• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Selasa, Agustus 4, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Fathurrozi Nuril Furqon | Rwanda Pasca 1994

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
8 Februari 2025
in Sastra, Puisi
2k 127
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Mayapada

Sungguh mayapada
adalah kemilau hijau
yang begitu tabah
memanggul berjuta nyawa.
Tanganmu ribuan ranting
yang menyembul
pada celah kanopi hutan,
membentang dan menampung
berbagai elegi,
atau jalinan tenun dedaunan
yang dengan lapang
membuaikan rasa nyaman
ke dalam sukma insan.

Sungguh tabah, begitu tabah,
walau ketabahanmu harus
diwarnai selaksa pengkhianatan.
Rambutmu yang mekar
dan melahirkan kesegaran itu
kerap tumbuh sebagai kesementaraan
yang gemetar.
Sebab gerai hijau itu tahu
bahwa takdir mereka
adalah bertumbangan di bawah
kilat mesin buldoser.
Maka, cadas kepalamu
yang kecoklatan terbuka,
ditusuk-tusuk peluru hujan
dan radiasi dian abadi,
menanggung luka
yang tak semenjana.

Dan sungguh
kau masih menyimpan
benih-benih ketabahan
setelah sekian petak awan
retas di atas bentang
kemilau zamrud kepalamu.
Serupa nabi yang terus
bertahan selepas makar,
pengkhianatan tak ubahnya
ketetapan yang mesti
kau jalani dan hikmati.

Sumenep, 2025

Rwanda Pasca 1994

Rwanda adalah garis demarkasi
yang menjadi jalan mula
menuju nirwana.
Saat kemanusiaan pudar
bersama padamnya bilangan usia
di ujung kokang sebuah senjata,
mimpi-mimpi yang dipupuk
sejak kanak
perlahan tinggal gambar buram
di jendela yang tertutup
lapis tipis debu.

Dan Kigali
tak ubahnya gelimang epitaf
dan genang kirmizi,
menjadi potret luka
yang terpampang di museum ingatan
dan kerap menghantarkan bunga bangkai
pada malam yang masih
merekam amis dendam.

Sumenep, 2024-2025

Dalam Tikam Beton

Angin yang memecahkan dirinya ke dalam puluhan desau, memahami bahwa jengkal beton itu adalah semacam khuldi, yang terkutuk, namun terus mendapat merah kecup.

Tanah yang mandul setelah kesuburannya dicuri ragam cetak biru pembangunan, merelakan diri menjadi kudapan di atas altar pesta manusia. Ketika dirinya kehilangan aneka tosca di epidermisnya, digantikan himpunan bata, rangka baja, beton-beton yang jauh melubangi dada, maka suara mesin mixer, pukulan palu bertalu, getar bunyi bor, semua bakal ditasrifi sebagai ayat-ayat khianat.

Barangkali manusia bisa memahami hakikat tabah dari tanah. Sebab sekian zaman ia lewati, dan ia relakan belahan tubuhnya dizirahi baja dan bata.

Dan manusia seperti tak pernah lelah, menorehkan bermacam beton di tubuhnya, serupa luka yang terus dikeruk, serupa khuldi yang terus dikecup.

Sumenep, 2025

Lanskap Puisi

Sebab musim-musim
datang pergi tanpa permisi
Sepasang kepak sayap rindu pun
Merasa bebas hinggap bertamu
Ke reranting sebuah puisi

Kadang ia akan bernyanyi
Sembari memanggil nama-nama
Dari bundar kilau purnama

Kadang ia akan duduk menyendiri
Lalu mengubah langit malam
Menjadi kilas fragmen masa depan
Yang o, begitu pekat

Dan seperti kedatangannya yang tiba-tiba
Rindu akan terbang tanpa salam
Dari rimbun dahan sebuah puisi
Ia pergi
Dan menjadikan himpunan diksi
Lanskap kosong sunyi
Yang sedia menerima aneka sukma
Datang silih
Berkali-kali

Sumenep, 2025

Hulu Rindu

Matamu palung dalam
Yang menenggelamkanku
Ke dalam kubang rindu

Matamu pisau tajam
Yang menikam dan mendamparkanku
Ke dalam luka pilu

Sumenep, 2024-2025

Kejadian Tengah Malam

Sebuah arloji yang hampir kehabisan baterai
Berdetak lambat dalam dada seorang pemuda
Di tangannya, miras bersenandung merdu
“Kapan lagi dunia akan sebegitu indahnya
Jika bukan malam ini, bro”

Pemuda itu berjalan membelah jalan
Lalu dari arah tikungan meluncur sedan
“Mari tinggalkan dunia yang acak adul ini, bro”
Miras itu bersenandung merdu
Dan tak terdengar lagi detak arloji
Dalam dada si pemuda

Sumenep, 2024





Fathurrozi Nuril Furqon, alumnus TMI Al-Amien Prenduan 2021 dan mahasiswa UNIA. Suka membaca, menulis, dan melamun. Ig; @zeal0102.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata - 17 Juli 2026
  • Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung - 11 Juli 2026
  • Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata - 10 Juli 2026
Tags: puisiSastra

Related Posts

Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung

Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung

Oleh Redaksi Marewai
11 Juli 2026

Pulang Kampung             Haris keluar dari bus angkutan antar kota. Langkahnya pelan menghentak seakan menumpahkan kekesalan di hatinya. Bagaimana...

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Kepada Shei

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Kepada Shei

Oleh Redaksi Marewai
26 Juni 2026

KEPADA SHEI Aku senang membayangkan hal-hal yang indah. Kubayangkan matamu menjadi rumah paling megah: tempat di mana lelah perlahan...

Puisi-puisi Cahaya Daffa Fuadzen | Venari In Gehenna (2026)

Puisi-puisi Cahaya Daffa Fuadzen | Venari In Gehenna (2026)

Oleh Redaksi Marewai
18 April 2026

Venari In Gehenna (2026)             — Michelle Petrelll Aku memandangi lukisan anomali persis melihat api melawan gravitasi : alkisah...

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Oleh Redaksi Marewai
16 Maret 2026

Entah Buku Apa Namanya Aku pernah membaca tubuh bukuDan aku jatuh cinta pada manisnya kata pengantarBegitu syahduSesampai malam menemani...

Next Post
Cerpen Kurnia Gusti Sawiji | Senja di Kampung Jam Pasir

Cerpen Kurnia Gusti Sawiji | Senja di Kampung Jam Pasir

Devara Bagian 1: Plot Twist Seorang Penjaga Laut Merah

Devara Bagian 1: Plot Twist Seorang Penjaga Laut Merah

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In