• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Tradisi Badampiang: Momen Sakral Mengantar Mempelai Pria, Sutera, Pesisir Selatan

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
17 Juni 2021
in Budaya
1.7k 34
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Di halaman rumah, karib kerabat tampak telah siap mengantar marapulai pergi nikah. Jumlahnya banyak, misalnya teman sebaya, para sumando-sumandan, kaum ibu dan lainlain. Selangkah turun dari jenjang, salah seorang tetua (biasanya dari kaum ibu), mulai menyanyikan lagu dampiang. Tukang nyanyi itu mengambil tempat di posisi yang mudah didengar para pengantar marapulai.

Nyanyian yang disampaikan berisi tentang kegundahan hati ibu melepas anak laki laki berumah tangga, biasanya momen ini sangat melankolis sekali; sedih dan gembira bercampur aduk. Soalnya dari kecil hingga tumbuh dewasa ia dibesarkan dan dirawat, kini harus berpisah.

Kinantan nan panaiak kini ka pai, janjang nan indak ka baluluak lai.
Isi nyanyian itu juga mewakili kegundahan hati kawankawan sebaya, kerisauan hati dunsanak yang sejak kecil berada di sekitarnya. Anak yang dulu belia, tanggung jawab mamak dan kedua orang tua kini benar-benar berangkat, mengemban tanggung jawab yang sebenarnya seumur hidup, ibadah paling panjang manusia akhirnya ia bawa.

Sumber Foto: Wikipedia

Lagu badampaing dinyanyikan dengan irama yang khas. Mendayu dayu, meratap dan menyayat hulu hati.  Tak heran bila ibu kandung, kakak-adik si marapulai menangis berurai air mata mengenang kepergian anak itu. Ibu ibu lainnya biasanya akan berupaya menghibur hati sang ibu. Tentu bukanlah tangis kemalangan, melainkan tangis haru. Kawankawan sepermainan mengenang masa-masa bersama, bermain sedari kecil hingga remaja tak sanggup menahan haru momen tersebut. Tradisi ini sangat sakral.

Lalu rombongan mulai berjalan menuju rumah anak daro (bila jaraknya bisa ditempuh dengan berjalan kaki), di sepanjang jalan nyanyian dampiang itu juga tidak berhenti, bermacam-macam nada dan irama dilantunkan oleh pengantar mempelai pria. Sebagian bersorak “ayo dampiang”.

Sesampainya di halaman rumah anak daro, isi dan tema nyanyian dampiang tidak lagi seperti turun dari rumah mempelai pria dan di perjalanan tadi. Di sana tukang dampiang menyampaikan pesan dan nasihat kepada marapulai.

Pandai pandailah membawakan diri di rumah orang, berbicaralah merendah, usah berlaku sombong ditengah keluarga baru, sopan dan santun kepada dunsanak bini. Selain kepada marapulai, juga terdapat pesan untuk keluarga anak daro, bila anak ini salah tolong juga diajari.

Demikianlah tradisi badampiang yang ada di Kecamatan Sutera, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Barangkali ditempat lain tradisi ini juga ada, dengan cara yang berbeda atau sama pula. Tradisi ini akan dilaksanakan secara lengkap; dari turun rumah sampai ke rumah anak daro (bila jarak rumah anak daro itu dekat). Namun jika jaraknya jauh, biasanya ada bagian-bagian dari tradisi badampiang itu terpotong. Misalnya seperti nyanyian selama di perjalanan, karena rombongan pengantar marapulai kemungkinan membawa kendaraan sendiri.

Meski begitu, tradisi akan tetap hidup di kalangan masyarakat tradisional, masyarakat yang memegang erat adat dan tradisi nenek moyang secara turun temurun. Bagi mereka akan janggal bila proses tersebut dihilangkan, momen sakral dari proses pernikahan dari awal sampai akhir terkesan hambar, ada yang tak lengkap rasanya. Tapi tentu saja tradisi tersebut dilaksanakan atau tidak dipakai sudah melalui kesepakatan keluarga. Tradisi ini akan selalu hidup, meski di kalangan tertentu saja.

Untuk saat ini, tradisi Badampiang tidak sepopuler dulu lagi, pergeseran zaman yang kelewat maju ini membuat banyak prosesi-prosesi adat dan tradisi tertinggal, dengan alasan menghemat waktu atau tidak mau ribet. Basalemak pakau!

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
  • Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025
Page 2 of 2
Prev12
Tags: BudayaCerpenPelesiranpuisiPunago RimbunSastra

Related Posts

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

Oleh Redaksi Marewai
23 Januari 2026

Marewai—Kota Padang, 23 Januari 2025 STEVUNK berdiri pertengahan tahun 2025 di Padang. Memperkenalkan diri dengan lagu pertama berjudul ‘Batu...

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

Oleh Dewang Kara Sutowano
9 Januari 2026

Sebuah Cerita Panjang yang Sengaja Dicerai-Berai Namanya Bukit Atar, terletak tak jauh dari Batang Sinamar. Dari bukit itu terlihat...

PEREMPUAN: KECEMASAN GANDA DI TENGAH BENCANA | Andini Nafsika

PEREMPUAN: KECEMASAN GANDA DI TENGAH BENCANA | Andini Nafsika

Oleh Redaksi Marewai
27 Desember 2025

Banjir bandang (galodo) yang terjadi di tiga provinsi pada November lalu menyisakan luka menganga bagi banyak orang, kehilangan keluarga,...

CERMINAN KETAKUTAN WANITA YANG TERGAMBAR DALAM PUISI “DI SALON KECANTIKAN” KARYA JOKO PINURBO – Sabina Yonandar

CERMINAN KETAKUTAN WANITA YANG TERGAMBAR DALAM PUISI “DI SALON KECANTIKAN” KARYA JOKO PINURBO – Sabina Yonandar

Oleh Redaksi Marewai
24 Desember 2025

Ia duduk seharian di salon kecantikan. Melancong ke negeri-negeri jauh di balik cermin. Menyusuri langit putih biru jingga dan...

Next Post
Puisi-puisi Diego Alpadani | Si Gadih Itu Lulu

Puisi-puisi Diego Alpadani | Si Gadih Itu Lulu

Cerpen Romi Afriadi | Sudahkah Kau Menghapus Nomor Teleponku Dari Teleponmu?

Cerpen Romi Afriadi | Sudahkah Kau Menghapus Nomor Teleponku Dari Teleponmu?

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In