• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Rabu, Agustus 12, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Punago Rimbun: Kiramat Tuangku Badarah Putiah (Arung Masuba) – Bagian 2

Zera Permana Oleh Zera Permana
19 Juli 2021
in Budaya
2.3k 23
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Di unjung Dayo Tanah ketinggian menurut Tambo Bungka Nan Piawai Salilinya Alm Emral Djamal Dt. Rajo Mudo. Di dalam sebuah pelayaran ditemui sebuah tanah ketinggian di tepi teluk, dimana tanah sekitar dipenuhi rawa. Tanah itu dinamakan tanah lunang (tanah ketinggian yang berawa) di sana banyak ditemui batu-batu berharga bahkan emas pada sungainya yang bermuara ke teluk sungai itu, sementara teluk tersebut juga dikenal ganas, sampai sekarang. Dinamakan kemudian tempat itu sebagai Tanah Dayo dan teluknya bernama Taluak Dayo Puro (Pintu Dayo) yang kemudian menjadi sebuah kerajaan.

Di sebuah kerajaan Taluak Dayo Puro meninggalkan sebuah keramat-keramat yang masih di percayai seorang Raja yang bergelar Martabat Tuangku Badarah Putiah bernama kecil Arung Masuba bergelar Sultan Muhammadsyah Usholi Kerajaan Indrapura.

Dalam Kaba Tareh Tuangku Badarah Putiah, tuturan Bapak Zainudin atau disebut Udin Dayak Urang Tuo Malayu Kampuang Dalam. Beliau ketika sampai di Taluak Dayo Puro, menimbang sebuah botol berisikan air, yang dibawanya untuk menunju negeri leluhurnya (ayah). Maka sampai di muara sungai Taluak Dayo Puro ternyata  botol itu sama berat dengan pasir dan air yang berada di muara sungai Taluak Dayo Puro. Kemudian beliau berkata “ternyata di sini tempat leluhurnya berada”. Pada saat Arung Masuba belum menyandang gelar martabat Tuangku Badarah Putiah, beliau menjuntaikan kedua kakinya di tepi muara sungai dan menghadapkan tapak kaki beliau ke atas/ke hulu, sehingga sungai itu tidak bisa mengalir (tapakok) air sungai berbalik ke mudik. Menimbulkan abah nan gadang dari muaro (banjir yang datang dari muaro) melihat hal yang demikian seluruh sawah, ladang, dan pondok-pondok di hulu sungai digenangi air. Begitulah kiramah nikmat (ilmu) yang beliau miliki.

Air yang dari hulu tidak mengiliri ke muara sampai kepada ladang Sang Adipati Laut Tawar dan merusak tanam-tanaman dalam ladangnya digenangi air. Melihat hal demikian Sang Adipati Laut Tawar sangatlah geram. Pada hal hari ketika itu tidak hujan, air demi air mengalir juga membuat Sang Adipati Laut Tawar hatinya panas (naik darah) kemudian Sang Adipati Laut Tawar meninjau ke muara sungai dan berkata “siapa pula yang berani menghambat, iliran air ke muara”.

Sesampai muara, dilihatnya seorang anak muda yang menjuntaikan kedua kakinya dan tapak (telapak kaki) menghadap ke hulu sungai, kemudian terheran, air yang mengalir di bawah telapak kakinya itu tidak mengalir ke muara malainkan mengalir ke hulu sungai. Mahariak (berkata tegas, dan rantang) Sang Adipati Laut Tawar  kepada seorang anak muda (Arung Masuba), “anak mudo indak tahu dek adat, baru saketek dapek ilmu lah mayombongkan diri, manyombongkan diri pulo kapado urang gaek, nan lah tahu paaik manihnyonymanihnyo duya.”

Mendengar perkataan Sang Adipati Laut Tawar itu kemudian dijawab oleh anak muda (Arung Masuba) “angku alah tuo, indak juo bijak mamahami suatu permasalahan, indak ko bausuik jo pareso, sadangkan ambo hanyo bajuntai jo mandingikan kaki, usah angku ikuik campua macam iko. Sang Adipati Laut Tawar tambah naik darah mendengar jawaban dari anak mudo (Arung Masuba). 

  • About
  • Latest Posts
Zera Permana
ikuti saya
Zera Permana
Redaksi Marewai at Media
Zera Permana
Salimbado Buah Tarok (Anggota Pusat Kajian Tradisi Salimbado Buah Tarok). Sekarang bekerja fokus di Serikat Budaya Marewai. Berasal Dari Nagari Sungai Pinang, Koto XI Tarusan Pesisir Selatan. Pengelola dan Penulis Tetap Rubrik "Punago Rimbun". Zera merupakan arsiparis muda manuskrip-manuskrip Minangkabau, selain fokus mengarsipkan manuskrip, Zera juga aktif berkegiatan dalam Alih Aksara dan Alih Bahasa. Salah satu manuskrip yang sudah terbit, "Kitab Salasilah Rajo-Rajo Minangkabau".
Zera Permana
ikuti saya
Latest posts by Zera Permana (see all)
  • Punago Rimbun: Indrapura Urat Tunggang Daulah Kesultanan Minangkabau – Zera Permana - 3 September 2025
  • Sejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan – Bagian 2 - 2 Oktober 2024
  • Seri Punago Rimbun: Sejarah Menepinya Raja Alam Surambi Sungai Pagu, Samsudin Sandeowano Setelah Penobatan di Pagaruyung - 26 September 2024
Tags: BudayaCerpenEsaiPelesiranpuisiPunago RimbunSastra

Related Posts

Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata

Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
4 Agustus 2026

"Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA" di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang.Oleh: Irawan...

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
17 Juli 2026

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung TeaterOleh: Irawan Winata Barangkali panggung memiliki ruhnya sendiri. Sedari awal ia dibentuk, dihiasi tata...

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Juli 2026

Kepergian seorang maestro teater selalu menyisakan kekosongan yang sunyi, sebuah luka mendalam yang menggetarkan panggung pertunjukan. Bagi dunia seni...

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
22 Juni 2026

Marewai-Padang, pada era digital yang efek negatifnya memahat kedalaman berpikir, sebuah oase literasi hadir di Kota Padang. Bertempat di...

Next Post
Puisi-puisi Mohammad Latif | Sesudah tanah basah

Puisi-puisi Mohammad Latif | Sesudah tanah basah

Cerpen Ede Tea | Nyonya Besar

Cerpen Ede Tea | Nyonya Besar

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In