 12 Maret 2021

KAFE, KUCING

Di kafe, kucing, “Aku melihatnya, seperti balon— seperti batu
kepada batu, yang menjadikan sabar tidak jatuh, ke rumah
Yang tak menjanjikan, hujan,
kepada air yang menjadikannya batu,
kepada puncak gunung yang
bisa jadi sekitarnya

Di kafe,
kucing,
aku melihatnya
dia menyapaku,
bagai seorang
istriku
Memikul asma. Ia melaporkannya, seperti itu, “Dia itu mabuk agama! Dia itu
kucing jantan tanpa status duda.” Tetapi,
apakah dia seperti itu,

seperti tiada istri—
seperti tiada anak. Meskipun,
telah hujan—
mau tidak mau.


Alvida Maulida Bowo. Seorang gadis berusia 13 tahun, lahir di kota Malang, 19 Maret 2008. Tumbuh besar di kota Madiun. Terjun ke dunia sastra 8 bulan yang lalu. Bersekolah di SMPN 1 MEJAYAN.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: BudayaCaritoPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Cerpen Kiki Sulistyo | Noni Belanda

Cerpen Kiki Sulistyo | Noni Belanda

Opini: Balerong, Wadah Untuk Berdiskusi dan Bermunajat | Irwandi

Opini: Balerong, Wadah Untuk Berdiskusi dan Bermunajat | Irwandi

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In