• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Merantau (in Progress): Sebuah Karya Dalam Eksplorasi Seorang “Perantau” oleh Rani Jambak

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
7 November 2021
in Budaya, Berita Seni Budaya
1.2k 52
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Rani menggarisbawahi sebuah statement interviewnya dengan seorang budayawan Bali, Arya Wiguna, bahwa Tuhan adalah hukum alam itu sendiri, dan manusia adalah replika dari alam semesta ini. Maka kita sangat terhubung dengan air, dengan udara, dengan manusia lainnya, dan dengan apapun di sekitar kita. Sumber Suara Selain dengan Arya Wiguna, Rani juga melakukan interview dengan beberapa budayawan dan sastrawan Minangkabau yaitu Mak Kari, Ibrahim Ilyas, dan Engku Syntal. Sebagian rekaman interview-interview tersebut diolahnya dan dijadikannya sebagai bagian dari karya komposisinya. Suara-suara lain yang direkam dan menjadi sumber suara bagi karyanya antara lain adalah nyanyian atau senandung doa yang direkamnya pada saat perayaan Hari Raya Galungan pada sebuah pura di Desa Celuk, Kecamatan Sukawati, Gianyar Bali, dan suara dari kegiatan ritual yang direkamnya dalam perayaan Hari Raya Kuningan di Pura Tabanan, Bali. Di Lombok, Rani merekam suara dari sebuah kegiatan kenduri budaya, berupa pembacaan naskah daun lontar dan kitab kuno berusia ratusan tahun, di Desa Midang, Gunungsari, Lombok Barat. Naskah-naskah kuno tentang cerita awal masuknya agama Islam di Lombok ini dibacakan oleh pemuka dan tetua adat yang berasal dari berbagai daerah di penjuru Lombok Selain itu Rani juga mendapatkan rekaman berbagai suara alam dan satwa liar, dari perburuannya di Bukit Lawang, kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Bukit Lawang sering menjadi lokus eksplorasi bagi Rani untuk membuat karya-karyanya yang bertema konservasi lingkungan hidup, khususnya dalam kampanye pelestarian orang hutan.

Rani juga mendapatkan beberapa sumber bunyi dari suara-suara urban, seperti suara aktivitas jual beli di Pasar Gedhe Solo, di pasar dekat Malioboro Jogja, dan di Pajak (Pasar) Sambu Kota Medan. Di Jakarta, Rani merekam suara dari lokasi sekitar apartemen di tengah hiruk pikuknya metropolitan. Di akhir komposisinya, Rani memasukkan rekaman suaranya sendiri saat berada di Tanah Lot, Bali.  Suaranya yang sedang bersenandung dan tiba-tiba berubah menjadi isak tangis. Tangis spontan yang terjadi karena rasa haru, bahagia, dan takjub atas proses bagaimana semesta “memperjalankannya” dan memberikan berbagai pengalaman serta value yang sangat berarti dalam pencariannya. Warna-warni suara yang ditemukan Rani dalam perjalanan perantauannya, direkamnya, dan dikoleksinya, selain sebagai bahan berkarya, juga sebagai sebuah upayanya untuk mendokumentasikan suara-suara khas lokal, yang bisa jadi suatu saat akan hilang, seiring dengan berubahnya lingkungan, budaya dan aktivitas masyarakat setempat. Komposer dan Ekspresi Perjalanan Rani masih panjang.

Saat ini berbagai kegiatan telah menunggunya, sebagai bagian dari proses “perantauan”-nya. Beberapa agenda Rani di bulan ini sampai beberapa waktu ke depan, antara lain: Tao Silalahi Art Festival diselenggarakan oleh Rumah Karya Indonesia (6 November 2021), Pekan Komponis Indonesia oleh Dewan Kesenian Jakarta (7 November 2021), Kemah Seniman 2021 di Payakumbuh (11-13 November 2021), Mutual Mentorship for Musician (sedang berlangsung s/d Januari 2022), Indonesia – Taiwan Residency oleh Open Contemporary Art Centre Taiwan (sedang berlangsung s/d Februari 2022), dan Workshop Common Tonalities oleh Nusasonic, Goethe Institut (November s/d Februari 2022).

Khusus untuk kegiatan Pekan Komponis Indonesia, bagi Rani, saat ia mendapatkan undangan untuk menjadi salah satu pengisi acara di program tersebut, ia sebenarnya merasa berat untuk menyandang beban sebagai komposer, dan sebetulnya ia merasa dirinya belum sanggup. Dia pun bertanya pada dirinya sendiri apakah ia sudah layak dianggap sebagai komposer. Bagi Rani, dalam membuat karya dan bermain musik, sebenarnya ia bukan bertujuan untuk mendapatkan pengakuan sebagai komponis atau komposer. Rani selama ini hanya menikmati bagaimana ia berproses melalui musik. Bagi Rani menciptakan karya atau bermusik adalah bagian dari ekspresinya, sekaligus menjadi rangkuman episode-episode perjalanan panjang perantauan dan pencarian seorang Rani Jambak ke semesta di dalam dirinya sendiri. Hal ini dituangkannya dalam kalimat-kalimat puitik yang ditulisnya sebagai sebuah rumusan proses refleksinya sebelum ia mengolah dan meng-aransemen beraneka rekaman suara dalam karya Merantau (in Progress). 

“Perjalananku bermusik, adalah perjalanan spiritualku. Aku sedang berpikir tentang orang-orang nomaden. Lalu bagaimana dengan sekarang? Aku melakukan perjalanan untuk memahami para pengembara dalam perspektif yang berbeda. Mempelajari hal-hal baru dan memahami perbedaan serta keajaiban hidup ini. Saat ini aku berada di rumah, tapi aku merasa seperti sesuatu dalam diriku masih pergi ke suatu tempat. Masih mencari sesuatu, dan pada saat yang sama, merasa seperti Déjà Vu. Semua yang ada di pikiranku penuh dengan teka-teki kenangan dan masa depan ? Aku merasa seperti, kita manusia, tidak lekang oleh waktu. Dari dimensi yang berbeda, dari tanpa dimensi. Kita bukan apa-apa, dan lebih dari itu.” Rani Jambak Oktober 2021.


Sinopsis Karya Merantau (in Progress) – Rani Jambak

Sebagai gadis keturunan Minangkabau yang lahir dan besar di tanah rantau, sejak tahun 2013 komposer memulai proses pencariannya, yaitu penelusuran kembali identitas dirinya yang terdalam. Ketertarikannya pada musik dan suara, membawanya kembali mengunjungi tanah leluhurnya untuk merekam berbagai suara, dan mencoba menemukan serta memahami jiwa Minangkabau yang ada di dalam dirinya.

Lebih jauh, status “perantau” yang sangat melekat pada dirinya semenjak lahir, membuatnya memutuskan untuk menjalani kehidupan “nomaden”. Demi sebuah eksplorasi untuk menemukan dan merekam suara-suara, serta menjadikannya sebagai pilihan perjalanan hidup yang ditempuhnya.

Perjalanan “perburuan” suara-suara ini tidak saja membuatnya berpindah secara fisik, ia juga mengalami berbagai hal yang bersifat non-fisik. Banyak nilai-nilai pembelajaran kehidupan yang ditemukannya dalam proses “memburu” suara.

Komposer merasakan adanya benang merah yang sama, terlebih dalam hal filosofi yang diajarkan oleh nenek moyang di setiap daerah persinggahannya, yaitu: keterkaitan antara manusia dengan alam, baik dalam dimensi alam fisik maupun alam spiritual.

Perbedaan suara-suara dari berbagai daerah di nusantara, baik suara yang dihasilkan oleh alam, maupun yang berupa produk budaya masyarakat, membuatnya berjumpa dengan banyak kejutan, dan menyaksikan kebesaran, kemegahan, serta keindahan dari “sesuatu yang lebih besar” dari apapun di dunia ini.

Karya ini menjadi sebuah refleksi perjalanan dan pencarian yang masih akan terus berlanjut, seiring dengan bertambahnya koleksi rekaman beragam sumber suara dari berbagai tempat yang dikunjunginya.

Kali ini, komposer merajut suara-suara yang dikumpulkannya dalam kurun 3 tahun terahir, yang berasal dari Medan, Bahorok, Sumatera Barat, Solo, Jogja, Jakarta, Bali, dan Lombok, dalam sebuah karya komposisi terbarunya: Merantau (in Progress)

=============================

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung - 16 Maret 2026
  • Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
  • Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
Page 2 of 3
Prev123Next
Tags: Berita seni dan budayaBudayaDkjMerantauMinangkabauRani Jambak

Related Posts

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Maret 2026

Ekosistem teater di Sumatera Barat, khususnya pada Maret 2025 ini, tampak seperti panggung yang lampunya padam sebelum pertunjukan dimulai....

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Oleh Redaksi Marewai
23 Februari 2026

Memasuki bulan Rajab, dapur-dapur rumah mulai dipenuhi aroma rempah, kunda pun siap dihidangkan. Sementara lantunan kalimat-kalimat Allah terdengar dari...

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Oleh Redaksi Marewai
15 Februari 2026

Sebanyak 61 siswa Kelas Nan Tumpah Akhir Pekan (Kelana Akhir Pekan) menggelar karya hasil pembelajaran Semester II (September–Desember 2025)...

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Oleh Redaksi Marewai
5 Februari 2026

Dua bulan setelah banjir bandang dan galodo melanda 16 kabupaten kota di Sumatera Barat, Komunitas Seni Nan Tumpah menggelar...

Next Post
BATAJAU SENI KEMBALI AJAK MASYARAKAT MENARI DI KBKT-2

BATAJAU SENI KEMBALI AJAK MASYARAKAT MENARI DI KBKT-2

Sanggar Seni Puti Linggogeni Tampilkan Kesenian Tradisi dalam Pembukaan Turnamen Voli Putra Nagari Padang XI Punggasan

Sanggar Seni Puti Linggogeni Tampilkan Kesenian Tradisi dalam Pembukaan Turnamen Voli Putra Nagari Padang XI Punggasan

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In