• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Tonggak Kendali Penuh, Urusan Dalam Negrinya Alam Minangkabau | Zera Permana

Zera Permana Oleh Zera Permana
10 Maret 2021
in Budaya
1.6k 33
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan
Carano Kain Biludu

Minangkabau dikenal dengan negeri Ahli “kieh” (Kias) dan simbol-simbol yang sarat akan makna. Sebagai negeri atau sebuah rumpun budaya yang menganut Sistim Kekerabatan Matrilinial (yang bergaris keturunan kepada ibu). Tidak menapikan pula garis keturunan Patrilinial yang disebut di Minangkabau “urang badunsanak bapak” atau disebut juga Sanasab. Sebagai rumpun budaya yang disebut dengan Adat Alam Minangkabau yang telah menyatukan seluruh negeri-negeri di Minangkabau baik di daerah Inti Minangkabau “Luhak Nan Tigo” maupun daerah sebaran Adat Alam Minangkabau disebut rantau Hilir dan rantau Mudik sampai ke rantau semenanjung Malaysia (Negeri Sembilan). Di satukan dengan sebuah Sistim yang disebut Adat Alam Minangkabau. Yang tersusun dan tertata menjadi Jati Diri orang Minangkabau itu sendiri. Disebut dengan orang baradat, orang baradat itu bararti sudah mememakai Adat Alam Minangkabau. Yang telah merantang dari urat tunggang terhunjam ke bawah pitalo bumi sampai kepada batang yang disebut Tareh Batang dan berdaun, berdahan, beranting, dan berpucuk bulat cewang ke langit. Ke atas tahambun janti, ke bawah takasiak bulan.

Sebuah simbol yang amat dimuliakan di Minangkabau, simbol yang tidak dapat tidak ada. Apabila orang Minangkabau itu melakukan sebuah musyawarah, baik perihal adat maupun perihal agama, pencetusan undang-undang, limbago, ataupun yang mau memakai Adat Alam Minangkabau sendiri. Semuanya harus ada yang namanya “ Carano”. Sebuah alat pembatas, pelingkup, pemati, pemutusan, “buek-buek” (susunan dan aturan) di Minangkabau  disebut Adat Diisi Limbago Dituang.

Carano di Minangkabau merupakan Simbol sebagai Pancang Adat, Kato dari syarak. di simbolkan oleh carano, yang penuh dengan ornamen-ornamen pelengkap carano, ada yang memakai ornamen kain biludu gandum (Kain Dalamak Makah), ada juga yang dipakai kain kuriak ataupun batik, adat juga yang memakai kain suto, ada juga yang memakai cuma tirai dan anting-anting disebut dengan carano batilanjang. Dan tidak dipungkiri pula dengan isi dalam carano itu sendiri yang amat sakralnya oleh manyarakat Minangkabau pewaris tradisi, yang disebut Sirih, Pinang, Gambir, sadah, kemudian tembakau. Hal demikian wajib ada di dalam carano, begitu juga dengan carano yang terbuat dari baja ataupun logam kuning. Dibuat seperti cembung yang memiliki tangkai dan bertapak bergaris lingkar disekelilingnya. Simbol-simbol, makna yang terdapat pada carano, membutukan peran dan bimbingan dari orang-orang (Angku-angku) pewaris tradisi, untuk mencapai makna dan tujuan pemahaman akan simbol adat carano, yang penuh dengan ilmu-ilmu zahir maupun batin sebagai simbol marwah pemimpin, yang disebut dengan Syarak Khalifah dipermukan bumi, rahmat bagi seluruh alam.

Masyarakat tradisi Minangkabau mengatakan carano itu bungka dalam adat. merupakan sebuah alat pembatas sebuah perkara, ataupun membatas hal-hal yang dibicarakan, pokok permasalahan yang tidak boleh keluar dari jalur-jalur pembasan itu. Maka setiap acara-acara yang sakral di Minangkabau wajib menggunakan carano sebagai pancang lantak. Tatagak (terdiri) carano menandakan suatu perkara disitu sudah ada hukum, undang-undang pembatas yang telah ditentukan.  Makanya carano itu berdiri di atas adat dan limbago di Minangkabau. Sedang carano di Minangkabau  terdiri dari empat buah carano:Pertama Carano Bodi Caniago, Kedua Carano Koto Piliang, Ketiga Carano Batang Bangkaweh, yang Kelima Carano Pakauman.

Carano Sungai Pinang

Sedang di Rantau Kubung XIII, Nagari Bayang Nan Tujuah khusus Koto Barapak Bayang, carano dilambangkan sebagai Pancang adat.  Berjumlah tetap empat, dibungkus dengan kain Stola empat persegi, dan batik di dalamnya berbuhul sintak di atasnya. Bergitu juga dengan Nagari Sungai Pinang Koto XI Tarusan. Carano yang disebut “Bungka Adat” terdiri dari Carano Bapaluik dan Carano Batirai (Carano Batilanjang), jumlah dipergunakan tetap empat merujuk kepada carano awal berjumlah empat. Tetapi seiring berjalan waktu, pada zaman pergolakan “ijok” (PRRI) mendapatkan carano sayangatlah susah, maka diputuskan Cuma memakai hanya dua, sebagai simbol adat dan syarak. Dan carano batilanjang hanya dipergunakan untuk menanti tamu (acara pasambahan) dan beranak pisang disebut oleh Mayarakat Sungai Pinang babako.

Sedangkan carano bapaluik itu dipergunakan terkhusus dengan acara yang melibatkan Ninik Mamak dalam negeri harus berjalan dan berlega Carano Bapaluik. Carano yang berlega itu bapaluik kain cindai dibungkus dengan kain batik. Berikat segi empat, dibubul dengan buhul tampuk manggis, dibuhul sentak di atasnya ditambah dengan kain perca empat warna, dililit empat membuku, lilik kembali tiga membuku.

Carano Bayang, Koto Barapak

Disinilah pituah adatnya timbul yang amat disakralkan, dijunjung tinggi oleh masyarakat tradisi “Masaklah Padi Rang Singkarak, Masaknyo Tangkai-Batangkai, Satangkai Indak Bananhampo (mudo), Kabek Sabalik Sibuhua Sentak, Jarang Mungkaluek Kamaungkai, Tibo Nan Punyo Rarak Sajo. Begitu sebuah “kabek adat” ikat yang disebutkan dari papatah itu yakni Ikat  Adat Alam Minangkabau itu sendiri. Kabek Adat inilah pegangan selurah pembesar Minangkabau; Penghulu-penghulu yang seandiko, malin-malin yang sakitab, cadiak pandai yang sepiawai, ampanglima (dubalang) ampalimo yang sedarab. Dan Raja-raja yang sadaulat, Puti-puti yang Sunduik-basunduik, semua pembesar kerajaan, pucuk-pucuk bulat tiap-tiap negeri di Minangkabau. Memakai Adat dan limbago disebut “kabek adat” (ikatan adat), yang disimbolkan dengan carano.

  • About
  • Latest Posts
Zera Permana
ikuti saya
Zera Permana
Redaksi Marewai at Media
Zera Permana
Salimbado Buah Tarok (Anggota Pusat Kajian Tradisi Salimbado Buah Tarok). Sekarang bekerja fokus di Serikat Budaya Marewai. Berasal Dari Nagari Sungai Pinang, Koto XI Tarusan Pesisir Selatan. Pengelola dan Penulis Tetap Rubrik "Punago Rimbun". Zera merupakan arsiparis muda manuskrip-manuskrip Minangkabau, selain fokus mengarsipkan manuskrip, Zera juga aktif berkegiatan dalam Alih Aksara dan Alih Bahasa. Salah satu manuskrip yang sudah terbit, "Kitab Salasilah Rajo-Rajo Minangkabau".
Zera Permana
ikuti saya
Latest posts by Zera Permana (see all)
  • Punago Rimbun: Indrapura Urat Tunggang Daulah Kesultanan Minangkabau – Zera Permana - 3 September 2025
  • Sejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan – Bagian 2 - 2 Oktober 2024
  • Seri Punago Rimbun: Sejarah Menepinya Raja Alam Surambi Sungai Pagu, Samsudin Sandeowano Setelah Penobatan di Pagaruyung - 26 September 2024
Tags: BudayaPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

Oleh Redaksi Marewai
23 Januari 2026

Marewai—Kota Padang, 23 Januari 2025 STEVUNK berdiri pertengahan tahun 2025 di Padang. Memperkenalkan diri dengan lagu pertama berjudul ‘Batu...

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

Oleh Dewang Kara Sutowano
9 Januari 2026

Sebuah Cerita Panjang yang Sengaja Dicerai-Berai Namanya Bukit Atar, terletak tak jauh dari Batang Sinamar. Dari bukit itu terlihat...

PEREMPUAN: KECEMASAN GANDA DI TENGAH BENCANA | Andini Nafsika

PEREMPUAN: KECEMASAN GANDA DI TENGAH BENCANA | Andini Nafsika

Oleh Redaksi Marewai
27 Desember 2025

Banjir bandang (galodo) yang terjadi di tiga provinsi pada November lalu menyisakan luka menganga bagi banyak orang, kehilangan keluarga,...

CERMINAN KETAKUTAN WANITA YANG TERGAMBAR DALAM PUISI “DI SALON KECANTIKAN” KARYA JOKO PINURBO – Sabina Yonandar

CERMINAN KETAKUTAN WANITA YANG TERGAMBAR DALAM PUISI “DI SALON KECANTIKAN” KARYA JOKO PINURBO – Sabina Yonandar

Oleh Redaksi Marewai
24 Desember 2025

Ia duduk seharian di salon kecantikan. Melancong ke negeri-negeri jauh di balik cermin. Menyusuri langit putih biru jingga dan...

Next Post
Punago Rimbun: Langkah  Awal Jajakan Orang Rupik | Zera Permana

Punago Rimbun : Garuda Orang Eropid (Rupik) Bangsa Portugis Tengelamnya Kerajaan-kerajaan Pesisir Barat | Zera Permana

Puisi-puisi Arham Wiratama | Tiketnya Selalu di Saku

Puisi-puisi Arham Wiratama | Tiketnya Selalu di Saku

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In