Di halaman rumah, karib kerabat tampak telah siap mengantar marapulai pergi nikah. Jumlahnya banyak, misalnya teman sebaya, para sumando-sumandan, kaum ibu dan lainlain. Selangkah turun dari jenjang, salah seorang tetua (biasanya dari kaum ibu), mulai menyanyikan lagu dampiang. Tukang nyanyi itu mengambil tempat di posisi yang mudah didengar para pengantar marapulai.
Nyanyian yang disampaikan berisi tentang kegundahan hati ibu melepas anak laki laki berumah tangga, biasanya momen ini sangat melankolis sekali; sedih dan gembira bercampur aduk. Soalnya dari kecil hingga tumbuh dewasa ia dibesarkan dan dirawat, kini harus berpisah.
Kinantan nan panaiak kini ka pai, janjang nan indak ka baluluak lai.
Isi nyanyian itu juga mewakili kegundahan hati kawankawan sebaya, kerisauan hati dunsanak yang sejak kecil berada di sekitarnya. Anak yang dulu belia, tanggung jawab mamak dan kedua orang tua kini benar-benar berangkat, mengemban tanggung jawab yang sebenarnya seumur hidup, ibadah paling panjang manusia akhirnya ia bawa.

Lagu badampaing dinyanyikan dengan irama yang khas. Mendayu dayu, meratap dan menyayat hulu hati. Tak heran bila ibu kandung, kakak-adik si marapulai menangis berurai air mata mengenang kepergian anak itu. Ibu ibu lainnya biasanya akan berupaya menghibur hati sang ibu. Tentu bukanlah tangis kemalangan, melainkan tangis haru. Kawankawan sepermainan mengenang masa-masa bersama, bermain sedari kecil hingga remaja tak sanggup menahan haru momen tersebut. Tradisi ini sangat sakral.
Lalu rombongan mulai berjalan menuju rumah anak daro (bila jaraknya bisa ditempuh dengan berjalan kaki), di sepanjang jalan nyanyian dampiang itu juga tidak berhenti, bermacam-macam nada dan irama dilantunkan oleh pengantar mempelai pria. Sebagian bersorak “ayo dampiang”.
Sesampainya di halaman rumah anak daro, isi dan tema nyanyian dampiang tidak lagi seperti turun dari rumah mempelai pria dan di perjalanan tadi. Di sana tukang dampiang menyampaikan pesan dan nasihat kepada marapulai.
Pandai pandailah membawakan diri di rumah orang, berbicaralah merendah, usah berlaku sombong ditengah keluarga baru, sopan dan santun kepada dunsanak bini. Selain kepada marapulai, juga terdapat pesan untuk keluarga anak daro, bila anak ini salah tolong juga diajari.
Demikianlah tradisi badampiang yang ada di Kecamatan Sutera, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Barangkali ditempat lain tradisi ini juga ada, dengan cara yang berbeda atau sama pula. Tradisi ini akan dilaksanakan secara lengkap; dari turun rumah sampai ke rumah anak daro (bila jarak rumah anak daro itu dekat). Namun jika jaraknya jauh, biasanya ada bagian-bagian dari tradisi badampiang itu terpotong. Misalnya seperti nyanyian selama di perjalanan, karena rombongan pengantar marapulai kemungkinan membawa kendaraan sendiri.
Meski begitu, tradisi akan tetap hidup di kalangan masyarakat tradisional, masyarakat yang memegang erat adat dan tradisi nenek moyang secara turun temurun. Bagi mereka akan janggal bila proses tersebut dihilangkan, momen sakral dari proses pernikahan dari awal sampai akhir terkesan hambar, ada yang tak lengkap rasanya. Tapi tentu saja tradisi tersebut dilaksanakan atau tidak dipakai sudah melalui kesepakatan keluarga. Tradisi ini akan selalu hidup, meski di kalangan tertentu saja.
Untuk saat ini, tradisi Badampiang tidak sepopuler dulu lagi, pergeseran zaman yang kelewat maju ini membuat banyak prosesi-prosesi adat dan tradisi tertinggal, dengan alasan menghemat waktu atau tidak mau ribet. Basalemak pakau!
- Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
- Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
- Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025






Discussion about this post