• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Ardhi Ridwansyah | Harimau di Mulutmu

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
5 Desember 2020
in Sastra
1.6k 105
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

HARIMAU DI MULUTMU

Seekor harimau lelap di mulutmu,

Sembari bermimpi,

Terkam hati yang bersedih;

Tatkala kata menjadi beringas,

Dan mencaci segala rupa.

Jari-jari liar,

Yang ikut bermain di papan ketik ponselmu,

Adalah tambur yang bangkitkan harimau dari tidurnya.

Mencabik jiwa yang tak bersalah,

Menebar teror dengan fitnah keji di dunia maya.

Harimau keluar dari sarang; rongga mulut menganga,

Ia berlari dan buas menerjang,

Sakiti dada yang sesak dengan maki,

Menyantap hingga rasanya telah mati.

Kembali pulang ke kandang dengan perut terisi.  

Jakarta, 2020

MISTERI LORONG GELAP

Segerombolan gagak bertengger,

Saat malam dingin mendekap angkasa,

Nyalang matanya menyasar pada tubuh,

Yang tergeletak bersimbah darah.

Noda-noda yang tinggalkan jejak,

Di lorong gelap bersama tong-tong sampah,

Dan lalat hijau yang hilir mudik,

Tatap sang jasad terharu; mata terbelalak,

Tinggalkan misteri yang sukar terungkap.

Gaok gagak menggelegar.

Seketika tetes air mata mengalir dari kornea,

Yang telah getas; tiada mimpi, tiada harap.

Raga itu beraroma anyir,

Mengetuk mentari untuk segera hadir,

Dan para manusia lekas menyelidiki.

Jakarta, 2020

DI BANGKU TAMAN YANG BASAH

Di bangku taman yang basah,

Sisa hujan semalam.

Kusimpan segala rindu,

Untuk perjumpaan hari ini.

Di bangku taman yang basah,

Tanah-tanah kering mulai temukan jati diri,

Kembali hadirkan jiwa dengan gairah bersemi.

Memupuk harap serta kembali bermimpi.

Di bangku taman yang basah,

Kutunggu dikau dari waktu ke waktu,

Berbagi sebungkah senyum yang kau tawarkan,

Saat pertama kali kita bertemu.

Jakarta, 2020

TELISIK RUANG SUNYI

Selidiki ruang-ruang sunyi,

Ada kau yang terpasung di tengah sepi.

Gulita meraba wajah yang bersedih.

Lelah memagas hati, yang kini tak bertepi.

Kucoba telisik ruangan itu,

Untuk apa kau ada di sana?

Sedang canda ada di luar,

Yang meski tak selamanya bertahan.

Di bibir setiap insan. 

Aku datang untuk bebaskanmu,

Usap air mata dan terbitlah mentari,

Membunuh sunyi.

Dan kini bersiaplah.

Gaduh datang, membuatmu berang.

Jakarta, 2020

HARI-HARI TERBAKAR

Hangus hari-hari kemarin,

Selepas abu berlumur di wajah lesu,

Membakar tubuh layu yang kemarau,

Ringkih dan gugur di antara butir pasir.

Tarian hujan, merapal doa sendu,

Para daun telah membunuh dirinya,

Kala tahu pohon hanya tulang belulang,

Yang akan mati.

Sajak adalah debu,

Kata-kata berhamburan lari,

Cari tempat mengaduh,

Selepas makna tewas dari tubuh penulisnya.

Hujan air mata, jerit bibir ranum,

Gelisah undang tanda tanya di kepala jangar,

Aroma duka memberi salam, 

Seperti mentari yang dilumat malam.

Segala berakhir kelam.

Jakarta, 2020.

MENATA RASA


Memetik bulan di matamu,

Meramu cinta di taman gemerlap,

Lampu-lampu; menonton kita yang tertawa.

Bising jalan raya adalah realita yang suguhkan,

Kesibukan tanpa henti, tanpa cinta, tanpa sunyi.

Di sini, semua itu telah mati.

Kau dan aku tak peduli pada jerit klakson,

Yang kerap membabi buta menusuk telinga.

Petik gitar dari musisi jalan,

Sebagai nyanyian pelepas penat,

Dari ruang yang menuntut uang,

Tiada belai kasih sayang.

Di taman, kita lepas air mata,

Memandang jiwa tak rata.

Pulang dengan rasa yang tertata.

Jakarta, 2020


Ardhi Ridwansyah kelahiran Jakarta, 4 Juli 1998. Tulisan esainya dimuat di islami.co. terminalmojok.co, tatkala.co, nyimpang.com, dan nusantaranews.co. Puisinya “Memoar dari Takisung” dimuat di buku antologi puisi “Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019”. Puisinya juga dimuat di media seperti kawaca.com, catatanpringadi.com, apajake.id, mbludus.com, kamianakpantai.com, literasikalbar, Majalah Kuntum, Radar Cirebon, dan Harian Bhirawa. Penulis buku antologi puisi tunggal Lelaki yang Bersetubuh dengan Malam. Salah satu penyair terpilih dalam “Sayembara Manuskrip Puisi: Siapakah Jakarta”.   E-Mail: [email protected], Instagram: @ardhigidaw, FB: Ardhi Ridwansyah, No WA: 089654580329. 

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung - 16 Maret 2026
  • Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
  • Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
Tags: CaritoPelesiranPunago Rimbun

Related Posts

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Oleh Redaksi Marewai
16 Maret 2026

Entah Buku Apa Namanya Aku pernah membaca tubuh bukuDan aku jatuh cinta pada manisnya kata pengantarBegitu syahduSesampai malam menemani...

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

RANJANG akhir-ahkir ini aku sering kali melihat laki-laki paruh baya duduk depan jendela sambil melantunkan nyanyian kecil ninabobo, ninabobo...

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

Sebelum diborgol, Darso teringat permintaan putra semata wayangnya yang ingin sekali pergi piknik di kaki gunung. Darso berpikir, boro-boro...

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Oleh Redaksi Marewai
7 Maret 2026

Sambirenteng Desa Penyadap Tuak rumah kekasihku dibangun pagi hari. matahari jatuh di bukit sanghyang, setelah bukit ibu melukis langit...

Next Post
Cerpen Bangga S. Nagara | Do’a yang Berjumpa

Cerpen Bangga S. Nagara | Do'a yang Berjumpa

Aktor Laga Pilkada : Pemahaman Politik dan Realita Kerja dalam Sosial Masyarakat Pasca Pilkada

Aktor Laga Pilkada : Pemahaman Politik dan Realita Kerja dalam Sosial Masyarakat Pasca Pilkada

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In