• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Pelesiran: Objek Wisata dan Legenda-legenda Masyarakat Lokal Pesisir Selatan

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
23 Agustus 2021
in Pelesiran
2k 20
0
Home Pelesiran
BagikanBagikanBagikanBagikan

Di lokasi ini pengunjung tidak hanya disuguhkan oleh Batu Kudo saja, beberapa lokasi lain: Lubuak Malin Deman, Pincuran Tujuah, dan Aie Terjun Sarasah. Seluruhan tempat ini saling berdekatan. Untuk rute jalan sendiri kalau dari jalan raya, tempat ini berjarak 3 km, bila dari arah Padang simpang masuknya sebelah kiri, sesudah jembatan Taluak (ada penunjuk jalan). Kemudian terus ke dalam kuranglebih 15-20 menit. Akses jalan menuju kawasan objek wisata ini sudah bagus. Hanya saja di lokasi wisata saat kami datangi nampak semak mulai lebat di bagian ruas jalannya. Selain itu kondisi di sekitar pemandian juga mulai semak. Sepertinya sejak diberlakukan bermacam-macam peraturan soal pandemi tempat ini jadi jarang dikunjungi. Tapi entahlah, bisa juga perkara hobi musiman masyarakat.

Tidak banyak yang dapat kami bagikan kali ini, karena kunjungan kami tidak tepat. Lantaran kondisi sungai sedang dangkal. Tapi untuk referensi wisata dan pengetahuan, kami sangat bersyukur sekali. Berikut kami lampirkan cerita legenda Batu Kudo;

Menurut tutur yang beredar di masyarakat setempat, nama Batu Kudo atau Batu Kuda yang dipakai untuk kawasan tersebut, berawal dari sebuah legenda yang sampai sekarang masih beredar dimasyarakat.
Legenda tersebut berawal ketika salah seorang warga yang bernama Malin Deman ingin membuka lahan until berladang di kawasan yang saat ini dijadikan objek wisata. Karena gerah dan kebetulan terdapat aliran sungai yang segar, ia pun berniat untuk mandi sejenak.
Saat sedang mandi, samar-samar ia mendengar ada suara beberapa anak gadis yang juga sepertinya sedang mandi, dan diperkirakan tidak jauh dari lokasinya.

Kala itu keadaan hutan masih sangat lebat, ia pun seakan tidak percaya adanya anak gadis yang mandi di sana, akhirnya malin deman memberanikan diri melihatnya secara langsung. Setelah dilihat ternyata tidak sesuai dengan perkiraan, mereka bukanlah anak gadis namun bidadari (sosok yang digambarkan serupa bidadari) yang sengaja turun dari kayangan untuk mandi di lokasi itu. Mereka juga berjumlah tujuh orang, sesuai kepercayaan masyarakat bahwa bidadari identik dengan jumlah tujuh orang. Akhirnya Malin Deman mengambil salah satu baju dari mereka. Ini hampir serupa dengan legenda Jaka Tarub.

Tak lama berselang, para bidadari selesai mandi, mereka pun terbang menuju kayangan, namun salah seorang dari mereka tetap tinggal karena kehilangan baju. Akhirnya bidadari mendatangi perkampungan sekitar dan berjanji akan menikah dengan siapapun yang menemukan bajunya yang hilang.

Kemudian akhirnya bidadari tersebut menikah dengan Malin Deman dan memiliki satu orang anak. Suatu wants, akhirnya ia mendapatkan kembali bajunya yang selama ini disimpan dengan rapi oleh suaminya. Tak lama berselang ia langsung menuju anak sungai yang dulunya merupakan lokasi pemandian dan teman-temannya dari kayangan.

Mendengar informasi tersebut, Malin Deman segera mengejar sang istri, agar cepat sampai ia pun menunggangi seekor kuda. Sesampainya Malin Deman di lokasi, bidadari ternyata sudah bersiap untuk terbang ke kayangan, karena jaraknya dengan Malin Deman sudah dekat sang bidadari akhirnya mengutuk kuda tunggangan Malin Deman sehingga menjadi batu.

Kondisi terakhir Batu Kudo memang tak serupa dalam cerita di atas; berbentuk kudo (kuda). Beberapa bagiannya mulai kandas lantaran benturan dengan aliran air dari hulu yang debitnya tak menentu, sehingga membuat bentuk Batu Kudo perlahan hilang.

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
  • Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025
Page 2 of 2
Prev12
Tags: BudayaLegendaPesisir selatanSastraSejarahTradisiWisata

Related Posts

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

Oleh Redaksi Marewai
10 Januari 2026

            Tanggal 10 Juni Mbak Ruth Priscilia menghubungi saya, menyampaikan pesan bahwa novel Leiden (2020-1920) lolos dalam kurasi Ubud...

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Oleh Redaksi Marewai
7 Desember 2025

Arah Tutur Padang dengan semua penghuninya larut bersama malam yang dingin dan lembap. Adam, yang masih bayi acap kali...

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

Oleh Redaksi Marewai
17 November 2025

Di tengah rimbunnya hutan lindung Rimbang Baling, di sebuah desa terpencil bernama Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten...

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Oleh Arif P. Putra
1 November 2025

Perjalanan-perjalanan satu dekade terakhir yang saya lakukan kerap menemukan keajaiban-keajaiban, barangkali sebelumnya belum pernah terpikirkan. Bahkan, sebagian dari tempat...

Next Post
BRANDING URANG AWAK ITU HARUSNYA KUAT

BRANDING URANG AWAK ITU HARUSNYA KUAT

Pesimistis dan Sentimentil Dalam Bayang-bayang Profesi Guru | Arif Purnama Putra

Pesimistis dan Sentimentil Dalam Bayang-bayang Profesi Guru | Arif Purnama Putra

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In