• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi LY. Misnoto | Arah Langkah

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
9 Januari 2021
in Sastra
1.4k 74
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

orang-orang berbondong ke jalanan

setelah cuaca tak lagi mengganti musim

antara kota dan jalan menuju desa

tak ada rasa aman di sepanjang

langkah meninggalkan jejak

dengan arah bersemayam di mata

Arah Langkah, LY. Misnoto

Nyanyian di Tanah Desa

tanah ini gersang sepanjang musim

membakar kaki telanjang yang berpijak

pada batu-batu di atas kerikil

dengan halus menjelma tanya

saat gendang ditabuh pada kesunyian

memanggil gending di atas kesempurnaan

dan tiba-tiba angin gending mewartakan duka

beralas batu-batu,

seorang perempuan tua bernyanyi

tentang tanah desa yang mematikan

pohon dan menelan daun gugur

berulang kali doa dipanjatkan di kuburan

tentang derita tanah yang dihantam

ombak dari karang laut selatan

sebelum selesai menjadi nada dan puisi

ia tak tahu, musim berlalu di samping

batu-batu jalanan

dan krikil yang merawat senyum

sekaligus menyembunyikan lagunya sendiri

Bekasi, 22 Juni 2020


Sebelum Pulang

berkemaslah, sayang

kota ini tak lagi memberi harap

jangan lupa bawa mimpimu

kembali pada rumah kita

sebelum langkah dipijakkan

pada jalan pulang,

carilah sepasang sapi

untuk disembelih pada hari doa

delapan ratus enam puluh delapan

kilometer jalan tanpa bisu

bawalah air dan sedikit makanan

ikat erat tas ransel di pundak

biar tak terjatuh dan kita kembali

dengan harap masih bertanya

antara pulang dan kembali

kita harus tahu, masih ada ritual

senantiasa doa menjadi hujan

membasahi, bahkan menggenang kepasrahan

tak perlu kita puja kota ini,

meskipun kabar nasib terus terdengar

biarlah. kita pulang, sayang

Bekasi, 23 Juni 2020


Sebelum Senja

terik meriwayatkan kerja di sepanjang hari

juga keringat yang membasahi tubuh

dua abjad dipintal menjadi doa

menunjukkan arah yang menjadi

malam pada saksi gerak alam tidur

melalui matahari di antara

pagi dan sore, kita sepakati janji

pada gersang tanah kelahiran

yang sempat menghilangkan lelah

tentang kenikmatan sebelum malam

pada tanah, kita menutup

dan menanam harap di masa

kota di gusur dengan langkah kecil

yang akhirnya senja memberi kesimpulan

jalan panjang kehidupan

sebelum tiba-tiba terbenam

Bekasi, 24 Juni 2020


Arah Langkah

orang-orang berbondong ke jalanan

setelah cuaca tak lagi mengganti musim

antara kota dan jalan menuju desa

tak ada rasa aman di sepanjang

langkah meninggalkan jejak

dengan arah bersemayam di mata

pergerakannya seperti sedang berjalan

di pinggir jurang yang tak ada lalu

lintas pengetahuan

sebagian ada yang masih merapikan

harapan pada dentam jam tangan

atau buku-buku bekas di kediaman

seorang laki tua yang terkadang dibaca

di ruang tengah

adalah asal dari segala arah

di setiap langkah berpijak pada

percikan luka dua musim

dan orang-orang tak kembali

meski selalu meminta masa kanak

yang tamak dengan pelukan dan

restu sepanjang ingin

melangkah pada waktu yang tak

pernah dibagi dengan kepulangan:

menjadi doa atas yang kalah

berputus asa dalam langkah yang

tak lagi berjejak–kehilangan arah

Bekasi, 25 Juni 2020


Restu Kepulangan

sudah lama menempuh jarak

antara kotaku dan perantauan

seperti kata dalam puisi

terbaca dalam khayalan pulang

dan sebagiannya meminta restu

Bekasi, 26 Juni 2020


LY. Misnoto, seorang perantau yang lahir di Pulau Giliraja, Giligenting, Sumenep, Madura. Menulis ketika aktif di Sanggar Aksara dan Forum Intelektual Santri (FITRI). Buku antologi puisi tunggalnya berjudul Memori Juli (Vista, 2018) dan Mayang (Kali Pustaka, 2019). Karyanya telah tersebar diberbagai media dan antologi bersama.


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
  • Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika - 8 Januari 2026
Tags: BudayaCaritoPelesiran

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Cerpen Wildan L. Mazir | Berita Kematian Jaenuri

Cerpen Wildan L. Mazir | Berita Kematian Jaenuri

Bencana Alam: “Jalan Berulangkali Minta Perhatian”

Bencana Alam: "Jalan Berulangkali Minta Perhatian"

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In