• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Raeditya Andung Susanto | Sakral

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
22 Januari 2022
in Sastra
1.4k 73
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan


KEPADA SIAPA HUJAN DICIPTAKAN?

Kepada musim yang pancaroba,
Kepada petani yang sawahnya mengering
Saat kemarau tiba
Kepada tukang ojek payung yang berharap
Hujan tak pernah reda

Atau kepada doa kaum jomblo agar
Malam minggunya tidak terasa hampa?

Januari, 2022



KENANGAN

Memasuki musim penghujan
Cara menikmati kenangan dengan baik
Adalah dengan melarutkannya pada secangkir
Senja yang gerimis dan basah

Genangan telah memenuhi jalan
Kenangan memenuhi ingatan

Ingatan tentang cinta
Yang nyaris mati pengharapannya

Januari, 2022



REDUNI INDONESIA
  
Aku tidak lagi mendengar lautan membanting pantai bergelora
Aku tidak lagi melihat padi menghijau-menguning
Aku tidak lagi melihat gunung-gunung membiru
Aku tidak lagi mendengar pangkur palaran

Aku tak lagi menghirup udara Indonesia
Aku tak lagi melihat anak-anak desa berteriak

: Merdeka! Merdeka!, Pak! Merdeka!

Aku tak lagi melihat awan putih berarak di angkasa
Aku tak lagi melihat mata rakyat Indonesia di pinggir jalan raya

Aku melihat wajah Indonesia yang berbeda

Kudengar lautan berombak tangis nelayan
Kulihat padi tertunduk lesu dan layu
Kulihat gunung berwajah murung
Kudengar pangkur palaran
menembangkan elegi

Udara menjadi sesak penuh polutan
Anak-anak berteriak

: Kuota! Kuota! Pak! Kuota!

Kulihat awan putih menjelma mendung
Kulihat Ibu Pertiwi berkaca-kaca

Aku melihat wajah Indonesia yang berbeda

Penuh konflik dan intrik
Siapa yang berjuang kalah dengan yang beruang
Hura-hura menjadi huru hara
Kepentingan pribadi yang kian dijunjung tinggi
Kepentingan bersama hilang tak berguna

Wajah yang penuh cinta dan cerita
Menjadi wajah yang penuh duka dan derita

Bumiayu, 2018-2022




SAKRAL

Aku melihatmu sebagai kedatangan
Sebagai bahagia yang bersemayam
Pada tengadah tangan

Dan aku melihatmu sebagai kekal
Sebab menjadi kita, adalah
sesuatu yang sangat sakral

Bumiayu, 2017-2022


Raeditya Andung Susanto, penyair kelahiran Bumiayu Brebes. Sedang menyelesaikan studinya di Cikarang, Bekasi. Anggota Bumiayu Creative City Forum (BCCF). Penulis puisi anak Balai Bahasa Jawa Tengah dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Buku pertamanya berjudul, Sorai (FAM Publishing, 2019). Facebook : Raeditya



  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: CerpenIndonesiaMarewaiMediapuisiSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Cerpen Puja Prasetya Nugraha | Monyet Si Ahli Memanjat

Cerpen Puja Prasetya Nugraha | Monyet Si Ahli Memanjat

Esai: Sesajen dalam Bayangan Etnosentrisme | Aqil Husein Almanuri

Esai: Sesajen dalam Bayangan Etnosentrisme | Aqil Husein Almanuri

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In