• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Sisampek: Tradisi Nasi Lamak Kuning Dalam Acara Pernikahan di Pesisir Selatan | Melany Marza

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
21 Desember 2020
in Budaya
2.9k 154
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan
Poto: Melany Marza

Tradisi merupakan suatu kebiasaan adat turun-temurun dari nenek moyang yang masih dijalankan sampai saat ini, tradisi juga sebuah kebudayaan yang berada di sebuah daerah. Meski berada dalam satu kesatuan (Indonesia-Minangkabau), tapi hampir di setiap daerah memiliki tradisi atau kebudayaannya masing-masing. Begitu juga yang ada di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Tradisi dalam acara pernikahan setiap daerah memiliki beragam proses, salah satu yang unik dari proses tersebut ialah “Sisampek”. Pada tulisan ini Sisampek diambil dari Kecamatan Ranah Pesisir, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat.

Tradisi kebudayaan Sisampek adalah salah satu kebudayaan dan tradisi acara pernikahan di Kecamatan Ranah Pesisir, Kabupaten Pesisir Selatan yang masih ada sampai saat ini. Kegiatan adat yang berlangsung setelah akad bahkan ada juga setelah resepsi, kegiatan tersebut diadakan tergantung tuan rumah atau yang memiliki acara pernikahan tersebut. Sisampek sendiri adalah nasi lamak (ketan) yang berwarna kuning yang terbuat dari beras ketan berbentuk gunung, di dalamnya ada 1 potong ayam utuh yang sudah diberi bumbu dan sudah dimasak. Kemudian dibungkus atau diselimuti dengan nasi lamak yang berwarna kuning tersebut berbentuk seperti gunung. Sisampek atau nasi lamak kuning tersebut dibagi menjadi 6 bagian, di setiap pembagian Sisampek tersebut juga ada maknanya tersendiri.

Bagian di dalam Sisampek atau bagian ayam utuh itu memiliki makna tersendiri, seperti jika mendapatkan bagian leher bermakna menikmati hasil dari pasangannya, bagian paha maknanya kuat mencari nafkah atau bisa menafkahi, bagian sayap maknanya yaitu yang mendapatkannya membawa atau dibawa merantau —atau juga bisa diartikan dibawa jauh untuk mencari nafkah –atau menjalani kehidupan, dan yang terakhir bagian dada maknanya adalah selalu menyimpan rezeki.

Acara ini dilakukan di atas pelaminan oleh mempelai wanita dan pria yang disuguhi Sisampek tersebut, dan Sisampek akan diputar sebanyak 7x lalu mempelai pria mengambil bagian mana yang mau di ambil secara acak. Mempelai pria disuruh mengambil (nasi lamak) tersebut secara acak dengan bagian yang dipilihnya, setelah diambil nanti Sisampek (nasi lamak) tersebut akan bolong di bagian luarnya, jadi bisa tau bagian apa yang didapat mempelai pria dari bagian ayam tersebut. Lalu Sisampek yang sudah diambil tadi disuapi ke mempelai wanita, dan begitupun sebaliknya mempelai wanita juga mengikuti cara yang dilakukan mempelai pria sebelumnya. Biasanya acara ini merupakan salah satu acara gembira dalam acara pernikahan, bisa menjadi candaan para kerabat dan keluarga.

Poto: Melany Marza

Meski begitu, Sisampek hanyalah sebuah tradisi yang diwarisi secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat Ranah Pesisir, Pesisir Selatan. Tentu ada pesan-pesan penting dari proses tersebut, tapi tidak mutlak untuk dijadikan sebuah patokan dalam kehidupan berumah tangga. Dalam poto, tradisi Sisampek dilakukan saat muanta Induak Bako atau saat kedua mempelai diarak dari rumah ayah (mempelai wanita) ke lokasi acara.


Melany Marza, Mahasiswa Fotografi ISI Padangpanjang bisa dijumpai di akun media sosialnya: @melanymarza16 dan galerinya @mz_galery.


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung - 16 Maret 2026
  • Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
  • Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
Tags: BudayaCaritoPunago RimbunSastra

Related Posts

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Maret 2026

Ekosistem teater di Sumatera Barat, khususnya pada Maret 2025 ini, tampak seperti panggung yang lampunya padam sebelum pertunjukan dimulai....

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Oleh Redaksi Marewai
23 Februari 2026

Memasuki bulan Rajab, dapur-dapur rumah mulai dipenuhi aroma rempah, kunda pun siap dihidangkan. Sementara lantunan kalimat-kalimat Allah terdengar dari...

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Oleh Redaksi Marewai
15 Februari 2026

Sebanyak 61 siswa Kelas Nan Tumpah Akhir Pekan (Kelana Akhir Pekan) menggelar karya hasil pembelajaran Semester II (September–Desember 2025)...

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Oleh Redaksi Marewai
5 Februari 2026

Dua bulan setelah banjir bandang dan galodo melanda 16 kabupaten kota di Sumatera Barat, Komunitas Seni Nan Tumpah menggelar...

Next Post
Fenomena Retorika: Sebuah Seni Berbicara dan Perkembangannya di Masyarakat

Fenomena Retorika: Sebuah Seni Berbicara dan Perkembangannya di Masyarakat

Yuang Sewai: Mancucuak Ulang | Rori Aroka Roesdji

Yuang Sewai: Mancucuak Ulang | Rori Aroka Roesdji

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In