• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi: D. Atika Pramono | Menjual Sepetak Sawah

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
7 November 2020
in Sastra
1.3k 97
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Maka, segera kubangun sebuah rumah megah agar kau damai sentosa. Orang-orang menyebutku gila.

Menjual Sepetak Sawah, puan rinai

kisah kelahiran

ia mengandung puisi

hasil persetubuhan kata-kata dan nasib cintanya

kekasih yang bermain petak umpat melawan oligarki

tak pernah keluar lagi, dan pulang ke dadanya

kekasihnya dilahap para asu

pada sebuah perjamuan pukul satu

meninggalkan benih puisi yang tertanam di rahimnya

pada suatu hari baik, puisi ini lahir

berlari mengejar para asu

yang mahir sembunyi, namun lupa

menghapus jejak kematian nurani

pada wajah, perut dan kaki mereka

Majapahit, 2020

sepotong kaki

setelah Buli-buli Kaki Lima Nirwan Dewanto

gajah berkaki lima yang kau gambar tujuh tahun lalu masih hidup bebas. menyisir tiap sudut kota yang kau bangun di kepala. rajin menghadiri pemakaman babi, kobra, hiu, sapi, kuda dan asu. tepatnya gerombolan asu yang mati di jalanan. jika bukan tumpangan gajahmu, aroma mereka membuat kota menjadi pasar bangkai.

aku bukan perempuan dari magdala yang sedang berjalan menuju vignole; yang hidup dalam puisimu. tidak pula tukang pos yang sedang menunggu hujan di monona. cukuplah aku sebagai puan yang mencintai sapardi. mendoakan keselamatanmu pada musim gugur. dan mewarnai kelopakmu saat musim semi.

aku sedang belajar bersiasat. mencoba membaca matamu. mengeja gajah yang hidup di tubuhmu. kenapa ia berkaki lima dan tinggal di kota. apa dengan sepotong kaki aku bisa berlari, dan memenuhi janji membeli sekuntum peoni?

Majapahit, 2020 

sebuah bangku taman di bawah pohon maple

kepada Louise Elisabeth Glück

I

aku duduk di sebuah bangku taman

mulai mengisap cerutu

menghitung nyala lampu

: satu, tiga, lima padam

dan sembilan untuk cahaya di pintu masuk

sebuah daun maple jatuh

rebah di mataku

II

pagi tadi seorang perempuan duduk di sini

bersandar di punggungku

ia mendapat satu kabar

untuk pertama dan terakhir

sejak sebuah kapal mengaurkan

aroma tubuh kekasihnya

25 tahun silam

ia tak pergi ke pemakaman

sebab telah dikubur

: seluruh kenangan

satu jam selepas kekasihnya

melambaikan tangan

III

pukul satu seorang gadis bergaun hitam

memandangi tubuhmu

ia bermata lautan

menumpahkan biru di tubuhku

ia tersesat

dan ingin pulang

menuju gunung di belakang perkampungan

IV

ia bercerita tentang suaminya

yang gemar bermain api

dan sering membakar rumah sendiri

di tubuhku, kau menjatuhkan diri

ke pangkuannya yang gemetar

kau tahu, ia tak pernah percaya

bahwa kau adalah nama lain dari

keharmonisan dan kesetiaan

V

lelaplah!

meski belum usai

aku terjaga dalam mimpimu

sepanjang musim

Majapahit, 2020 

menjual sepetak sawah

ia mengatur jadwal pertemuan

menelpon sebuah nama

menanyakan jumlah

perihal kepastian fana

sebelum subuh ia berkemas

membawa cangkul dan sabit

sekarung pupuk kimia

sekotak benih jagung yang mulai tumbuh tunasnya

ia berjalan sepanjang pemakaman

meletakkan seluruh barang

: pada sebuah nisan

menulis kalimat penutup

“Maka, segera kubangun sebuah rumah megah agar kau damai sentosa. Orang-orang menyebutku gila. Sejatinya mereka tidak waras sejak mula. Menerima uang muka, merelakan sumber kehidupan ditelan para raksasa.”

Majapahit, 2020

TANDA

ia menyaksikan Bintang-bintang

ketika Lampu jalan masih Padam

dan Bayang-bayang tidak di Barat

tidak pula di Timur.

Majapahit, 2020


T e n t a n g   P e n y a i r

Lebih akrab disapa puan rinai. Founder sudut baca puan (@sudutbacapuan). Pemilik Kedai Cerita dan Puisi Atika di @puanrinai. Penghuni Ruang Tunggu di medium.com/@ruangtunggu. Bungsunya Lapak Baca Nyala.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung - 16 Maret 2026
  • Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
  • Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
Tags: BudayaPelesiranPunago Rimbun

Related Posts

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Oleh Redaksi Marewai
16 Maret 2026

Entah Buku Apa Namanya Aku pernah membaca tubuh bukuDan aku jatuh cinta pada manisnya kata pengantarBegitu syahduSesampai malam menemani...

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

RANJANG akhir-ahkir ini aku sering kali melihat laki-laki paruh baya duduk depan jendela sambil melantunkan nyanyian kecil ninabobo, ninabobo...

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

Sebelum diborgol, Darso teringat permintaan putra semata wayangnya yang ingin sekali pergi piknik di kaki gunung. Darso berpikir, boro-boro...

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Oleh Redaksi Marewai
7 Maret 2026

Sambirenteng Desa Penyadap Tuak rumah kekasihku dibangun pagi hari. matahari jatuh di bukit sanghyang, setelah bukit ibu melukis langit...

Next Post
Cerpen: Tusuk Sate | Muhammad Noor Fadillah

Cerpen: Tusuk Sate | Muhammad Noor Fadillah

Temu Perkusi Etnik: Silaturahmi Karya Para Penabuh di Padangpanjang

Temu Perkusi Etnik: Silaturahmi Karya Para Penabuh di Padangpanjang

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In