Di lokasi ini pengunjung tidak hanya disuguhkan oleh Batu Kudo saja, beberapa lokasi lain: Lubuak Malin Deman, Pincuran Tujuah, dan Aie Terjun Sarasah. Seluruhan tempat ini saling berdekatan. Untuk rute jalan sendiri kalau dari jalan raya, tempat ini berjarak 3 km, bila dari arah Padang simpang masuknya sebelah kiri, sesudah jembatan Taluak (ada penunjuk jalan). Kemudian terus ke dalam kuranglebih 15-20 menit. Akses jalan menuju kawasan objek wisata ini sudah bagus. Hanya saja di lokasi wisata saat kami datangi nampak semak mulai lebat di bagian ruas jalannya. Selain itu kondisi di sekitar pemandian juga mulai semak. Sepertinya sejak diberlakukan bermacam-macam peraturan soal pandemi tempat ini jadi jarang dikunjungi. Tapi entahlah, bisa juga perkara hobi musiman masyarakat.

Tidak banyak yang dapat kami bagikan kali ini, karena kunjungan kami tidak tepat. Lantaran kondisi sungai sedang dangkal. Tapi untuk referensi wisata dan pengetahuan, kami sangat bersyukur sekali. Berikut kami lampirkan cerita legenda Batu Kudo;
Menurut tutur yang beredar di masyarakat setempat, nama Batu Kudo atau Batu Kuda yang dipakai untuk kawasan tersebut, berawal dari sebuah legenda yang sampai sekarang masih beredar dimasyarakat.
Legenda tersebut berawal ketika salah seorang warga yang bernama Malin Deman ingin membuka lahan until berladang di kawasan yang saat ini dijadikan objek wisata. Karena gerah dan kebetulan terdapat aliran sungai yang segar, ia pun berniat untuk mandi sejenak.
Saat sedang mandi, samar-samar ia mendengar ada suara beberapa anak gadis yang juga sepertinya sedang mandi, dan diperkirakan tidak jauh dari lokasinya.
Kala itu keadaan hutan masih sangat lebat, ia pun seakan tidak percaya adanya anak gadis yang mandi di sana, akhirnya malin deman memberanikan diri melihatnya secara langsung. Setelah dilihat ternyata tidak sesuai dengan perkiraan, mereka bukanlah anak gadis namun bidadari (sosok yang digambarkan serupa bidadari) yang sengaja turun dari kayangan untuk mandi di lokasi itu. Mereka juga berjumlah tujuh orang, sesuai kepercayaan masyarakat bahwa bidadari identik dengan jumlah tujuh orang. Akhirnya Malin Deman mengambil salah satu baju dari mereka. Ini hampir serupa dengan legenda Jaka Tarub.

Tak lama berselang, para bidadari selesai mandi, mereka pun terbang menuju kayangan, namun salah seorang dari mereka tetap tinggal karena kehilangan baju. Akhirnya bidadari mendatangi perkampungan sekitar dan berjanji akan menikah dengan siapapun yang menemukan bajunya yang hilang.
Kemudian akhirnya bidadari tersebut menikah dengan Malin Deman dan memiliki satu orang anak. Suatu wants, akhirnya ia mendapatkan kembali bajunya yang selama ini disimpan dengan rapi oleh suaminya. Tak lama berselang ia langsung menuju anak sungai yang dulunya merupakan lokasi pemandian dan teman-temannya dari kayangan.
Mendengar informasi tersebut, Malin Deman segera mengejar sang istri, agar cepat sampai ia pun menunggangi seekor kuda. Sesampainya Malin Deman di lokasi, bidadari ternyata sudah bersiap untuk terbang ke kayangan, karena jaraknya dengan Malin Deman sudah dekat sang bidadari akhirnya mengutuk kuda tunggangan Malin Deman sehingga menjadi batu.
Kondisi terakhir Batu Kudo memang tak serupa dalam cerita di atas; berbentuk kudo (kuda). Beberapa bagiannya mulai kandas lantaran benturan dengan aliran air dari hulu yang debitnya tak menentu, sehingga membuat bentuk Batu Kudo perlahan hilang.
- Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
- Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
- Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025






Discussion about this post