• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Senin, Agustus 3, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Kembar Sejoli dan Tradisi Si Muntu

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
1 Oktober 2020
in Budaya
2.1k 136
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Tradisi perayaan anak kembar sejoli di Surantih, Pesisir Selatan, Sumatra Barat, merupakan sebuah tradisi yang dirayakan sejak lama, biasanya juga disebut masyarakat setempat dengan perayaan Anak Sumbang yang maksudnya ialah anak kembar yang lahir sejoli (lelaki dan perempuan). Tradisi ini merupakan salahsatu tradisi yang sanggup mengumpulkan banyak masyarakat untuk sebuah perayaan kelahiran anak. Tentu harus sesuai juga dengan aturan yang sudah dibuat para orang-orang terdahulu. Prosedur dari perayaan anak kembar sejoli ini adalah berkumpulnya masyarakat untuk ikut berkunjung atau biasa disebut babondong ke rumah induak bako lalu berjalan menuju rumah anak kembar lahir. Induak bako ialah saudara perempuan dari bapak. Sebelum mendatangi rumah tersebut, orang yang datang akan membawa pisang yang sudah direbus dan begitu juga sebaliknya dengan orang yang menanti di rumah kelahiran.

Saat iring-iringan berlangsung menuju rumah tempat anak kembar lahir, ada beberapa orang lelaki yang ditunjuk untuk memakai baju yang terbuat dari daun pisang, biasa disebut Si Muntu/baju kisiak. Sesampai di rumah tempat anak kembar lahir, orang-orang yang datang dari rumah induak bako tadi akan saling lempar pisang rebus atau yang biasa disebut masyarakat setempat parang pisang. Ritual ini dianggap masyarakat sebagai sebuah perayaan bahagian telah mendapatkan anak kembar.

Perayaan anak kembar sejoli ini tidak memakai waktu jeda atau isyarat berhenti, perang pisang rebus akan berhenti jika masyarakat sudah lelah atau kehabisan pisang untuk dilemparkan.  Kentara itu juga menjadi hari untuk anak-anak bermain dan berebut pisang rebus, sebab sebagian anak-anak, pasti akan lebih suka mengumpulkan pisang rebus untuk dimakan ketimbang ikut dalam perang pisang. Tradisi ini memang hanya dilakukan saat ada keluarga dari mereka melahirkan anak kembar sejoli saja, tidak dilakukan saat perayaan lainnya. Berbeda dengan tradisi lainnya yang bisa dilakukan diberbagai acara, seperti randai, bisa dilakukan saat perayaan acara pesta atau tarian-tarian khas daerah juga bisa dilakukan pada perayaan festival dan lainnya. Di Sumatra Barat,  perayaan simuntu juga ada dibeberapa daerah, misalkan Tanah Datar. Namun Perayaan Simuntu yang ada di Surantih, Pesisir Selatan hanya dilakukan saat adanya anak sumbang atau kembar sejoli.

Anak sumbang: sepasang atau sejoli

Si muntu: nama orang yang yang memakai baju dari daun pisang

Parang pisang: perang pisang

Induak bako: saudara perempuan dari bapak

Babondong: bergerombolan atau beramai-ramai

Tulisan ini saya ambil dari tradisi di Koto Baru, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Propinsi Sumatra Barat.

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Film: Drishyam 3: Daya Magis dan Aktor Flamboyan | Arif P. Putra - 26 Juni 2026
  • Cakap Film – KARA: Karakteristik Film Tamil dan Isu Terdekat Mereka - 2 Juni 2026
  • The Bluff: Priyanka Chopra dan Peran Keterasingannya dalam Cerita, Dendam dan Pembalasan Masa Lalu - 27 Maret 2026

Related Posts

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
17 Juli 2026

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung TeaterOleh: Irawan Winata Barangkali panggung memiliki ruhnya sendiri. Sedari awal ia dibentuk, dihiasi tata...

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Juli 2026

Kepergian seorang maestro teater selalu menyisakan kekosongan yang sunyi, sebuah luka mendalam yang menggetarkan panggung pertunjukan. Bagi dunia seni...

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
22 Juni 2026

Marewai-Padang, pada era digital yang efek negatifnya memahat kedalaman berpikir, sebuah oase literasi hadir di Kota Padang. Bertempat di...

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Oleh Redaksi Marewai
14 Juni 2026

Padang, 14 Juni 2026 — Rangkaian Kumpul IV telah berlangsung pada 5–7 Juni 2026 di Medan. Tiga kegiatan utama...

Next Post
Bukit Panjang

Bukit Panjang

Masjid Pahlawan Lumpo dan Zaini Zen: Sebuah Saksi Pengorbanan Sang Pejuang

Masjid Pahlawan Lumpo dan Zaini Zen: Sebuah Saksi Pengorbanan Sang Pejuang

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In