• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Minggu, Maret 22, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Cerpen Robbyan Abel Ramdhon | Pertemuan di Kebun Binatang

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
18 April 2021
in Sastra
1.2k 12
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan


Namaku sudah “digaris” oleh negara, Ibu memberitahukannya padaku. Semua bermula ketika aku berusia empat tahun, saat bapak diangkut ke sebuah truk dan dibawa entah ke mana bersama banyak orang. Kata ibu, mungkin bapak sudah dibunuh atau dicuci otaknya lalu dibiarkan tersesat di tempat yang jauh dari jangkauan kami. Bapak dituduh sebagai komunis. Simpang siur kebangkitan komunis terus beredar, setidaknya demikianlah yang kudengar sampai sepuluh tahun sebelum Pak Harto diturunkan. Dan bapakku, adalah salah satu orang yang dituduh turut terlibat bersama komunis dalam rencana kudeta.
Setelah bapak diculik – ya, kami menganggapnya begitu – akhirnya ibu berinisiatif mengambil alih profesi bapak. Saban hari, ibu mencari peruntungan di kebun binatang. Kadang bernasib baik, tapi lebih sering sebaliknya. Bersaing dengan para tukang foto pria membuat ibu harus lebih berusaha keras.


Ibu sempat mengabadikan momen bersejarah ketika rombongan massa berhambur ke tengah kota untuk melakukan protes pada tahun 1998. Sekarang, kamera yang telah membantu hidup keluargaku itu sudah berada di tanganku. Tapi sedikit sekali momen yang bisa diabadikan lagi. Film kuhabiskan cuma buat menjepret pacarku. Setiap hari ia mengunjungiku, barang membawa makan siang atau sekadar melaporkan wajah murungnya.


“Tidak beli alat yang lebih canggih saja?” tanyanya suatu ketika.
“Jangankan membeli alat, biaya berobat ibu dan menabung untuk pernikahan kita saja semakin sulit,” jawabku mengiba.
“Tapi beberapa temanmu sudah mampu beli, kenapa kamu tidak?”
“Mereka itu yang sering menjepret rombongan dinas. Sedangkan aku tak punya kenalan di sana.”
Kemudian kalau sudah bosan mengobrol sambil melihat kendaraan melintas di jalan, sedih melihat betapa sepinya mesin cetak foto milik bersama, atau capai meladeni guyonan cabul para supir yang mengantar rombongan pengunjung, kami biasanya akan masuk ke dalam kebun untuk mencari kesenangan-kesenangan kecil.


*


Pertama-tama, kami pergi melihat kuda nil, kemudian monyet, kemudian buaya, kemudian kami lari ke bagian belakang mencari tempat berciuman. Tapi tidak dengan hari ini. Tempat yang biasanya kami gunakan sedang dipakai oleh pasangan remaja berseragam sekolah.
“Sepertinya kita sedang diikuti oleh seseorang,” pacarku berbisik.
“Benar kah?” tanyaku sambil menengok ke belakang.


Ternyata seorang pria berkepala gundul memang terlihat sedang mengikuti kami. Tubuhnya ramping seperti tidak suka makan. Mengenakan celana pendek selutut, dan kaus warna putih. Kami sengaja berjalan agak cepat dengan arah yang tidak menentu untuk membuktikan bahwa pria itu memanglah sedang mengikuti kami.
Setelah yakin betul bahwa pria itu benar-benar terus berada di belakang kami, aku langsung berbalik badan lantas bertanya pada pria yang menguntit itu: “Apakah bapak sedang mencari seseorang?”
Wajah pria itu mendadak menjadi kikuk sambil menghadap ke langit setiap kali kuajak bicara.
“Apakah bapak tersesat?” tanya pacarku.
“Saya mau dijepret,” kata pria itu menunjuk tas selempangku yang berisi kamera.
Aku dan pacarku cukup terkejut mendengar permintaannya.
“Tolong jepret saya. Tolonglah. Saya punya uang,” pria itu mengiba seraya mengais isi kantung celananya dan menunjukkan sejumlah uang.

Karena malas mencari perkara, lebih-lebih hari ini belum ada pemasukan, aku segera menyiapkan alatku. Pria itu mengajak kami berkeliling ke tempat-tempat yang sudah kami lalui sebelumnya: kandang kuda nil, kandang monyet, kandang buaya. Perilakunya menjadi sama sekali berbeda. Ketimbang sebelumnya, sekarang dia terlihat lebih ceria dan banyak gaya.
“Sebentar,” kata pacarku saat kami hendak beralih ke kandang ular.


Kami bertiga pun berhenti.
“Bapak, saya rasa bapak terlihat mirip dengan seseorang,” ucap pacarku pada pria itu. Pacarku mengernyitkan dahi. Meneliti wajah pria itu, lalu seakan menyadari sesuatu: “Benar! Kalian berdua terlihat mirip. Kenapa saya baru menyadarinya!”
Mereka berdua tertawa sementara aku merasa canggung dengan situasi ini. Meski aku juga mengakui, sekilas wajah pria itu tampak mirip denganku. Kalau saja aku gundul, pasti kami bakal dikira kembar. “Mungkin kebetulan saja,” kataku.


Setelah selesai dijepret, pria itu memberikan sejumlah uang padaku. Dia menguras isi kantung celananya: sejumlah uang yang terlalu banyak dari yang semestinya diberikan. “Ini terlalu banyak, Pak,” kataku sambil menghitung uang yang diberikannya.
Pria itu tersenyum, dan membalas: “Ambil saja semuanya. Berikan juga untuk ibumu di rumah.”
Pria itu pergi meninggalkan kami yang termangu. Dia berlari-lari riang sambil melompat seperti orang gila, lalu menghilang di antara kerumunan pengunjung.
“Kenapa pria itu pergi? Padahal fotonya belum dicetak,” kataku.
Pacarku hanya menggeleng.

***

Penulis, Robban Abel Ramdhon, adalah Cerpenis juga esais asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tulisan-tulisannya tersebar di berbagai media cetak dan daring. Kini mengelola Aroo Creative Space dan turut bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram.
Media Sosial: Robbyan Abel R (Facebook) / Robbyanabel (Instagram/Twitter)


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung - 16 Maret 2026
  • Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
  • Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
Tags: ArtikelBudayaEsaiPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Oleh Redaksi Marewai
16 Maret 2026

Entah Buku Apa Namanya Aku pernah membaca tubuh bukuDan aku jatuh cinta pada manisnya kata pengantarBegitu syahduSesampai malam menemani...

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

RANJANG akhir-ahkir ini aku sering kali melihat laki-laki paruh baya duduk depan jendela sambil melantunkan nyanyian kecil ninabobo, ninabobo...

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

Sebelum diborgol, Darso teringat permintaan putra semata wayangnya yang ingin sekali pergi piknik di kaki gunung. Darso berpikir, boro-boro...

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Oleh Redaksi Marewai
7 Maret 2026

Sambirenteng Desa Penyadap Tuak rumah kekasihku dibangun pagi hari. matahari jatuh di bukit sanghyang, setelah bukit ibu melukis langit...

Next Post
Inspiratif: Membangun Icon Pariwisata Kabupaten Batu Bara, dengan Melestarikan Alam dan Mengentaskan Masalah Sosial

Inspiratif: Membangun Icon Pariwisata Kabupaten Batu Bara, dengan Melestarikan Alam dan Mengentaskan Masalah Sosial

Bangunan-bangunan Penanda : Usaha-usaha Pemerintah Merias Daerah

Bangunan-bangunan Penanda : Usaha-usaha Pemerintah Merias Daerah

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In