• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Tugu Renville: Apa yang Patut Dikenang Dari Tugu Renville

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
20 November 2020
in Pelesiran
1.7k 18
0
Home Pelesiran
BagikanBagikanBagikanBagikan
Poto: Marewai.com

Pesisir Selatan, Marewai– Perjanjian Renville adalah perjanjian antara Indonesia dengan Belanda yang terjadi pada tanggal 18 Desember 1947 sampai 17 Januari 1948 di atas geladak kapal perang Amerika Serikat sebagai tempat netral USS Renville, yang berlabuh di Jakarta. Perundingan dimulai pada tanggal 8 Desember 1947 dan ditengahi oleh Komisi Tiga Negara, yang terdiri dari Amerika Serikat, Australia, dan Belgia. Perjanjian ini diadakan untuk menyelesaikan perselisihan atas Perjanjian Linggarjati tahun 1946. Perjanjian ini berisi batas antara wilayah Indonesia dengan Belanda yang disebut Garis Van Mook.

Pesisir Selatan menjadi daerah yang meninggalkan bukti perjanjian Renville tersebut, dengan berdirinya sebuah tugu di Nagari Siguntua/Siguntur. Peninggalan sejarah itu memang tampak seadanya, tahun ke tahun masih terlihat suram dan tertinggalkan. Tugu ini berada 32 kilometer dari Kota Padang, atau tepatnya di lima kilometer dari puncak batas Nagari Siguntua, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupatan Pesisir Selatan, Sumatra Barat.

Di Sumatra Barat setidaknya ada 2 tugu dari garis demarkasi yang dibuat oleh van mook, sebelah utara terletak di Lubuk Alung Kabupaten Padang Pariaman. Jika kita hendak menuju kota Bukittinggi sekitar 1 Km dari pasar Lubuk Alung akan menjumpai tugu tersebut di sebelah kiri sebelum jembatan. Tugu ini menjadi saksi bagaimana  kegilaan Belanda untuk menguasai Indonesia di masa lampau. Sedangkan di sebelah selatan terletak di nagari Siguntur Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan sekarang. Bila kita hendak menuju Pesisir Selatan yang dulunya sangat dikenal dengan negri sepuluh bandar atau Banda X yang sekarang diberi nama baru sebagai Negri Sejuta Pesona. Tugu ini terletak sebelah kanan kalau dari Padang, tugu renville ini berada di bawah lembah, dekat dengan kaki bukit di sepanjang jalan Pesisir Selatan sebelum menjumpai semenanjung pantai.

Meski begitu, sejarah tetaplah tinggal di masa lampau. Masa sekarang adalah sebagai pengingat supaya cerita di masa lalu tidak hilang-lenyap bersama gugurnya pejuang. Beruntung, bukti sejarah panjang itu masih berdiri kokoh di sana sebagai sebuah kenangan kelam ketakberdayaan moyang di masa lampau. Tentu saja situasi dulu dengan sekarang sudah berbeda dan tentunya untuk sekadar menjaga bangunan bersejarah itu bukan perihal sulit. Walau pada kenangannya Tugu itu adalah bukti sebuah perjanjian yang dibuat namun berakhir dengan peperangan besar dan tugu Renville di kawasan ini merupakan sejarah tentang kekalahan pasukan kita. Pasukan kita yang kala itu dipukul mundur dan tidak diperbolehkan lagi memasuki kota Padang, karena pada saat itu sudah dikuasai oleh Belanda.

Tapi poin sejarah bukan soal siapa kalah dan menang, siapa yang lemah dan kuat. Melainkan apa yang dapat diperbuat oleh generasi selanjutnya supaya sejarah tersebut tak hilang secara ingatan, meski generasi terus berganti. Lebih dari itu adalah kepedulian akan peninggalan sejarah, bukan semata lagu lama peringatan atau segelintir catatan pengisi kolom-kolom kumpulan sejarah. Pemerintah adalah salah satu tangan pertama yang harus memberikan pengetahuan tentang situs-situs sejarah daerahnya, mengenalkan kepada masyarakat pentingnya mengetahui sejarah di masa lampau.

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
  • Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025
Tags: BudayaPelesiranPunago Rimbun

Related Posts

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

Oleh Redaksi Marewai
10 Januari 2026

            Tanggal 10 Juni Mbak Ruth Priscilia menghubungi saya, menyampaikan pesan bahwa novel Leiden (2020-1920) lolos dalam kurasi Ubud...

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Oleh Redaksi Marewai
7 Desember 2025

Arah Tutur Padang dengan semua penghuninya larut bersama malam yang dingin dan lembap. Adam, yang masih bayi acap kali...

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

Oleh Redaksi Marewai
17 November 2025

Di tengah rimbunnya hutan lindung Rimbang Baling, di sebuah desa terpencil bernama Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten...

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Oleh Arif P. Putra
1 November 2025

Perjalanan-perjalanan satu dekade terakhir yang saya lakukan kerap menemukan keajaiban-keajaiban, barangkali sebelumnya belum pernah terpikirkan. Bahkan, sebagian dari tempat...

Next Post

Puisi-puisi Joni Hendri | Gadis Penjual Jamu

Cerpen Fahrul Rozi | Parang Putih

Cerpen Fahrul Rozi | Parang Putih

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In