Pernyataan-pernyataan:
Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sibolga-Tapanuli Tengah, H. Abdul Rahman Sibuea:
Kota Sibolga sedang giat-giatnya membangun ekonomi kreatif melalui pariwisata. Pasar Belakang merupakan salah satu sumber kuliner khas pesisir Kota Sibolga. Sebagai contoh, di bulan puasa berbagai usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang ada di Pasar Belakang biasanya menjadi penyedia utama jajanan dan takjil di Kota Sibolga. Maka dari itu, KADIN mendorong Pemerintah Kota Sibolga untuk mengangkat kuliner lokal menjadi potensi wisata, khususnya di Kelurahan Pasar Belakang. Hal ini tentunya membutuhkan pelatihan dan pendampingan masyarakat, agar tercipta sumber daya manusia yang baik dalam pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat lokal. KADIN pada periode yang akan datang, salah satu programnya sebagai bapak asuh atau bapak pendamping bagi pengembangan dan kemajuan UMKM di daerah.
Lurah Pasar Belakang, Herlinda Tanjung, S.AP., MM. menyampaikan:
Kelurahan Pasar Belakang masih melestarikan kuliner lokal khas Kota Sibolga. Bumbu yang dipakai untuk masakan khas ini berupa bumbu racikan yang resepnya didapatkan secara turun-menurun dari nenek moyang. Dengan perencanaan dan pengelolaan yang baik, Kelurahan Pasar Belakang sangat potensial dikembangkan sebagai ikon pariwisata Sibolga di tingkat nasional, karena memiliki potensi sumber daya alam yang baik serta kuliner khas. Namun, untuk itu perlu adanya pendampingan bagi masyarakat dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia bagi kebutuhan pengelolaan kegiatan pariwisata. Dengan adanya program pengembangan pariwisata di Kelurahan Pasar Belakang ini, diharapkan bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat Sibolga, khususnya bagi warga di Kelurahan Pasar Belakang.
Ketua Perkumpulan HIDORA, Tri Andri Marjanto:
Kota Sibolga kaya akan produk-produk wisata dengan berbasiskan kebudayaan, baik itu berupa produk kuliner, adat, tradisi, maupun kesenian tari dan musik, ditambah dengan keindahan alam yang masih natural yang terdiri dari perbukitan hingga laut dan pulau-pulau kecil yang tidak kalah indahnya dari daerah-daerah lainnya di Sumatera Utara. Melalui konsep pariwisata yang terintegrasi, yang memiliki tujuan untuk melestarikan alam dan lingkungan hidup, mengkonservasi budaya, serta meningkatkan kualiltas dan kapabilitas sumber daya manusia, itulah visi besar yang nantinya akan menjadi daya saing pariwisata Kota Sibolga. Tentu itu semua membutuhkan koneksi, kolaborasi, sinergi, dan integrasi dengan berbagai pihak yaitu Pemerintah Republik Indonesia (kementerian dan BUMN), pemerintah daerah provinsi, program yang tepat sasaran dari Pemerintah Kota Sibolga, dukungan dari akademisi dan stakeholders terkait.
Wakil ketua Perkumpulan HIDORA, Bachtiar Djanan Machmoed:
Pariwisata yang ada di Kota Sibolga harus berangkat dari budaya. Berdasarkan Exit Survey yang dilakukan Pemerintah RI kepada wisatawan mancanegara yang akan meninggalkan Indonesia setelah berwisata di nusantara, didapatkan data bahwa alasan wisatawan datang ke Indonesia adalah 60% karena budaya, 35% karena alam, dan 5% karena man made (buatan).Sebenarnya desa dan kelurahan adalah source/sumber utama dari kekayaan budaya yang ada negeri ini. Tapi, sebenarnya wisata desa atau wisata kampung bukanlah tujuan utama, hanya sebagai media atau alat. Tujuan program pengembangan wisata desa/kampung adalah untuk melestarikan budaya, melestarikan alam dan lingkungan hidup, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.






Discussion about this post