• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Rion Albukhari | Mengenang Tanah

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
28 Agustus 2021
in Sastra
1.4k 73
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

SIMPOSIUM SEBUAH MELODI

Tarrega; aku masih ingat malam itu. Kita pergi entah ke mana, jam dinding basah oleh suara-suara dari masa lalu, hujan di luar gemetar menatap punggungmu. Sementara dalam diriku kesunyian tak menemukan jalan pulang. Kita tak pernah menjadwalkan perpisahan, tak pernah menemukan alasan mengapa kita berpisah. Tapi selamanya aku akan mengingat malam itu; mahkota angin terbentur ke matamu, jam dinding yang basah, dan di luar ada tubuh hujan yang gemetar melepasmu.

Koto Berapak, 11 Agustus 2021

NYANYIAN FAJAR

Ke dalam hening.
Ke luar hening.
Cinta macam apa yang mengutuk kita. 
Ia jadikan aku takzim dan pulas dalam ciuman cahaya.
Sejenak datang. Sejenak pergi. Oh, lonceng subuh yang berkabut.

Koto Berapak, 13 Agustus 2021

NUKILAN DARI TUBUH NATALIA

Di dada Natalia; arakan awan tumbuh membesar, menggumpal serupa kenangan dan benci tak sudah. Di buminya yang lain luka dan jeritan pun ikut tumbuh. Ya, tubuhnya adalah tempat segala keheningan dan keramaian bermuara. Natalia adalah dua sisi dari satu koin, ia tak mengenal lakon dan pemeran tambahan. Kecuali kecemasan-kecemasan yang tiap saat berdebar dalam hidupnya.

Koto Berapak, 09 Agustus 2021

ORKESTRA HUJAN

Rindu bergemuruh seperti suara hujan yang jauh.
Jarak tenggelam ke tiada.
Cinta tidur terbaring di ranjang kesepiannya.
Tunggu, biarkan aku tenang sejenak dalam suara-suara yang Kau ciptakan.
Karena dalam sajak nama-Mu tak pernah mampu kulafalkan.

Koto Berapak, 16 Agustus 2021

MENGENANG TANAH

Aku adalah akar, dan selamanya akan mengenang tanah.Tempat di mana aku mencengkeram, dan melepaskan diri ke langit, mencapai silau cahaya. Aku tak akan memberontak atas pernyataan ini. Oh gubuk-gubuk tua, padi-padi di jenjang di halaman. Dengarlah sekarang aku menyanyikan berita masa depan yang kacau?

Aku adalah akar, dan selamanya akan mengenang tanah. Aku akan mengenang ibu dan ayah dengan air mata; dua kepingan tubuh yang membagikan sepotong dagingnya kepadaku. Gubuk tua itu, kilau daun bawang dan ruku-ruku, aku akan mengingatnya.  Bahkan jika cinta datang, dan melingkupi semua tubuhku,  dan rembulan, dan matahari jika terpatri di kepalaku,  aku akan mengingatnya. Kepongahan apa yang akan aku bawa? Sedang semua butir darahku adalah mati yang tertunda. Adalah lagu yang belum dilputar.

Bayang, 22 Desember 2020

KE PULAU CINGKUAK

Kita tak membawa apa-apa ke sini, selain kebencian dan sepasang ingatan yang tak pernah dipugar. Lagi pula menurutmu apa gunanya merawat masa silam yang jauh? Biarkan ia berdebu dan kemudian melata. Karena  barangkali kita tidak butuh hal-hal rumit seperti itu, kita akan hidup dengan kecongkakan dan kealpaan yang utuh.
“Di gerbang benteng terkubur kenangan. Di sayap benteng terdampar lupa. Di tengahnya, terkubur Madam Van Kempen” kata seorang penjaga. “Hallo Madam” katamu. Hari menunjukkan Jam 11 siang. “Berikan aku matahari yang biasa-biasa saja; tidak sebesar masa silam pokoknya, dan ah, pelayan tolong bawakan satu cup kapucino dingin ya.” kataku di ruang lain.

Koto Berapak, 29 Juli 2021



Penulis

Rion Albukhari Lahir dan besar di Limau-Limau Bayang Utara Pantai Barat Sumatera. Sekarang adalah mahasiwa di Unand pada prodi ilmu sejarah. Menulis esai dan puisi yang sudah dimuat di media. Buku puisi tunggal saya “Inilah Sajak Terakhir” baru-baru ini sudah terbit.


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: BudayaCerpenEsaiMarewaiPelesiranpuisiPunago RimbunSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Cerpen Amplop Cokelat | Tommi Aswandi

Cerpen Amplop Cokelat | Tommi Aswandi

Dampak Belajar Daring Pada Siswa | Latifah Naswa

Dampak Belajar Daring Pada Siswa | Latifah Naswa

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In