• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Warisan Budaya Takbenda Kabupaten Pesisir Selatan dan Regenerasi Pemiliknya

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
23 Juni 2021
in Budaya
1.2k 12
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Warisan Budaya Takbenda berarti praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan-serta instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang terkait dengannya-yang oleh masyarakat, kelompok, dan dalam beberapa kasus, individu diakui sebagai bagian dari warisan budaya mereka. Warisan budaya takbenda ini, ditransmisikan dari generasi ke generasi, terus-menerus diciptakan kembali oleh masyarakat dan kelompok sebagai tanggapan terhadap lingkungan mereka, interaksi mereka dengan alam dan sejarah mereka, dan memberi mereka rasa identitas dan kontinuitas, sehingga mendorong penghormatan terhadap keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia. Untuk tujuan Konvensi ini, pertimbangan akan diberikan semata-mata pada warisan budaya takbenda yang kompatibel dengan instrumen hak asasi manusia internasional yang ada, serta dengan persyaratan saling menghormati di antara masyarakat, kelompok dan individu, dan pembangunan berkelanjutan.

Kadang-kadang disebut warisan budaya hidup, dan diwujudkan antara lain dalam domain berikut:
Tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa sebagai wahana warisan budaya takbenda; Seni drama; Praktik sosial, ritual dan acara meriah; Pengetahuan dan praktik tentang alam dan alam semesta; Keahlian tradisional

Medio 2019 lalu setidaknya ada tujuh karya budaya dari Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat ditetapkan sebagai Warisan Budaya takbenda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada sidang penetapan yang digelar di Jakarta pada 13-16 Agustus 2019. Dimana 7 karya budaya tersebut adalah Babiola, Tari Benten, Tari Sikambang Manih, dan Tari Kain yang masuk ke dalam domain seni pertunjukan.

Selain 7 karya tersebut, ada tambahan tiga lagi yaitu; Anak Balam dan Badampiang masuk ke dalam domain tradisi dan ekspresi lisan. Sedangkan Patang Balimau masuk ke domain adat istiadat masyarakat, ritus dan perayaan.

Budaya-budaya tersebut tentu bukan semata menjadi daftar Warisan budaya saja. Lebih dari itu, budaya merupakan warisan turun-temurun bagi masyarakatnya sendiri yang harus dijaga dan dilestarikan, meski ia tidak secara resmi diakui pemerintah. Hanya saja kendalanya saat ini adalah, perkembangan budaya itu sendiri mangkrak, terdengar hilangtimbul.

Warisan budaya merupakan sebuah aset bagi suatu daerah yang patut dihidupkan, aset tersebut bisa menjadi daya tarik wisata atau terhindar dari kepunahan. Aset berupa warisan budaya takbenda adalah sesuatu yang diperagakan oleh manusia, bila budaya tersebut tidak berkembang secara turun-temurun, bisa dipastikan budaya itu bakal hilang-punah. Sangat disayangkan kalau budaya-budaya daerah hanya dikenal dari cerita saja, tanpa melihat praktik dan keberadaannya.

Sementara di Kabupaten Pesisir Selatan, dari warisan budaya takbenda di atas, hanya ada beberapa budaya saja yang masih bisa dijumpai. Maksudnya, budaya yang menjadi Warisan budaya takbenda Indonesia itu ada sebagian yang memang tidak disosialisasikan. Mengapa demikian? Karena tidak adanya generasi baru yang muncul sebagai penerus budaya itu sendiri. Misalnya, babiola, secara umum pemain babiola di Pesisir Selatan masih dilakukan/dipentaskan oleh tukang biola rentang umur 35 tahun ke atas. Ya, tentu tidak semua budaya di Pesisir Selatan yang demikian. Masih ada beberapa budaya tersebut yang telah berkembang dan dikenal kaum muda, seperti pertunjukan tari.

Namun terlepas dari kerumitan perkembangan budaya tersebut, masyarakat dan pemerintah memang berperan penting dalam persoalan ini. Wisata di Pesisir Selatan sudah begitu indah, pesona yang tak perlu diragukan lagi. Hanya saja dari banyaknya wisata di daerah bekas pedagang eropa ini, tak ada satupun yang pernah memberikan pertunjukan budayanya kepada wisatawan ataupun sebuah tempat, dimana wisatawan bisa mengunjunginya dan melihat berbagai arsip budaya tersebut, misalnya berupa foto, pakaian dan lainnya. Budaya tak cukup dengan pentas tahunan saja, kelas-kelas/sosialisasi/regenerasi adalah sesuatu hal yang diperlukan. Karena jika tidak ada hal tersebut, budaya hanya tinggal ota lapau saja. Atau seperti pameo orang berburu ciling, “ciliang lapeh, ota tingga.” (Arif P. Putra)

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
  • Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025
Tags: BudayaCerpenMarewaiPelesiranPesisir selatanpuisiSastra

Related Posts

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

Oleh Redaksi Marewai
23 Januari 2026

Marewai—Kota Padang, 23 Januari 2025 STEVUNK berdiri pertengahan tahun 2025 di Padang. Memperkenalkan diri dengan lagu pertama berjudul ‘Batu...

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

Oleh Dewang Kara Sutowano
9 Januari 2026

Sebuah Cerita Panjang yang Sengaja Dicerai-Berai Namanya Bukit Atar, terletak tak jauh dari Batang Sinamar. Dari bukit itu terlihat...

PEREMPUAN: KECEMASAN GANDA DI TENGAH BENCANA | Andini Nafsika

PEREMPUAN: KECEMASAN GANDA DI TENGAH BENCANA | Andini Nafsika

Oleh Redaksi Marewai
27 Desember 2025

Banjir bandang (galodo) yang terjadi di tiga provinsi pada November lalu menyisakan luka menganga bagi banyak orang, kehilangan keluarga,...

CERMINAN KETAKUTAN WANITA YANG TERGAMBAR DALAM PUISI “DI SALON KECANTIKAN” KARYA JOKO PINURBO – Sabina Yonandar

CERMINAN KETAKUTAN WANITA YANG TERGAMBAR DALAM PUISI “DI SALON KECANTIKAN” KARYA JOKO PINURBO – Sabina Yonandar

Oleh Redaksi Marewai
24 Desember 2025

Ia duduk seharian di salon kecantikan. Melancong ke negeri-negeri jauh di balik cermin. Menyusuri langit putih biru jingga dan...

Next Post
Puisi-puisi Afthon I.H. | Akasia

Puisi-puisi Afthon I.H. | Akasia

Cerpen Ramli Lahaping | Candu Teror

Cerpen Ramli Lahaping | Candu Teror

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In