• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Wisata Lawas: Pantai Gunung Rajo, Sungai Sirah Pesisir Selatan

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
30 September 2020
in Pelesiran
2.2k 23
0
Home Pelesiran
BagikanBagikanBagikanBagikan

Marewai.com, destinasi wisata dalam artian luasnya adalah sebuah daerah tujuan wisata yang dapat disebut juga dengan destinasi pariwisata ialah kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administrasi yang di dalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesbilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya suatu tempat kunjungan wisata. Pesisir Selatan tidak diragukan lagi destinasi wisatanya, baik keindahan alam pegunungannya dan kelautan, walau tidak semua aspek tadi secara lengkap ada di setiap destinasi wisata. 

Salah satu tempat kunjungan wisatawan lokal daerah Pesisir Selatan (khususnya kec. Sutera dan Lengayang) mungkin tidak asing lagi dengan Gunung Rajo, tempat ini dari bagian utara berbatasan dengan pantai Samudera Pasar Surantih dan dari bagian Selatan berbatasan dengan Kampung Alai, Amping Parak. Untuk pengunjung yang ingin mendatangi lokasi Gunung Rajo, kawasan ini berjarak dari Kota Painan (Pusat Pemerintahan Kabupaten) sekitar 37 Km dan sekitar 2,5 Km dari Pasar Surantih perkiraan jarak tempuh sekitar 1 jam lebih dari Painan. Dari simpang jalan raya (belok kanak) untuk sampai ke Gunung Rajo hanya menghabiskan waktu kurang lebih lima menit, daerah ini bernama Sungai Sirah.

Poto: Tepi pantai sambil baca buku

Gunung Rajo barangkali sangat terkenal dengan batu mulia Kalimaya, batu Kalimaya yang terdapat di Gunung Rajo berbeda jauh dengan batu Kalimaya yang ada di Jawa, dia lebih mirip dengan batu Kalimaya Eropa. Bila di Jawa memiliki batu mulia Kalimaya yang begitu mencolok pada bagian warna dengan dasar batu hitam dan putih bening, lain halnya dengan batu Kalimaya yang ada di Gunung Rajo. Kalimaya Gunung Rajo memiliki warna khas, tidak semua batu yang ditemukan memiliki warna mencolok dan beragam. Bila Kalimaya Jawa lebih dominan dengan warna-warni yang dimunculkan, Kalimaya Gunung Rajo lebih dominan warna dasarnya yaitu putih susu. Tapi sebagian pecinta batu menyebutkan bahwa Kalimaya Gunung Rajo lebih eksotis, batu mulia yang hanya bisa ditemukan di Gunung Rajo itu biasanya menyuruk di dalam perut bebatuan gunung yang biasa digunakan masyarakat untuk membuat pondasi rumah. Terlepas dari unsur mistis yang masih dipercayai masyarakat setempat, bahwa Kalimaya dengan tujuh warna adalah batu mulia paling unggul di sana dan hanya orang terpilih yang bisa memilikinya. Warna pada batu itupun hanya mencolok terlihat ketika diterpa matahari, berbeda lagi dengan Kalimaya Jawa yang tidak perlu diterpa matahari tetap saja terlihat warna-warna yang mencolok, sehingga hal tersebut membuat sebagian pecinta batu kurang tertarik dan tak hayal juga dibilang batu obsidian/kaca. Saat ini tidak ada lagi aktivitas pencarian batu Kalimaya di Gunung Rajo.

poto: Kalimaya Gunung Rajo dan Kalimaya Banten

Selain batu mulianya yang tersohor itu, pantai Gunung Rajo juga memiliki bukit kecil yang berhadapan langsung dengan ombak Pesisir Selatan itu. Konon kabarnya ada sebuah cerita legenda Batu Kutu, batu yang berbentuk orang sedang mencari kutu. Namun akibat perubahan cuaca, batu tersebut sudah tidak utuh lagi. Batu Kutu ini dikisahkan masyarakat setempat sebagian kediaman satu keluarga yang kebiasaanya mencari kutu di setiap hari menjelang petang, sembari menunggu sang suami pulang melaut, ibu dan anaknya menghabiskan waktu mencari kutu dengan posisi menghadap ke laut. Tapi suatu waktu, saat matahari setengah tenggelam di badan laut, ombak besar datang dan menerpa mereka, sehingga mereka menjadi batu. Saya beranggapan ini hanya sebuah kiasan saja, bahwa tidak elok rasanya mencari kutu saat hari mulai gelap yang juga bertepatan dengan waktu magrib.

Poto: Tumpukkan bebatuan bagian bibir bukit (Bukan Batu Kutu)

Pada bagian bibir bukit kecil yang mengadahap ke laut memiliki tumpukkan batu indah, tempat ini memang jarang dikunjungi pendatang, selain warga setempat, pemancing dan siswa bolos. Pada bagian bibir bukit yang menghadang ombak ada tumpukkan batu menarik seperti disusun rapi layaknya sebuah karya seni pahatan. Namun disarankan untuk yang tidak tau medan jangan ke sana, banyak mitos-mitos pantangan dan kejadian aneh terjadi. Konon, jika pendatang baru sampai di bebatuan itu yang langsung menghadap ke laut lepas, ombak di sana bisa saja tiba-tiba besar dan ganas menghantam tebing.

Pantai Gunung Rajo memang sudah dikenal sejak lama, tempat ini dulunya sering mengadakan acara-acara musik saat perayaan-perayaan hari besar; Hari Raya ataupun hari peringatan lainnya. Tentu juga diwarnai beberapa peristiwa-peristiwa besar, seperti upaya masyarakat menghentikan pengambilan batu di Gunung Rajo, sampai hilangtimbulnya daya tarik pantai ini. Sampai sekarang pantai Gunung Rajo masih menjadi pilihan utama kunjungan masyarakat khusus Kecamatan Sutera. Pantainya masih menyimpan pasir putih yang bersih, karena warga setempat masih melakukan kegiatan sehingga masih bisa menjaga kebersihan pantai. Tempat ini cocok sekali buat kalian yang ingin bersantai dengan keluarga, susunan pohon kelapa membuat tempat ini teduh dan indah. Apalagi saat matahari tenggelam, bias kemerahan membayang dipipir pantai, pohon kelapa membentuk susunan bayangan. Kalian tinggal memilih, membuka baju lalu menemui asin air atau duduk manis melihat keindahannya.  

Poto: Suasana Matahari Tenggelam

Saya merekomendasikan untuk kalian yang ingin mengisi waktu luangnya ke sini sebagai alternatif karena situasi wabah masih belum pulih, tetap jaga kesehatan dan berhati-hatilah saat melakukan perjalanan, meski hanya dalam daerah.

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
  • Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025

Related Posts

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

Oleh Redaksi Marewai
10 Januari 2026

            Tanggal 10 Juni Mbak Ruth Priscilia menghubungi saya, menyampaikan pesan bahwa novel Leiden (2020-1920) lolos dalam kurasi Ubud...

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Oleh Redaksi Marewai
7 Desember 2025

Arah Tutur Padang dengan semua penghuninya larut bersama malam yang dingin dan lembap. Adam, yang masih bayi acap kali...

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

Oleh Redaksi Marewai
17 November 2025

Di tengah rimbunnya hutan lindung Rimbang Baling, di sebuah desa terpencil bernama Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten...

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Oleh Arif P. Putra
1 November 2025

Perjalanan-perjalanan satu dekade terakhir yang saya lakukan kerap menemukan keajaiban-keajaiban, barangkali sebelumnya belum pernah terpikirkan. Bahkan, sebagian dari tempat...

Next Post
Sebuah Cerita Tentang Dukun Padi di Pesisir Selatan. Oleh: Zera Permana

Sebuah Cerita Tentang Dukun Padi di Pesisir Selatan. Oleh: Zera Permana

Puisi-puisi Dafrika Doni

Puisi-puisi Dafrika Doni

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In