Saya dan Film India
Referensi lain, aku menemukan banyak ritus serupa juga masih dipakai oleh masyarakat di India. Dalam banyak pilem India yang saya tonton terkait masyarakat tradisional, saya nyaris tersesat oleh beberapa tradisi yang dihadirkan dalam kebudayaan Hindu di sana, bagaimana ritus mereka selalu menggunakan syarat serupa dengan apa yang ada di kampungku; dedaunan, bunga, asam, air dan pantangan. Sederhananya, segala tumbuhan menjadi syarat ritus mereka. Ini barangkali juga banyak dipakai pada ritus masyarakat tradisional. Namun agaknya kebudayaan ini saling memengaruhi (ini baru asumsi saya). Misalnya, saya beberapa kali menemukan tradisi masyarakat tradisional yang nyaris sama dengan apa yang ada di kampung saya, selain tulak bala, ada juga ritus perkawinan dimana selesai ijab kabul, mempelai wanita membakarkan rokok untuk mempelai pria. Prosesi itu dilakukan di kamar, dengan ditemani pengawal pengantin. Belum lagi ritus melautnya, pantangan tidak boleh menginjak bagian kepala kapala, melangkahi kisa (pukat), tanda-tanda hari buruk dan banyak lagi. Tapi ini baru asumsi dan cocokologi saya saja, seperti banyak narasi saya diatas yang tidak yakin, karena saya bukanlah orang yang berkegiatan di dunia perpileman secara memdalam, atau memiliki ilmu penyutradaraan yang cukup. Membuat ‘Pilem’ saja saya salah.
Saya banyak terpengaruh oleh pilem-pilem India, terutama Telugu, Hindi, Kannada dan Malayalam. Bagaimana mereka sangat konsisten dengan gaya pilemnya, meski ide cerita yang ditawarkan nyaris serupa, yaitu tentang sosial budaya, agama dan pemerintah. Nyatanya, mereka sanggup bertahan sesuai dengan apa yang menjadi jati dirinya. Sangat jarang saya temukan kepura-puraan keadaan di sana, keadaan sosial budaya dan pemerintah diekspos begitu bebas. Bagi sebagian penonton barangkali tidak menyukai pilem-pilem dari India karena durasi nyanyi dan tariannya yang begitu membosankan. Tapi itulah yang membuat perpileman di sana berkarakter dan jelas. Bila dibandingkan Indonesia, nyaris tidak ada yang mencolok dari apa yang mereka hadirkan. Konsistensi tersebutlah yang barangkali nampak senjang di perpileman Indonesia secara keseluruhan. Kita menertawakan pilem-pilem India yang norak dan lebay, nyatanya tahun kemarin salah satu pilemnya memenangkan penghargaan paling bergengsi: Oscar. RRR yang berangkat dari history India semasa Inggris bercokol, dibalut konflik sosial budaya, agama dan pemerintah. Budaya yang dihadirkan cukup mencolok dan nampak rapat. Takjubnya, RRR meraih penghargaan tersebut lewat salah satu lagu “Naatu Naatu mengantar musisi M. M. Keeravani dan Chandrabose naik ke panggung lalu menerima Piala Oscar di The Dolby Theatre Los Angeles, AS, pada Minggu (12/3/2023). Film India RRR mengalahkan para raksasa musik Hollywood antara lain Diane Warren, Lady Gaga, dan Rihanna. Mantap. Jadi saya berpendapat, konsistensi adalah hal utama yang mereka tonjolkan dari tahun ke tahun dan membentuk warna.

Keseluruhan pengambilan video berada di Sungai Pinang, Tarusan, Pesisir Selatan, yang secara geografis sangat pas untuk dokumenter tulak bala pukat. Daerah yang halaman rumahnya berhadap-hadapan dengan lautan luas yang mengangkang. Lengkap dengan teluk dan pulau-pulau yang kadang tampak bagai dada gadis puber. Jadi dicatatan awal, saya berangkat dari kenangan masa kanak-kanak tentang tulak bala, kemudian menyusun dua gagasan antara Tulak Bala Nagari dengan Tulak Bala Pukat. Walau dibeberapa tutur masyarakat, tulak bala pukat juga kadang dilangsungkan sebagaimana prosesi tulak bala nagari dengan cara berkeliling kampung sambil membaca ratik. Barangkali juga demikian diketahui masyarakat awam, bahwa tulak bala itu ialah pembacaan ratik di masjid guna menjauhkan nagari dari malapetaka. Nyatanya, di masyarakat tradisional (paling tidak di daerah Pesisir Selatan) ada juga tulak bala pukat, tulak bala sawah, dan tulak bala banjir. Yang semua prosesnya nyaris berbeda.
Saya menganggap pilem ini sebagai memori kolektif yang divisualkan, diambil sebagaimana kesanggupan. Pilem ini juga jadi garapan pertama Komunitas Marewai dan Marewai N’Co. Meski dalam pilem ini sayalah orang paling awam didunia pembuatan pilem. Tapi paling tidak, saya bisa mengaku-ngaku orang yang paling penonton pilem di antara mereka. Mantap.

Ada beberapa poin yang ingin saya bagi dalam catatan ini: konsisten, ruang dan waktu, dokumentasi/arsip, dan kolaborasi. Meski tidak mewakili secara keseluruhan, saya kira halhal tersebut cukup krusial posisinya.
Sebagai penonton, berikut beberapa kutipan paling menarik dalam film yang saya tonton:
“Kalau kau buat keputusan mau membunuh, maka bunuh saja! Jangan bacot doang. Aku dalam mood membunuh. Percakapan Petta dalan Devaram saat pesta kematian ayah Devaram. (Petta, 2019, Film Telugu, India)
Tolong bangunin bapak, presiden memanggil. Situasi genting. Percakapan pasukan Cakrabirawa dengan anak Jendral Ahmad Yani dalam film G30SPKI.
“Apa anda bisa hidup bahagia setelah orang yang anda cintai menghilang?
“Kau tahu apa yang terjadi setelah kematian?
“Tidak… apa?
bagaimana aku tahu, aku masih hidup. Tapi, setelah aku mati dan jati hantu, baru akan kuberitahu.
Dalam Film Dil Bechara, Hindi, India, 2020. Film yang dirilis setelah hitungan bulan sang Aktor Sushant Sing Rajput ditemukan bunuh diri.
“Dahulu, wanita memprotes hukum membuka toket. Sekarang, di suruh menutup toket, malah protes.
Dalam film Aadai, Tamil, India, 2019. Film yang menceritakan tradisi Pajak Payudara di Desa Nangeli, India.
“orang yang takut sering bersembunyi di balik kata-kata.” Ranbir Kapoor dalam Ae Dil Hai Muskhkil, Hindi, India, 2016.
“Jangan meremehkan kekuatan seorang penjual manisan.” Sharulkhan, Chenai Express, 2013.
- Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
- Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
- Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025






Discussion about this post