• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Festival Qasidah Rabbana: Menyaru Masa Kanak-kanak di Sungai Liku Ranah Pesisir

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
15 April 2024
in Pelesiran
1.2k 36
0
Home Pelesiran
BagikanBagikanBagikanBagikan

Eh, aku jadi lupa dengan Festival Qasidah Rabbana di Sungai Liku. Sungai Liku termasuk aktif beberapa tahun belakang membuat acara-acara bertemakan kearifan lokal, misalnya pada tahun 2021 lalu ada Festival Rabab. Kesenian tradisional yang sudah menjadi warisan budaya tak benda Pesisir Selatan. Waktu itu juga dihadiri oleh para dermawan dan dermawati lengkap dengan orasi beserta pidato kebudayaan yang menggelegar seolah akan ia masukan dalam pikirannya untuk pengembangan berkelanjutan. Waw.

Akhirnya aku sampai di Sungai Liku. Aku disambut aroma jajanan khas acara-acara di kampung; sate, kacang rebus, jagung rebus, tusuk gigi, mangkuak dan lainnya. Anak-anak antri membelinya, remaja-remaja bergurau, asap rokok bapak-bapak mengepul, lepau yang ramai pemuda-pemuda dengan gelak tawa seolah stok canda tak pernah habis. Di sebuah los pasar, gerbang ala-ala jurai dari pucuk kelapa tergerai. Angin membuatnya seolah gemulai layaknya lenggok bunyi rebana. Aku menghirup aroma kearifan lokal; orang-orang dengan mata ingin bertanya, tapi gengsi. Wajah nyalang dari seorang pemuda menyapaku, “parkir di sini saja, jangan kunci stangnya.”

Aku melesat, lesap bagai bocah yang tak sabar menunggu penampilan dari grup qasidah. Dilengkapi ingatan masa lalu, aku menebak-nebak aransemen kontemporer yang bakal ditampilkan. Penampil pertama dimulai. Nyatanya masih dengan lagu-lagu lawas; kota santri, perdamaian, sholawat rebana dan lainya. Nuansa yang berbeda, dulu aku melihat penampilan qasidah rebana di dalam masjid, sekarang  digelar di ruang terbuka. Jelas sesuatu hal yang lazim dan bagus untuk kapasitas penonton. Aku dibuai alunan suara parau nan lengking penyanyi qasidah. Sesekali personil lain menyahuti, atau mengulang lirik. Backing vokal apa itu namanya. Seperti soneta grup begitu. Acara itu sudah digelar sejak tanggal 12 April dan 14 april adalah acara puncak (final). Acara ini diikuti oleh grup se-kecamatan Ranah Pesisir dan malam ini hanya menyisakan empat grup dari masing-masing kategori: Majlis Taklim dan remaja. Malam itu adalah final dari serangkaian acara Festival Qasidah Rabbana di Sungai Liku. Sekeliling, penonton bersorak menyaksikan penampilan yang apik maupun sumbang. Tapi itu bukan sorak cemooh, melainkan sorak semangat. Ya, di kampung memang agak lain caranya. Kalau tak paham, bisa-bisa dianggap cemooh. Yang jelas mental penampil harus oke begitu.

Malam yang kelam, di langit tak terlihat lampu-lampu. Bulan dan bintang migrasi, tapi tak mendatangkan hujan. “Eh, sudah ditahannya hujan itu. Jatat pawangnya ini.” Celetuk seorang kawan dari belakang. Aku tertegun dan menganggukkan celetukan itu. Angin berhembus membawa hawa dingin, kutatap langit kian gelap. Penampil demi penampil tampil, belum ada yang terasa berubah dari apa yang mereka bawakan. Nyanyian, satire dalam lirik, gerakan dan segala macam aransemen pukul rebana. Memang akan membosankan kalau datang dengan harapan besar. Tapi ini Qasidah Rabbana yang digelar masyarakat Sungai Liku cukup menjadi angin segar bahwa kesenian tersebut masih masuk pada masyarakat setengah modern ini. Masyarakat yang laku-perangainya meniru-niru kemajuan zaman, padahal masih percaya barangsiapa yang ketiban tahi cicak, maka akan sial selama sehari. Waw.

Perkembangan masyarakat tradisional dari tahun ke tahun memang mengalami berbagai perspektif beragam. Masyarakat yang hidup dan berkembang sesuai kepercayaan leluhur pada dasarnya tidaklah benar-benar hilang, hanya saja tidak diperlihatkan. Percaya atau tidak, wahana bermain Bayang Kaliang (Bayang Keling) misalnya, nyaris tak pernah sepi pengunjung. Wahana bermain jadul ini dibeberapa tempat, sebut saja di Pesisir Selatan akan selalu ada. Wahana bermain yang mirip dengan Bianglala ini meski hanya memuat 2 orang per-kursi dan digerakkan dengan tenaga manusia, tapi masih bertahan sampai sekarang. Bahkan, wahana bermain ini digelar oleh pemuda-pemuda di nagari. Tentu saja mereka tak berharap laba lebih. Melainkan melanjutkan tradisi semata, kalau tak ada pula wahana bermain itu, sudah alamat lengang kampung ketika hari raya.

Festival Qasidah Rabbana yang digelar di Sungai Liku seakan mematahkan asumsi masyarakat selama ini, bahwa kesenian tradisional itu tidak akan ditonton oleh masyarakat. Nyatanya di Sungai Liku, masyarakat datang berbondong-bondong meramaikan pagelaran tersebut, semua kalangan menyatu, tua, muda, dan kanak-kanak mengaminkan acara qasidah rabbana menjadi agenda tahunan. Mungkin tak hanya di hari raya idul fitri saja, dihari lain juga bisa diagendakan. Begitulah malam berlalu, dahaga kenangan masa-masa kanak-kanak itu terbayar.

Lagi, diperjalanan dentuman orgen tunggal menanggalkan kesunyian, lampu remang-remang merenggut malam-malam yang tenang. Tapi kembali, wajah murung terpampang dari rumah-rumah berlampu terang. Aku kata, cat rumah menyala hanya simbolis penanti perantau pulang, dan bau cat hanya tinggal basa-basi belaka, “tahun depan insyaallah pulang.” Tumpukan apa ini di jalan-jalan: perantau malang, atau orang-orang patah hati pergi melalang? Mantap.

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
  • Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025
Page 2 of 2
Prev12
Tags: Berita seni dan budayaBudayaPelesiranSastra

Related Posts

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

Oleh Redaksi Marewai
10 Januari 2026

            Tanggal 10 Juni Mbak Ruth Priscilia menghubungi saya, menyampaikan pesan bahwa novel Leiden (2020-1920) lolos dalam kurasi Ubud...

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Oleh Redaksi Marewai
7 Desember 2025

Arah Tutur Padang dengan semua penghuninya larut bersama malam yang dingin dan lembap. Adam, yang masih bayi acap kali...

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

Oleh Redaksi Marewai
17 November 2025

Di tengah rimbunnya hutan lindung Rimbang Baling, di sebuah desa terpencil bernama Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten...

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Oleh Arif P. Putra
1 November 2025

Perjalanan-perjalanan satu dekade terakhir yang saya lakukan kerap menemukan keajaiban-keajaiban, barangkali sebelumnya belum pernah terpikirkan. Bahkan, sebagian dari tempat...

Next Post
Pelesiran: Baralek dengan Dekorasi Tradisional, Apa masih Zaman? | Anggi Oktavia

Pelesiran: Baralek dengan Dekorasi Tradisional, Apa masih Zaman? | Anggi Oktavia

Pameran Poto Fatris MF Bertajuk "Di Bawah Kuasa Naga":  Melihat Potret Komodo dan Kemurungan lainnya

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In