Rani menggarisbawahi sebuah statement interviewnya dengan seorang budayawan Bali, Arya Wiguna, bahwa Tuhan adalah hukum alam itu sendiri, dan manusia adalah replika dari alam semesta ini. Maka kita sangat terhubung dengan air, dengan udara, dengan manusia lainnya, dan dengan apapun di sekitar kita. Sumber Suara Selain dengan Arya Wiguna, Rani juga melakukan interview dengan beberapa budayawan dan sastrawan Minangkabau yaitu Mak Kari, Ibrahim Ilyas, dan Engku Syntal. Sebagian rekaman interview-interview tersebut diolahnya dan dijadikannya sebagai bagian dari karya komposisinya. Suara-suara lain yang direkam dan menjadi sumber suara bagi karyanya antara lain adalah nyanyian atau senandung doa yang direkamnya pada saat perayaan Hari Raya Galungan pada sebuah pura di Desa Celuk, Kecamatan Sukawati, Gianyar Bali, dan suara dari kegiatan ritual yang direkamnya dalam perayaan Hari Raya Kuningan di Pura Tabanan, Bali. Di Lombok, Rani merekam suara dari sebuah kegiatan kenduri budaya, berupa pembacaan naskah daun lontar dan kitab kuno berusia ratusan tahun, di Desa Midang, Gunungsari, Lombok Barat. Naskah-naskah kuno tentang cerita awal masuknya agama Islam di Lombok ini dibacakan oleh pemuka dan tetua adat yang berasal dari berbagai daerah di penjuru Lombok Selain itu Rani juga mendapatkan rekaman berbagai suara alam dan satwa liar, dari perburuannya di Bukit Lawang, kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Bukit Lawang sering menjadi lokus eksplorasi bagi Rani untuk membuat karya-karyanya yang bertema konservasi lingkungan hidup, khususnya dalam kampanye pelestarian orang hutan.
Rani juga mendapatkan beberapa sumber bunyi dari suara-suara urban, seperti suara aktivitas jual beli di Pasar Gedhe Solo, di pasar dekat Malioboro Jogja, dan di Pajak (Pasar) Sambu Kota Medan. Di Jakarta, Rani merekam suara dari lokasi sekitar apartemen di tengah hiruk pikuknya metropolitan. Di akhir komposisinya, Rani memasukkan rekaman suaranya sendiri saat berada di Tanah Lot, Bali. Suaranya yang sedang bersenandung dan tiba-tiba berubah menjadi isak tangis. Tangis spontan yang terjadi karena rasa haru, bahagia, dan takjub atas proses bagaimana semesta “memperjalankannya” dan memberikan berbagai pengalaman serta value yang sangat berarti dalam pencariannya. Warna-warni suara yang ditemukan Rani dalam perjalanan perantauannya, direkamnya, dan dikoleksinya, selain sebagai bahan berkarya, juga sebagai sebuah upayanya untuk mendokumentasikan suara-suara khas lokal, yang bisa jadi suatu saat akan hilang, seiring dengan berubahnya lingkungan, budaya dan aktivitas masyarakat setempat. Komposer dan Ekspresi Perjalanan Rani masih panjang.
Saat ini berbagai kegiatan telah menunggunya, sebagai bagian dari proses “perantauan”-nya. Beberapa agenda Rani di bulan ini sampai beberapa waktu ke depan, antara lain: Tao Silalahi Art Festival diselenggarakan oleh Rumah Karya Indonesia (6 November 2021), Pekan Komponis Indonesia oleh Dewan Kesenian Jakarta (7 November 2021), Kemah Seniman 2021 di Payakumbuh (11-13 November 2021), Mutual Mentorship for Musician (sedang berlangsung s/d Januari 2022), Indonesia – Taiwan Residency oleh Open Contemporary Art Centre Taiwan (sedang berlangsung s/d Februari 2022), dan Workshop Common Tonalities oleh Nusasonic, Goethe Institut (November s/d Februari 2022).
Khusus untuk kegiatan Pekan Komponis Indonesia, bagi Rani, saat ia mendapatkan undangan untuk menjadi salah satu pengisi acara di program tersebut, ia sebenarnya merasa berat untuk menyandang beban sebagai komposer, dan sebetulnya ia merasa dirinya belum sanggup. Dia pun bertanya pada dirinya sendiri apakah ia sudah layak dianggap sebagai komposer. Bagi Rani, dalam membuat karya dan bermain musik, sebenarnya ia bukan bertujuan untuk mendapatkan pengakuan sebagai komponis atau komposer. Rani selama ini hanya menikmati bagaimana ia berproses melalui musik. Bagi Rani menciptakan karya atau bermusik adalah bagian dari ekspresinya, sekaligus menjadi rangkuman episode-episode perjalanan panjang perantauan dan pencarian seorang Rani Jambak ke semesta di dalam dirinya sendiri. Hal ini dituangkannya dalam kalimat-kalimat puitik yang ditulisnya sebagai sebuah rumusan proses refleksinya sebelum ia mengolah dan meng-aransemen beraneka rekaman suara dalam karya Merantau (in Progress).
“Perjalananku bermusik, adalah perjalanan spiritualku. Aku sedang berpikir tentang orang-orang nomaden. Lalu bagaimana dengan sekarang? Aku melakukan perjalanan untuk memahami para pengembara dalam perspektif yang berbeda. Mempelajari hal-hal baru dan memahami perbedaan serta keajaiban hidup ini. Saat ini aku berada di rumah, tapi aku merasa seperti sesuatu dalam diriku masih pergi ke suatu tempat. Masih mencari sesuatu, dan pada saat yang sama, merasa seperti Déjà Vu. Semua yang ada di pikiranku penuh dengan teka-teki kenangan dan masa depan ? Aku merasa seperti, kita manusia, tidak lekang oleh waktu. Dari dimensi yang berbeda, dari tanpa dimensi. Kita bukan apa-apa, dan lebih dari itu.” Rani Jambak Oktober 2021.
Sinopsis Karya Merantau (in Progress) – Rani Jambak
Sebagai gadis keturunan Minangkabau yang lahir dan besar di tanah rantau, sejak tahun 2013 komposer memulai proses pencariannya, yaitu penelusuran kembali identitas dirinya yang terdalam. Ketertarikannya pada musik dan suara, membawanya kembali mengunjungi tanah leluhurnya untuk merekam berbagai suara, dan mencoba menemukan serta memahami jiwa Minangkabau yang ada di dalam dirinya.
Lebih jauh, status “perantau” yang sangat melekat pada dirinya semenjak lahir, membuatnya memutuskan untuk menjalani kehidupan “nomaden”. Demi sebuah eksplorasi untuk menemukan dan merekam suara-suara, serta menjadikannya sebagai pilihan perjalanan hidup yang ditempuhnya.
Perjalanan “perburuan” suara-suara ini tidak saja membuatnya berpindah secara fisik, ia juga mengalami berbagai hal yang bersifat non-fisik. Banyak nilai-nilai pembelajaran kehidupan yang ditemukannya dalam proses “memburu” suara.
Komposer merasakan adanya benang merah yang sama, terlebih dalam hal filosofi yang diajarkan oleh nenek moyang di setiap daerah persinggahannya, yaitu: keterkaitan antara manusia dengan alam, baik dalam dimensi alam fisik maupun alam spiritual.
Perbedaan suara-suara dari berbagai daerah di nusantara, baik suara yang dihasilkan oleh alam, maupun yang berupa produk budaya masyarakat, membuatnya berjumpa dengan banyak kejutan, dan menyaksikan kebesaran, kemegahan, serta keindahan dari “sesuatu yang lebih besar” dari apapun di dunia ini.
Karya ini menjadi sebuah refleksi perjalanan dan pencarian yang masih akan terus berlanjut, seiring dengan bertambahnya koleksi rekaman beragam sumber suara dari berbagai tempat yang dikunjunginya.
Kali ini, komposer merajut suara-suara yang dikumpulkannya dalam kurun 3 tahun terahir, yang berasal dari Medan, Bahorok, Sumatera Barat, Solo, Jogja, Jakarta, Bali, dan Lombok, dalam sebuah karya komposisi terbarunya: Merantau (in Progress)
=============================






Discussion about this post