• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Maret 25, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Secarik Kertas: Upaya Rekonstruksi Keadaan Sosial yang Tanggung | Arif P. Putra

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
14 September 2021
in Berita Seni Budaya, Budaya, Resensi
1.5k 46
0
Home Budaya Berita Seni Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan
Poster Resmi Secarik Kertas

Judul: Secarik Kertas
Cerita oleh: R. Surya Putra, Revo Bramasta, Aldo Mandala Putra dan Prengki Adinata
Sutradara: R. Surya Putra
Dibintangi oleh:
Revo Bramasta – Rafki
R. Surya Putra – Zoni
Rahma Fitri – Rosi
Del Sutriwati – Ibu Sinta
Okky M Dany – Reza

Durasi: 55 menit

Bahasa: Indonesia & Lokal (Inderapura)

Secarik Kertas merupakan film bergenre drama. Film ini mengambil latar tempat keseluruhannya di Inderapura, Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Secarik Kertas telah rilis resmi sebulan yang lalu di Inderapura, dengan dua hari pemutaran di gedung serbaguna Inderapura. Film ini mengisahkan seorang perempuan yang terjangkit penyakit HIV/AIDS. Penyakit yang diderita oleh Rosi nampaknya menjadi konflik utama dalam film ini, menyiratkan pesan moral bagaimana situasi lingkungan yang begitu mencengangkan; fungsi keluarga, masyarakat dan pemuka adat.

Bagian menarik dari film yang saya ingat ada saat adegan perundingan mamak dan keluarga Rosi, bagaimana berang mamak terhadap ponakannya. Percakapan yang barangkali sering terjadi, seperti dialog Wali (pemeran), “sebaiknya ponakan itu dijenguk, paling tidak sekali seminggu. Jangan ketika ada masalah marah-marah tidak jelas, sedangkan kerabat sendiri tidak diperhatikan”, kira-kira begitu. Bagian ini terkesan buru-buru dan ragu, padahal di adegan ini pemeran nampak tidak canggung dan kaku. Terlebih mereka menggunakan bahasa lokal. Atau mungkin yang ingin disampaikan pada film ini bukanlah persoalan konflik yang sedang terjadi, melainkan semata-mata kisah/cerita dari tokoh utama.

Beberapa adegan dalam film memang nampak sedikit canggung dan terkesan ragu-ragu. Misalnya pada bahasa (Indonesia-bahasa lokal: bukan minang), atau bagian-bagian kecil misalnya tentang pemeran yang menyebabkan tokoh utama terjangkit penyakit. Pemeran dokter tersebut terkesan abu-abu, tiba-tiba hadir dan mengakui perbuatannya. Selain itu, alur dan plot cerita yang terkesan garing –maju-mundur yang ditayangkan nampak membosankan. Bagi penonton yang menyukai film drama, ini akan sangat menguras tenaga untuk menunggu klimaks film. Tapi malah terbentur pada cerita yang datar, konflik seakan tempelan belaka. Jika kilas balik begitu panjang dan lama, mengapa tidak dijadikan satu alur/latar/plot saja?

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan, film Secarik Kertas patut diapresiasi. Tentu pembuatan film ini bukanlah perkara mudah, ditambah lagi bagi mereka yang baru mencoba terjun ke dunia perfilman ataupun seni peran secara serious.

Meski begitu, film ini juga memiliki sisi lain yang patut diperhitungkan, bukan perihal tubuh film, melainkan upaya dan kreatifitas anak-anak muda di daerah yang mau mendedikasikan karyanya untuk kampung halaman. Bukan melulu soal eksistensi dan pencarian panggung semata. Di Pesisir Selatan, pembuatan film baik dokumenter, film pendek, ataupun lainya, terbilang sedikit. Jikapun ada, itu hanya dinikmati segelintir orang saja. Tetapi berbeda dengan film Secarik Kertas, film ini ditayangkan sebagai tonton masyarakat selama dua hari, kemudian ditayangkan melalui chanel Youtube yang sudah dirilis minggu lalu. Selain menjadi konsumsi masyarakat lokal, film ini juga dapat ditonton oleh masyarakat luas.

Ulasan ini dibuat lebih sederhana, bukan seutuhnya tentang ulasan film secara mendalam. Hanya sebuah apresiasi untuk kawan-kawan yang bersitungkin menghasilkan karya dan menyediakan ruang bagi masyarakat menikmatinya. Salut. Saya tau betul bagaimana sulitnya menghasilkan sebuah karya dalam bentuk film, apalagi di daerah. Bagi pembaca, saya menyarankan setelah membaca ulasan singkat ini untuk menonton film Secarik Kertas. Sudah tersedia di youtube resmi IPC TV Official.

Selamat kepada kawan-kawan di Inderapura yang ikut serta dalam pembuatan film ini, terus berkarya dan berproses. Mantap!

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Amangkurat Cinta Semerah Darah: Kelindan Asmara dan Kekuasaan yang Berdarah Mataram - 5 Februari 2026
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
Tags: BudayaResensiSastra

Related Posts

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Maret 2026

Ekosistem teater di Sumatera Barat, khususnya pada Maret 2025 ini, tampak seperti panggung yang lampunya padam sebelum pertunjukan dimulai....

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Oleh Redaksi Marewai
23 Februari 2026

Memasuki bulan Rajab, dapur-dapur rumah mulai dipenuhi aroma rempah, kunda pun siap dihidangkan. Sementara lantunan kalimat-kalimat Allah terdengar dari...

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Oleh Redaksi Marewai
15 Februari 2026

Sebanyak 61 siswa Kelas Nan Tumpah Akhir Pekan (Kelana Akhir Pekan) menggelar karya hasil pembelajaran Semester II (September–Desember 2025)...

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Oleh Redaksi Marewai
5 Februari 2026

Dua bulan setelah banjir bandang dan galodo melanda 16 kabupaten kota di Sumatera Barat, Komunitas Seni Nan Tumpah menggelar...

Next Post
Pengembangan Desa Wisata sebagai Aktivitas Positif Pemuda Desa untuk Mencegah Penyebaran Narkoba

Pengembangan Desa Wisata sebagai Aktivitas Positif Pemuda Desa untuk Mencegah Penyebaran Narkoba

Puisi-puisi Ade Faulina | Tak Usah Berlari

Puisi-puisi Ade Faulina | Tak Usah Berlari

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In