• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Pusar Dua di Kepala/Uyeng-uyeng: Mitos yang Berkembang Secara Turun-temurun Sebagai Peternak Beruntung

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
12 Januari 2021
in Esai
2.2k 118
0
Home Budaya Esai
BagikanBagikanBagikanBagikan

Marewai.com— Ada beberapa anak yang lahir dengan dua pusar kepala atau biasa di sebut uyeng-uyeng, memiliki dua pusar di kepala kadang dimitoskan mempunyai sifat yang nakal atau cerdas nantinya.
Pada dasarnya unyeng-unyeng atau pusar kepala ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan sifat sang anak dikarenakan pusar kepala tersebut sudah muncul sejak lahir, namun mitos tersebut masih berkembang sampai saat ini.

Berbeda dengan mitos yang ada di Pesisir Selatan, Sumatera Barat mengenai pusar dua di kepala ini. Di daerah Pesisir Selatan, anak yang memiliki dua pusar di kepalanya identik dengan anak yang memiliki hoki/keberuntungan apabila ia beternak.

Biasanya orang-orang menyebutnya dengan “pangambang/pengembang” ini dipercayai masyarakat sebagai sebuah anugerah. Tak ayal banyak masyarakat memercayai ternaknya untuk digembala si anak yang memiliki pusar dua di kepalanya, dengan sistem bagi hasil.

Tentu kepercayaan semacam itu bukan muncul saat ini saja, bila di daerah lain mempunyai dua pusar di kepala identik dengan sifat nakal, nah, di Pesisir Selatan pusar dua di kepala identik dengan kebaikan/pembawa keberkahan. Tidak dipungkuri lagi, masyarakat Pesisir Selatan pada umumnya juga memiliki hewan ternak seperti kerbau, sapi, ayam, kambing dan lainnya. Saya jadi teringat tulisan sastrawan Raudal Tanjung Banua yang berasal dari Pesisir Selatan, berjudul “Ranah Berkabut, dalam bukunya Parang Tak Berulu, 2005, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta”.

“Maka kemudian Upik tidak disekolahkan, berbeda dengan kakaknya Kandik yang hanya berpusar-pusar satu, disekolahkan hingga ke sekolah tentara. Sejak belia Upik sudah disuruh menggembalakan ternak milik keluarga dan juga tetangganya. Ternaknya memang membiak banyak. Tapi Upik menderita karenanya, terlebih ayahnya suka menjual ternak sembarangan untuk berjudi, begitu juga kakaknya.”

Memiliki pusar dua di kepala atau Uyeng-uyeng juga menjadi sebuah tekanan bagi orangnya, sebab masyarakat lebih dulu memercayai bahwa ia kelak akan memiliki banyak ternak dan mudah berkembang biak –apa saja yang digembalakannya. Bila ternak yang digembalakan tidak berkembang sesuai kepercayaan pemilik, maka si anak yang memiliki uyeng-uyeng tadi akan menjadi bahan umpatan.

Kepercayaan ini sudah ada sejak lama, menjadi sebuah cerita tahayul bagi sebagian orang. Ada pula menilai hanyalah bagian dari mitos untuk membuat si anak pemilik uyeng-uyeng lebih rajin dalam mengembala ternak. Karena dahulunya masyarakat hanya berprofesi sebagai petani dan peternak. Nah, bagi mereka yang mendapatkan anak pusar dua, maka disimbolkan sebagai salah satu anugrah yang dapat membantu meringankan pekerjaannya. Padahal dapat anak saja sudah anugrah. Contoh dalam sebuah kutipan ela-ela ibu-ibu saat meninabobokan anaknya.
“ooo… Lalok la nak lalok…
ndak usah manangih juo, bia capek gadang, bisa manolong ayah jo amak…”
Mantap!

Uyeng-uyeng atau pusar dua di kepala adalah bagian dari kepercayaan masyarakat tradisional, mereka memercayai tanda-tanda lahir yang sudah menjadi suratan dari ilahi sebagai sebuah karomah. Ini telah menjadi kebiasaan turun temurun, kepercayaan yang berkembang secara lisan. Aissh… Sudah kito

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: BudayaCaritoPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

Literasi yang Tak Masuk Akal, tapi Masuk Anggaran & Literasi yang Masuk Akal, tapi Tak Masuk Anggaran | Robby Wahyu Riyodi

Literasi yang Tak Masuk Akal, tapi Masuk Anggaran & Literasi yang Masuk Akal, tapi Tak Masuk Anggaran | Robby Wahyu Riyodi

Oleh Redaksi Marewai
6 November 2025

Literasi yang Tak Masuk Akal, tapi Masuk Anggaran & Literasi yang Masuk Akal, tapi Tak Masuk Anggaran | Robby...

Syekh Yahya Al Khalidi, Mursyid Tareqat Naqsabandiyah Al Khalidiyah dari Nagari Panjua Anak (1857 – 1943)

Syekh Yahya Al Khalidi, Mursyid Tareqat Naqsabandiyah Al Khalidiyah dari Nagari Panjua Anak (1857 – 1943)

Oleh Redaksi Marewai
11 Mei 2025

Oleh Al Fikri Mahasiswa Hukum Tata Negara UIN Imam Bonjol Padang Di balik megahnya Nagari Magek hari ini, tersimpan...

Gairah Literasi dan Dunia Baca Anak Muda | Muhammad Nasir

Gairah Literasi dan Dunia Baca Anak Muda | Muhammad Nasir

Oleh Redaksi Marewai
20 April 2025

Gairah Literasi dan Dunia Baca Anak MudaOleh: Muhammad Nasir (Penyuka Buku/Dosen UIN Imam Bonjol Padang) Di Ranah Minang, tradisi...

Esai – Punkdikbud | Wallcracks

Esai – Punkdikbud | Wallcracks

Oleh Redaksi Marewai
10 Maret 2025

Terlebih dahulu sedikit penerangan dalam lembaran pendek ini, bahwa PUNKDIKBUD tidak bermaksud untuk menimbulkan perdebatan-kusir mengenai topik usang tentang...

Next Post
Peduli Banjir Lengayang: Mahasiswa Pesisir Selatan Turun Aksi ke Jalan.

Peduli Banjir Lengayang: Mahasiswa Pesisir Selatan Turun Aksi ke Jalan.

Yuang Sewai: Takuik di Swab | Rori Aroka Roesdji

Yuang Sewai: Takuik di Swab | Rori Aroka Roesdji

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In