• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Pinjaram: Kuliner yang Tidak Lagi Menjadi Khas di Daerah Asal

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
8 Februari 2021
in Esai
1.4k 28
0
Home Budaya Esai
BagikanBagikanBagikanBagikan

Seorang pecinta kuliner pernah mengatakan tentang makna makanan khas suatu tempat, ia memaknai kekhasan itu sebagai makanan yang paling sering dimakan/dibuat oleh masyarakat setempat. Sehingga menjadikan makanan tersebut itu khas, jarang ditemui di tempat lain. Bukan kekhasan yang susah sekali dicari di tempat tersebut.

Nah, kali ini kita akan membahas tentang kue Pinyaram dari Pesisir Selatan. Tentu kue ini tidak asing lagi di masyarakat Minangkabau. Pinyaram atau yang biasa disebut oleh masyarakat Pesisir Selatan “Pinjaram”, makanan ini merupakan kuliner asli dari Sumatra Barat, dahulu hanya dibuat saat hari lebaran atau hari-hari penting lainnya. Dan makanan ini juga identik dengan buah tangan ketika bepergian (ole-ole). Meski begitu, karena perkembangan zaman, kue pinyaram tak jarang juga dibuat dihari biasa dan menjadi jajanan khas sebuah warung.

Sedangkan pembuatan Pinyaram menggunakan beberapa bahan penting, yakni; Tepung beras, gula dan santan. Jenis-jenisnya pun ada beberapa: Pinyaram hitam dan pinyaram putih. Masyarakat di Pesisir Selatan banyak menjual Pinyaram hitam, untuk tempat menjual Pinyaram, ada beberapa tempat. Salah satu yang paling mudah dicari adalah berlokasi di Pertamina, hampir di seluruh Pertamina Pesisir Selatan ada pedagang kue ini. Tapi hanya Pertamina di Taratak yang bisa dikatakan selalu memiliki stok Pinyaram. Lamak!

Adapun tempat lainnya yaitu, warung-warung di kawasan wisata Pesisir Selatan. Tidak banyak memang.

Makanan Pinjaram berbentuk bundar dan ditengahnya agak menonjol, di bagian tepinya memiliki tekstur tipis seperti bentuk ufo. Sedangkan bentuk lainnya adalah berbentuk bulat saja, berukuran agak kecil dari Pinyaram berbentuk ufo. Pinyaram di Pesisir Selatan identik dengan kriyuk bagian tepinya dan empuk di bagian tengah. Selain itu, Pinyaram di Pesisir Selatan menggunakan minyak agak berlebihan, sehingga membuatnya berbeda dengan Pinyaram ditempat lain. Masyarakat memercayai, hal tersebut menjadi salah satu pembeda pinyaram buatan Pesisir Selatan dengan buatan daerah lain. Di berbagai perlombaan pun, pinyaram selalu menjadi pilihan utama untuk ditampilkan sebagai makanan khas Pesisir Selatan.

Namun beberapa tahun terakhir kue ini memang tidak eksis lagi, baik di pasar modren maupun tradisional. Meski demikian, kue pinyaram masih berkembang dikalangan masyarakat, tapi keberadaannya tidak lagi menjadi suatu makanan khas yang wajib dicicipi masyarakat luar apabila bertandang ke Pesisir Selatan.

Pesisir Selatan memiliki banyak kuliner yang dulunya menjadi suatu kekhasan masyarakatnya, mulai dari kuliner berat maupun ringan. Saat ini sangat sulit sekali mencari tempat yang memang menyajikan jajanan khas Pesisir Selatan secara spesifik. Khas dimaksud dalam tulisan ini ialah makanan yang memang masih eksis dikalangan masyarakatnya sendiri.

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
  • Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025
Tags: BudayaPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

Literasi yang Tak Masuk Akal, tapi Masuk Anggaran & Literasi yang Masuk Akal, tapi Tak Masuk Anggaran | Robby Wahyu Riyodi

Literasi yang Tak Masuk Akal, tapi Masuk Anggaran & Literasi yang Masuk Akal, tapi Tak Masuk Anggaran | Robby Wahyu Riyodi

Oleh Redaksi Marewai
6 November 2025

Literasi yang Tak Masuk Akal, tapi Masuk Anggaran & Literasi yang Masuk Akal, tapi Tak Masuk Anggaran | Robby...

Syekh Yahya Al Khalidi, Mursyid Tareqat Naqsabandiyah Al Khalidiyah dari Nagari Panjua Anak (1857 – 1943)

Syekh Yahya Al Khalidi, Mursyid Tareqat Naqsabandiyah Al Khalidiyah dari Nagari Panjua Anak (1857 – 1943)

Oleh Redaksi Marewai
11 Mei 2025

Oleh Al Fikri Mahasiswa Hukum Tata Negara UIN Imam Bonjol Padang Di balik megahnya Nagari Magek hari ini, tersimpan...

Gairah Literasi dan Dunia Baca Anak Muda | Muhammad Nasir

Gairah Literasi dan Dunia Baca Anak Muda | Muhammad Nasir

Oleh Redaksi Marewai
20 April 2025

Gairah Literasi dan Dunia Baca Anak MudaOleh: Muhammad Nasir (Penyuka Buku/Dosen UIN Imam Bonjol Padang) Di Ranah Minang, tradisi...

Esai – Punkdikbud | Wallcracks

Esai – Punkdikbud | Wallcracks

Oleh Redaksi Marewai
10 Maret 2025

Terlebih dahulu sedikit penerangan dalam lembaran pendek ini, bahwa PUNKDIKBUD tidak bermaksud untuk menimbulkan perdebatan-kusir mengenai topik usang tentang...

Next Post
KADISPAR Provinsi Sumatra Barat Tantang “Kito Fishing” Gelar Turnamen

KADISPAR Provinsi Sumatra Barat Tantang "Kito Fishing" Gelar Turnamen

Permainan-permainan Tradisional Berusia Uzur dan Terlupakan.

Permainan-permainan Tradisional Berusia Uzur dan Terlupakan.

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In