Kenapa kertas tidak bisa dijadikan karya tunggal & hanya dijadikan media saja?
Pertanyaan itulah yang mendasari Widi Pangestu Sugiono mulai mengulik material, tekstur, dan merek kertas. Ia menitikberatkan fokus pada soalan paper making yang bisa memberinya tantangan pada wilayah ekplorasi. Material kertas selulosa atau cotton ia gunakan, yang kemudian dijadikan bubur kertas, lalu dicampur dengan bahan serat alam, semisal Abaka atau Mullberry.
Widi mencoba senatural mungkin memproses material untuk berkarya, tetapi bahan kimia yang umum digunakan dalam industri kertas seperti soda abu/baking soda digunakan untuk menurunkan kadar acid pada material serat. Sedangkan penggunaaan Kalsium Karbonat digunakan untuk pengaturan pH dan tambahan perekat pada proses akhir. Paper making sejatinya bisa dilihat secara holistik, misalnya dari sisi isu lingkungan maupun sustainable material.
Salah satu karyanya yang dipamerkan bertajuk “Surface Imperfection”, merupakan upaya mendapatkan perbedaan kedalaman, tinggi atau struktur yang tidak diinginkan pada permukaan sekitar dengan perlakuan menggores, mengukir dan merobek bagian tertentu. Sifat kedataran atau flatness pada kertas dan bidang dua dimensi cenderung mewakili bentuk kesempurnaan, sebaliknya permukaan karya yang diperlakukan dengan cara-cara tadi bertujuan untuk mendapatkan permukaan yang tidak sempurna, untuk mengganggu sifat kertas itu sendiri.
Karya-karya Widi hendak menonjolkan eksperimentasi karakter kertas, komposisi tekstur, visual yang abstrak, sekaligus mencoba memadu-padankan bentuk alam dan industri, sehingga memunculkan kesan minimalis dengan gagasan yang saling bertautan. Dari material yang digunakan dan konsep yang diusung tiap karya, “The Un-Brittle” bisa merupakan representasi dari diri seniman, keadaan psikologis yang rapuh dari dalam, tetapi tetap menampakkan kekuatan jika dilihat dari luar. Alam pun sebagai penyedia material melimpah terus-terusan dieksploitasi dan telah menunjukkan kerapuhan di satu sisi, sedang di sisi lain masih bertahan memulihkan dirinya.
Seniman mengeksplorasi dan bereksperimen lewat material yang digunakan, melalui kerja-kerja riset yang bersinggungan dengan sains, bertujuan untuk menghadirkan kemungkinan-kemungkinan lain dari karya.
Lebih jauh, material dapat dilihat sebagai representasi dunia batin seniman yang diwujudkan dalam bentuk visual maupun perlakuan terhadap material, memberikan pemaknaan lebih mendalam akan suatu kondisi, pemaknaan terhadap alur historis, terhadap alam, atau ruang publik yang ditempati sekaligus dihidupi secara kolektif, atau ruang yang sangat personal pikiran-perasaan seniman.
Catatan: Dokumentasi Foto oleh Omah Budoyo
Tentang Penulis
Jemi Batin Tikal, kumpulan puisi Yang Tidak Mereka Bicarakan Ketika Mereka Berbicara Tentang Cinta adalah buku puisi pertamanya. Penulis bisa dihubungi via media sosial Instagram/Facebook: @jemibatintikal & surel [email protected]






Discussion about this post