• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Cerpen Puja Prasetya Nugraha | Monyet Si Ahli Memanjat

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
23 Januari 2022
in Sastra
1.3k 13
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Pada awalnya kehidupan di kampung Pamijen baik adanya. Semua warga di kampung itu hidup dengan damai dan tentram. Warga di kampung tersebut saling berbagi, saling membantu dan saling menolong. Mereka lebih mengutamakan kebersamaan dan persaudaraan antar warga dibanding harus menunjukkan kesombongan apa yang mereka miliki. Warga-warga di kampung tersebut memanfaatkan alam sekitar kampungnya untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah. Alampun seakan bersahabat dengan warga sekitar. Pepohonan, dedaunan, tunas dan buah semuanya memberikan hasil yang baik untuk dimakan mereka.


Sambil berjalan menuju ladang pohon pisangnya untuk memanen buah pisang, si kakek tua kira-kira 65 tahun dengan rambut pendek putih penuh dengan uban melihat seekor monyet yang terkena perangkap yang dipasang untuk perangkap babi hutan. “tenang monyet aku akan menolongmu jangan memberontak ya, yet?!” gumam si kakek dengan kedua tangannya yang bergetar hebat. Dengan langkah perlahan dan penuh keraguan si kakek mencoba mendekat ke arah monyet untuk menolongnya.

Setelah berhasil menolong monyet, si kakek berkata “pasti kamu lapar, yet?! ayo ikut kakek ke ladang untuk memanen pisang, di sana kamu bisa makan sampai kenyang.”
“wahh, syukurlah pohon pisangnya berbuah semua dan sudah masak,” kata si kakek tersenyum bahagia. Si kakek memberi makan monyet beberapa buah pisang, sambil si kakek memanen buah pisangnya.

Selesai memanen buah pisang, si kakek beristirahat duduk di samping monyet di gubuk reot di sebelah ladang pisangnya. “apa aku pelihara saja ya monyet ini?! lagi pula kasihan monyet ini sendirian di hutan.” pikir si kakek sambil mengipas-ngipaskan caping untuk memberikan sedikit angin segar.

Sesampainya di rumah sederhana yang hanya beralaskan tanah dan berdinding anyaman dari bambu, si kakek tiduran di bangku panjang ditemani secangkir kopi hitam pahit dan monyet di sampingnya yang sedang memakan buah pisang.
“apa aku latih saja monyet ini untuk membantuku memanjat pohon kelapa dan memetik buah kelapanya,” pikir si kakek sambil menyeruput beberapa teguk kopi hitam pahitnya dan sesekali melihat ke arah monyet.

Si kakek melatih monyet untuk memanjat pohon kelapa dan memetik buah kelapanya, si kakek melatih monyet itu di halaman rumahnya yang ada beberapa pohon kelapa yang cukup tinggi kira-kira setinggi 7 meter. Dengan imbalan buah pisang untuk monyet seusai memanjat dan memetik buah pisang.
Setelah monyet sudah cukup baik dalam memanjat pohon kelapa. Kemudian, si kakek melatih monyet untuk bisa membedakan kelapa tua dan degan (sebutan untuk kelapa muda), si kakek mengajari monyet untuk menggoyangkan buah kelapa sebelum dipetik kalau digoyangkan air dalam buah kelapa tersebut (kocak) terasa berbunyi tandanya buah kelapa itu sudah tua sedangkan kalau digoyangkan air dalam buah kelapa (tidak kocak) tidak terasa berbunyi tandanya buah kelapa itu adalah (degan) masih muda.

Suatu hari tetangga si kakek membutuhkan bantuan untuk memanjat beberapa pohon kelapa dan memetik buah kelapa, tetangga si kakek merasa terbantu oleh si monyet yang sudah membantunya dan sangat kagum dengan keahlian monyet yang memanjat pohon kelapa dan memetik buah kelapa dengan sangat cepat, kadang-kadang tetangga yang dibantu si kakek tak segan memberikan imbalan dalam bentuk uang maupun makanan.

Bagai kapas ditiup badai, itulah kata yang cocok untuk menggambarkan berita tentang si kakek yang mempunyai peliharaan monyet yang pandai memanjat dan memetik buah kelapa dengan cepat pun terdengar sampai kampung sebelah.
Karena permintaan pesanan kelapa kopyor yang semakin banyak, si kakek dan monyetnya dimintai untuk bekerja memanjat dan memetik kelapa kopyor di perkebunan kelapa kopyor oleh juragan kelapa dari desa sebelah dengan imbalan yang cukup banyak si kakek pun bersedia menerima pekerjaan tersebut.

Hari demi hari si kakek dan monyet peliharaannya bekerja di perkebunan kelapa kopyor. Si monyet bertugas untuk memanjat dan memetik kelapa kopyor, sementara si kakek bertugas untuk mengambil kelapa kopyor yang jatuh ke tanah untuk dikumpulkan ke dalam keranjang yang terbuat dari anyaman bambu jika sudah penuh terisi dibawa untuk diangkut ke truk muatan kelapa kopyor dan selanjutnya diantar ke pabrik kelapa kopyor.

Setiap hari (tepatnya lima hari kerja) si kakek dan monyetnya dituntut untuk  bekerja dari jam tujuh pagi sampai jam lima sore, terkadang si kakek dan si monyet sampai lupa untuk mengisi perut mereka karena permintaan pesanan kelapa kopyor yang semakin banyak dari hari ke hari.

Pagi hari di hari minggu si kakek dan si monyet libur bekerja. Si kakek merasa kebingungan melihat monyet peliharaannya yang berada di sudut rumah duduk meringkuk dan diam saja seperti mematung, bahkan buah pisang yang disodorkan si kakek di depan si monyet pun dibiarkan saja oleh si monyet.
Si kakek yang merasa khawatir akan kondisi si monyet bergegas mengambil sarungnya dan berjalan sedikit berlari untuk memanggil mantri, maklum di perkampungan itu belum ada dokter hewan dan kalau ada pun jauh di kota.

Setibanya si mantri di rumah si kakek dan langsung memeriksa kondisi si monyet menggunakan stetoskop, si mantri mengatakan suhu tubuh si monyet terlalu panas dan perlu beristirahat kurang lebih tiga hari,  si kakek merasa kasihan kepada si monyet karena kelelahan untuk pekerjaan semacam itu yang seharusnya dilakukan oleh manusia dan bukan dilakukan oleh binatang. Pagi hari di hari senin, si kakek pergi mendatangi juragan kelapa kopyor di perkebunan kelapa kopyor itu dan meminta izin untuk mengundurkan diri dari pekerjaan itu.

Setelah tiga hari lamanya berlalu si monyet pun kembali sehat dan melompat bergantungan dari pohon ke pohon yang berada di halaman rumah si kakek. Si kakek yang melihat si monyet telah kembali sehat merasa bahagia sekaligus merasa sedih.
“mungkin aku salah telah memberi monyet itu pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh manusia dan mungkin aku telah merebut kebahagiaan monyet itu untuk hidup bebas di hutan. ” Pikir si kakek duduk di kursi panjang yang terbuat dari bambu di depan rumahnya sambil melihat monyet yang sedang bermain di pohon depan rumah si kakek.
Di pagi hari berikutnya si kakek bersama si monyet pergi ke hutan untuk melepaskan liarkan si monyet kembali dengan rasa bahagia sekaligus rasa sedih si kakek melepaskan si monyet ke hutan.


Penulis Puja Prasetya Nugraha, lahir di Brebes 4 Januari 2001. Mahasiswa S1 program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMP. email: [email protected] atau ig:@ puja.prasetya.524_


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: CerpenMarewaiMediaMinggupuisiSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Esai: Sesajen dalam Bayangan Etnosentrisme | Aqil Husein Almanuri

Esai: Sesajen dalam Bayangan Etnosentrisme | Aqil Husein Almanuri

Ampyang Parak sebagai Ibukota Bandar Sapuluh: Pesisir Selatan dalam Bayang-bayang Kelupaan Sejarahnya | Arif P Putra

Ampyang Parak sebagai Ibukota Bandar Sapuluh: Pesisir Selatan dalam Bayang-bayang Kelupaan Sejarahnya | Arif P Putra

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In