• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Inspiratif: Membangun Icon Pariwisata Kabupaten Batu Bara, dengan Melestarikan Alam dan Mengentaskan Masalah Sosial

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
19 April 2021
in Budaya
1.1k 71
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Tempat Mesum
Dulu di masa muda Azizi, Pantai Sejarah adalah pantai berpasir putih yang sangat indah, dan cukup ramai dikunjungi orang. Kemudian lambat laun terjadilah abrasi, pesisir Batu Bara mengalami erosi. Seiring dengan keindahan yang terkikis, maka pantai tersebut mulai ditinggalkan pengunjung.

Jadi, untuk tetap bisa mendapatkan penghasilan, warga membangun pondok atau gubuk yang mereka sewakan untuk kegiatan mesum, menjadi kedai tuak, dan berbagai aktivitas lain yang terkait. Berubahlah wajah Pantai Sejarah. Pantai yang menjadi lokasi pendaratan pertama pasukan Jepang di Sumatera Utara pada tahun 1942 ini, kemudian menjadi sangat terkenal dengan konotasi negatif.

Beberapa tahun terakhir, lebih dari 50 pondok/gubuk liar disewakan warga kepada lelaki hidung belang, dengan harga berkisar Rp 20 ribu untuk short time. Warga menyewakan pondok-pondok, sedangkan untuk wanita-wanita penghiburnya datang dari luar daerah, yang dikoordinir oleh beberapa orang “induk semang”.

Aktivitas ini berlangsung hingga belasan tahun. Adanya protes dari masyarakat yang tidak setuju, sampai demo dari kalangan FPI (Front Pembela Islam), tak pernah berhasil menghentikan geliat ekosistem bisnis esek-esek yang telah mengakar kuat di Pantai Sejarah.

Jasa Lingkungan
Azizi dan Kelompok Tani Cinta Mangrove yang beraktivitas membibitkan dan menanam mangrove di sepanjang garis pantai di pesisir Desa Gambus Laut dan Desa Perupuk, sebenarnya juga sangat gerah terhadap kondisi problematika moral dan sosial di Pantai Sejarah. Namun dulu mereka juga tidak memiliki solusi.

Setelah pada tahun 2018 kelompok ini mendapatkan izin perhutanan sosial untuk mengelola kawasan hutan lebih kurang 456 hektar, muncullah ide besar. Mereka mendapatkan gagasan untuk mengembangkan program perhutanan sosial yang mengarah kepada jasa lingkungan, yaitu kegiatan pariwisata.

Azizi dan kawan-kawan mulai melakukan konsolidasi dengan Pemerintah Kabupaten Batu Bara, melalui Dinas Perikanan, Dinas Kepemudaan Olah Raga dan Pariwisata, Dinas Koperasi dan UKM, dan beberapa instansi terkait lainnya, serta berkoordinasi juga bersama Ketua KADIN (Kamar Dagang dan Industri) Batu Bara. Ternyata gagasan Azizi tersebut disambut positif oleh Bupati Batu Bara, Ir. H. Zahir,M.Ap.

Membangun Destinasi
Menjelang akhir tahun 2020, atas usulan Azizi, Pemkab Batu Bara membangun jalan produksi perikanan sepanjang 206 meter, berupa jembatan kayu yang melintasi area hutan mangrove menjorok ke arah laut. Pembangunan jembatan ini bertujuan untuk mendukung kegiatan budidaya kerang yang banyak dikembangkan oleh anggota Kelompok Tani Cinta Mangrove, dan sekaligus dimanfaatkan untuk aktivitas wisata dan penjualan kuliner, terutama yang berbasis hasil laut.

Jembatan mangrove ini dilengkapi dengan beberapa stand kuliner di sisi kiri kanan jembatan untuk tempat masyarakat berjualan, dan beberapa kamar mandi. Di area menuju pantai dikembangkan pula beberapa atraksi wisata seperti sarana outbound dan rumah pohon, serta Museum Sejarah di bekas gedung kantor Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Batu Bara.

Beberapa bulan sebelum proses pembangunan, dilakukanlah pembongkaran seluruh pondok dan gubuk yang sebelumnya menjadi tempat mesum. Selanjutnya, warga para pemilik pondok akan dilibatkan dalam kegiatan pengembangan wisata, sebagai pengelola, operator wisata, dan berjualan kuliner.

Perubahan Besar
Semenjak jembatan mangrove jalan produksi perikanan ini dibangun, apalagi setelah diresmikan di awal Maret 2021 yang lalu, tempat ini ramai mendapatkan kunjungan dari masyarakat yang ingin berwisata menikmati indahnya Pantai Sejarah dengan bentang alam hutan mangrove-nya.

Pemilik-pemilik pondok esek-esek dan para “induk semang” kini telah banting setir beralih ke profesi yang halal, menjadi pedagang, penjual kuliner, pengelola dan operator wisata. Tercatat tak kurang dari 70 orang pedagang berjualan di Pantai Sejarah yang kini semakin viral, menjadi salah satu destinasi wisata baru terfavorit di Kabupaten Batu Bara.

Setelah hampir 20 tahun Azizi dan Kelompok Tani Cinta Mangrove tak kenal lelah membibitkan dan menanam mangrove, akhirnya apa yang mereka perjuangkan kini mulai menampakkan hasilnya. Sinergi masyarakat pejuang lingkungan hidup dan Pemerintah Kabupaten Batu Bara telah berbuah manis.

Upaya menyelamatkan pesisir dari abrasi kini sudah berkembang menjadi sentra aktivitas ekonomi yang cukup menjanjikan. Sekaligus berhasil mengentaskan problematika moral dan sosial yang sebelumnya tak kunjung ada solusi.

Masih Banyak PR
Capaian menggembirakan di Pantai Sejarah ini tentu belum final. Perjalanan masih panjang. Masih banyak hal-hal yang perlu dikelola, dioptimalkan, dan dikembangkan lebih lanjut.

Masih terjadi banyak masalah-masalah di lapangan. Seperti halnya dalam pengelolaan parkir yang belum sinergi, adanya pungutan liar, belum selarasnya kerjasama antara pihak Pemerintah Desa-BUMDes-pengelola Pantai Sejarah, dan regulasi pendukung yang belum kuat.

Belum lagi hal-hal teknis seperti pengelolaan sampah pedagang dan pengunjung, penerapan protokol kesehatan covid-19 yang belum optimal, dan penataan kios-kios pedagang yang masih belum rapi.

Dalam hal pelestarian lingkungan hidup juga masih banyak tantangan, seperti masih adanya penebangan-penebangan liar tanaman mangrove yang telah ditanam, dan belum adanya tindakan hukum yang tegas terhadap kasus pembabatan tanaman mangrove yang sudah dilaporkan Kelompok Tani Cinta Mangrove kepada kepolisian.

Itu semua masih menjadi PR besar bersama bagi semua pihak terkait. Untuk itu, masih diperlukan adanya sinkronisasi, kolaborasi, dan sinergi antar pihak.

Sinergi dan Kolaborasi
Berkembangnya kawasan hutan mangrove Pantai Sejarah menjadi salah satu destinasi wisata andalan di Kabupaten Batu Bara, tentunya membutuhkan perencanaan dan tindak lanjut pada sisi pengembangan dan pengelolaan yang lebih profesional.

Karena itulah Pemerintah Kabupaten Batu Bara menggandeng HIDORA (Hiduplah Indonesia Raya), sebuah lembaga dari Banyuwangi Jawa Timur yang bergerak dalam bidang konsultan pariwisata dan pemberdayaan masyarakat, yang berbasis pada aktivitas pelestarian lingkungan hidup, konservasi budaya, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Lembaga ini melibatkan Universitas Pembangunan Panca Budi (UNPAB) Medan dalam perencanaan dan kajian lebih lanjut untuk pengembangan wisata Pantai Sejarah yang berbasis pengelolaan oleh masyarakat.

Dari analisa kajian HIDORA dan UNPAB, spirit yang dibangun bertahun-tahun oleh Azizi dan Kelompok Tani Cinta Mangrove adalah modal utama yang dimiliki Pantai Sejarah. Bahkan sudah selayaknya perjuangan mereka mendapatkan apresiasi dan penghargaan dari pemerintah pusat, karena apa yang mereka lakukan ini sangat riil dan inspiratif, perlu ditularkan ke daerah-daerah lainnya di Indonesia.

Pemerintah Kabupaten Batu Bara juga telah cukup optimal mendukung upaya Azizi dan kawan-kawan, dengan membangun berbagai sarana serta prasarana penunjang, sampai pada perencanaan untuk pengembangan lebih lanjut.

Lestarinya hutan mangrove, terjaganya pesisir dari abrasi, berkembangbiaknya ikan dan biota laut, tumbuhnya UMKM dan kuliner lokal, meningkatnya kesejahteraan warga, dan berhentinya kegiatan mesum, semua berada dalam gerbong program besar pengembangan destinasi wisata Pantai Sejarah.

Selanjutnya tinggal bagaimana dilakukan langkah-langkah profesional dalam pengelolaan program, mengkolaborasikan dan mensinergikan antar pihak terkait dengan duduk bersama, penguatan hukum dengan menerbitkan regulasi-regulasi penunjang, perencanaan pengembangan, dan memfasilitasi bagaimana apa yang telah dilakukan masyarakat ini bisa terjembatani untuk mendapatkan dukungan langsung dari pemerintah provinsi sampai pemerintah pusat. Meski begitu, tentu tulisan ini hanya sebuah pengantar saja, perjalanan Azizi begitu panjang, sarat makna dan pengorbanan. Dukungan segala pihak merupakan suatu Kebaikankebaikan yang patut diterima Azizi dan kawan-kawan, lebih dari itu adalah sebuah apresiasi yang universal.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Page 2 of 3
Prev123Next
Tags: BudayaCerpenEsaiPelesiranpuisiSastra

Related Posts

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

Oleh Redaksi Marewai
23 Januari 2026

Marewai—Kota Padang, 23 Januari 2025 STEVUNK berdiri pertengahan tahun 2025 di Padang. Memperkenalkan diri dengan lagu pertama berjudul ‘Batu...

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

Oleh Dewang Kara Sutowano
9 Januari 2026

Sebuah Cerita Panjang yang Sengaja Dicerai-Berai Namanya Bukit Atar, terletak tak jauh dari Batang Sinamar. Dari bukit itu terlihat...

PEREMPUAN: KECEMASAN GANDA DI TENGAH BENCANA | Andini Nafsika

PEREMPUAN: KECEMASAN GANDA DI TENGAH BENCANA | Andini Nafsika

Oleh Redaksi Marewai
27 Desember 2025

Banjir bandang (galodo) yang terjadi di tiga provinsi pada November lalu menyisakan luka menganga bagi banyak orang, kehilangan keluarga,...

CERMINAN KETAKUTAN WANITA YANG TERGAMBAR DALAM PUISI “DI SALON KECANTIKAN” KARYA JOKO PINURBO – Sabina Yonandar

CERMINAN KETAKUTAN WANITA YANG TERGAMBAR DALAM PUISI “DI SALON KECANTIKAN” KARYA JOKO PINURBO – Sabina Yonandar

Oleh Redaksi Marewai
24 Desember 2025

Ia duduk seharian di salon kecantikan. Melancong ke negeri-negeri jauh di balik cermin. Menyusuri langit putih biru jingga dan...

Next Post
Bangunan-bangunan Penanda : Usaha-usaha Pemerintah Merias Daerah

Bangunan-bangunan Penanda : Usaha-usaha Pemerintah Merias Daerah

Punago Rimbun: Menyilau Nagari Palangai Kecamatan Ranah Pesisir | Zera Permana

Punago Rimbun : Nagari Kambang Dalam Pusek Jalo Banda Nan Sapuluah | Zera Permana

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In