• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Mochammad Aldy Maulana Adha | Hikayat Budak Korporat

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
5 Juni 2021
in Sastra
1.8k 18
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Nostalgia; Renaissance

Ia mengingatkanku akan penulis-penulis jenius di masa lalu.
Ia memang terdengar dan terlihat seperti mereka,
setidaknya dari apa yang kubaca: Seseorang yang frontal,
sekaligus memikat dan mempesona secara intelektual.

Ia nampaknya adalah sebuah perwujudan—
Nilai-nilai di masa lalu yang begitu kukenang.
Meskipun, itu hanyalah ‘sebuah nostalgia untuk tempat yang belum pernah ku datangi.’

Namun di dalam dirinya—
aku melihat mimpi
dan gelora yang sama untuk meraih dunia yang lain—
dunia yang penuh dengan hasrat kebebasan—
dunia yang dimana sejauh ini
hanya bisa kutemukan di dalam buku-buku tua di perpustakaan,
atau di dalam lukisan-lukisan Renaissance.

(2021)

Omong Kosong itu Bernama Sapioseksual

dengan berapi-api kau berkata:
semakin penuh rak buku
maka semakin gampang
menaklukkan perempuan.
aku hanya tertawa.
terbahak-bahak. ha ha ha.
lalu melontarkan bahasa:
hey bung, kau ini dari
kota bodoh mana?
maksudku,
omong kosong apalagi ini?
apakah kau tak tahu
kalau perempuan zaman
kontemporer ini lebih suka
lelaki yang berdompet tebal
ketimbang yang berbuku tebal—
mampus kau dicabik-cabik
lampu-lampu diskotik,
dan kerat-kerat bir,
dan bondon-bondon lendir,
dan mertua-mertua
matre, dan pertanyaan-
pertanyaan matrimoni.
pungkasku kepadanya
dan kepadaku dalam hati.

(2021)

Hikayat Budak Korporat

sayang, kapitalisme
memang selalu
menampar muka lalu
menggurita. merantai kita.
dan kini, revolusi
tak lebih dari sekadar lulabi
namun ketika mayday
kembali bergema—
percayalah, kita akan
menelanjangi mentari
dengan gelak tawa:
beberapa gelas kopi v sixty;
rokok skm yang menguras
kantong di hari tua;
buku-buku kiri yang selalu
dibenci negara;
juga lagu kontra muerta
yang kuputar di sela-sela
liburku bekerja.
maaf bila senin
aku izin pamit lagi,
seperti biasa—
selama delapan jam sehari,
mengoyak-ngoyak waktuku
pada alat produksi
demi menyambung nasi.

(2021)

Negara Hangover

otak mereka
ternyata moron:
korsleting di sekitar neuron—
memerintah dengan jahanam
o bui dan godam
di lengan kanannya
seperti lintah darat
yang mendendam

tangan kiri-ku terluka
akal sehat-ku, trauma,
amigdala-ku terganggu—
negara ini
membuatku skizofrenia:
sedikit mania
setiap lima tahun sekali,
sisanya larut depresi

haloperidol!
halo tembaga
yang gelisah sampai
ia menjadi merkuri—
aku tak tahu
apa yang terjadi
pada nyanyian pohon
yang tumbang
di belantara sepi
ditebang tambang
diintai investasi

o di matanya, aku
memang bukan
seorang intelektual—
namun di mataku
negara ini
begitu komikal—
sepertinya,
terlalu komedi
untuk diseriusi.

(2021)

Hidup Hanya Melawan Kematian

Takdir melempar dirinya sendiri seperti dadu dalam permainan papan,
Lalu bersembunyi ditempat yang takkan pernah bisa ditemukan.
Waktu menggampar semua yang bernyawa dengan usia,
Sesekali hingga tak lagi bersuara dan bercahaya, bahkan di waktu yang tak terduga.

Hidup terlampau absurd untuk menampakkan mukanya.
Manusia, mengautopsi realitas semasa hidup dengan cahaya:
Mengharap cinta, di bawah ngarai yang nirmakna, di antara tebing keberadaan dan tebing kehilangan;
Semasih kematian mengasah mata pisaunya di atas matahari yang memancarkan angkara, bersama ingatan yang memudarkan.

O apakah kematian selalu mengharu birukan pesta kelahiran utopia?
O apakah kelahiran adalah karpet paling merah untuk menyambut kematian?
Dan kematian pun tiba-tiba menertawai jarum jam beserta waktunya yang fana.
Sewaktu kelahiran, menelanjangi gairah kematian akan puncak keputusasaan.

Mungkin, hidup hanya melawan kematian.
Namun, nyatanya, kematian memang harus dilawan.
Sebab hidup, hanya berujung pada satu titik yang bernama nanti sebanyak satu kali.
Dan bukankah hasrat untuk menghidupi hidup yang telah mati, tak pernah datang sebanyak dua kali?

(2021)




Penulis, Mochammad Aldy Maulana Adha lahir di Bogor, Jawa Barat—pada 27 Maret 2000. Bukunya: Timbul Tenggelam Philo-Sophia Kehidupan (2020); Timbul Tenggelam Spirit-Us Kehidupan (2020); Trias Puitika (2021). Pembaca yang suka menulis ini adalah penerjemah, kreator sekaligus kurator puisi, prosa dan cerpen. Dirinya, antara lain: [email protected]; instagram-@genrifinaldy; twitter-@mochaldyma

— Marewai.com

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: ArtikelCerpenEsaipuisiPunago RimbunSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Cerpen Wahid Kurniawan | Pada Sisa-sisa Waktu

Cerpen Wahid Kurniawan | Pada Sisa-sisa Waktu

Lestarikan Rabab Galuak, Disbud Provinsi Gelar Pendampingan

Lestarikan Rabab Galuak, Disbud Provinsi Gelar Pendampingan

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In