• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Cerpen Orang-Orang Berbaju Hitam | Tara Febriani Khaerunnisa

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
23 Oktober 2022
in Sastra, Cerpen
1.2k 87
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

“Itu apa?” Mataku menangkap orang-orang yang berkumpul di pantai mengenakan pakaian seperti jubah hitam yang menutupi badan dari kepala sampai ujung kaki; cuma bagian mata yang terlihat, itupun samar.

“Hei! Pegang payungnya yang benar!” Yuis memprotes karena bagian punggungnya terkena tetesan air hujan.

“Overheating, air akinya menguap terlalu banyak,” ucap Dito. Kap mobil ditutupnya setelah ia selesai memeriksa penyebab mobil mogok.

“Selanjutnya, kita harus bagaimana?” Lea bertanya dengan bibir dan jari-jari gemetar karena kedinginan.
“Menunggu,” Dito menjawab singkat sambil melepas kacamatanya. “Masuk ke mobil,” tambahnya.

Kami masuk ke mobil sesuai perintah Dito karena tidak ada lagi yang bisa kami lakukan. Mataku masih terpaku menatap orang-orang berjubah hitam yang saat itu sedang melakukan gerakan-gerakan. Mereka berempat, ditambah batang pohon atau tiang di tengah-tengah mereka dan dipakaikan kostum menyerupai mereka. Orang-orang itu berputar sambil menaik-turunkan badan; seperti berusaha menyamakan ritme dengan ombak dan hujan.

Mataku berpaling ke pembatas jalan berupa beton kuning di sebelah kami, lalu pandanganku bergerak ke jurang di sebelahnya. Posisi kami cukup tinggi karena kami sedang berada di puncak tikungan. Angin yang berembus kuat mengakibatkan pepohonan yang hanya tampak pucuknya bergerak tak menentu dan bersinggungan satu sama lain. 

Pandanganku bergerak lagi ke orang-orang berjubah hitam; hanya ada mereka di pantai berpasir coklat tua dengan ombak yang terlihat lembut saat hujan bersahut ganas ini.
“Pak Guntur sungguh tega memberikan kita mobil tua ini untuk turun lapangan.” Yuis berucap sambil merebahkan kepalanya di setir mobil.

Tanpa kilat, suara petir menggelegar kuat.
“Syukur. Biasanya kita turun lapangan boncengan pakai motor,” timpal Lea datar sambil sibuk memilih cemilan di bawah kakinya. Lea sudah mengenakan almamaternya.
“Kita tidak melewati jalur perbukitan karena menghindari longsor akibat hujan, ternyata di daerah pesisir juga hujan. Di sini jalurnya lebih menanjak,” timpal Dito, kali ini sambil membersihkan kacamatanya yang terkena air hujan.
“Kita beruntung mobil ini mogok saat kita berada di atas. Bayangkan jika mogok saat penurunan, bisa habis kita.” Gerakan tangan Yuis yang memperagakan mobil terjun bebas di penurunan membuat Lea yang duduk di belakang menendang kursi Yuis.
“Ayo turun!” Ajakanku menghentikan tawa Yuis.
“Hah? Turun ke mana?” Dito berbalik dan menghadap tepat ke arahku.
“Turun ke pantai. Lihat, ada orang-orang menari di sana,” ucapku sambil menunjuk ke arah pantai.


Mereka bergerak dari kursi masing-masing dan melihat orang-orang berjubah hitam yang sedari tadi menarik perhatianku. Kami melihatnya cukup lama. Gerakan orang-orang itu tidak lagi melingkari pohon atau tiang yang berada di tengah tadi. Sekarang mereka berjongkok membentuk titik-titik persegi dan menengadahkan tangan ke atas.
“Itu apa?” tanya Lea setelah sekian lama. Lengannya yang sudah tidak terbungkus kain menyentuh bahuku, rambut panjangnya menjuntai lurus hingga pahaku, dan wajahnya tepat berada di sebelahku. Embusan napas kami membentuk embun di kaca jendela mobil. Cemilan di tangan Lea sudah disambar Yuis.
“Mungkin anak-anak yang main hujan.” Dito kembali duduk di kursinya, bersandar, dan memejamkan mata.
“Bagaimana jika mereka ternyata anak-anak yang akan kita teliti terkait pernikahan dini? Ayo turun!” Aku mengajak sekali lagi dengan semangat.
“Kita sudah empat puluh kilometer dari tempat penelitian, bagaimana mungkin mereka ada di sini?” tanya Dito datar.
“Mungkin mereka terbang,” ujarku mengejek.
Dito berbalik dan melihat tepat ke arahku, berkata: “Ha ha ha. Lucu kamu bisa bergabung di tim ini.” Ia memasang headphonenya. Kacamata kotaknya terlihat sangat menyebalkan.

Hempasan bulir-bulir hujan terdengar lebih keras dari sebelumnya. Angin berembus semakin kuat. Kilat yang kini menjilat-jilat disusul petir. Jalanan sepi. Tidak ada satu pun kendaraan yang lewat. Aku melihat kembali orang-orang berjubah hitam yang sekarang sudah membentuk garis lurus dengan pohon atau tiang berada di depan. Mereka berhadapan dengan pantai. Bergerak naik turun bergiliran dari depan hingga belakang, meniru gerak ombak.

Suara mesin mobil yang berusaha dihidupkan membuat mataku berpaling. Mesin masih tidak bisa menyala. Pandanganku kembali ke orang-orang berjubah hitam, tapi kali ini terhalang embun di kaca jendela. Aku menuliskan namaku di sana.

“Sepertinya menyenangkan jika kita turun dan melihat dari dekat. Jalan turun ke pantai tepat ada di belakang kita, sepertinya tidak terlalu curam,” Lea tiba-tiba memecah keheningan. Dia sudah berada di kursinya namun sedari tadi melihat ke arah pantai. “Ada ikat rambut?” tambahnya. Aku menggeleng.
“Kita akan basah kuyup dan Pak Guntur bisa marah jika bagian dalam mobilnya basah,” Yuis berkata sambil menyodorkan bungkus kosong cemilan yang sudah dilipat rapi kepadaku.
Aku mengambil bungkus cemilan kosong itu. “Ada payung, ‘kan?” tanyaku.
“Ini bukan gerimis, ini hujan lebat. Kita tetap akan basah!” Dito menimpal ketus.
“Ya sudah, aku sama Lea saja yang turun. Mungkin ini hal baru untuk bisa diteliti.”
“Meneliti anak-anak kecil main di pantai saat hujan lebat? Aku masih mempertanyakan bagaimana kamu bisa masuk tim ini!” Dito melepas headphonenya dan berseru marah. “Jangan melakukan hal aneh. Jarak kita dari kampus masih cukup jauh dan kita harus segera kembali sebelum jam pulang. Ini sudah pukul 3.27,” tambahnya.

“Mereka anak-anak dan penelitian kita tentang anak-anak. Pasti ada hal baru yang bisa kita dapatkan. Lihat, mereka melakukan sesuatu yang menarik,” balasku berusaha menyamakan nada dengan suara Dito. “Kelompok penelitian ini tidak menyenangkan!” tambahku.
“Kamu bisa keluar jika memang sangat ingin melihat anak-anak berpakaian hitam itu dari dekat. Tapi begitu kamu keluar dari mobil, kamu juga keluar dari kelompok. Dan jika mobil sudah bisa menyala, kami akan meninggalkanmu.”
“Dito! kamu berlebihan.” Lea menyentuh lenganku dan menggeleng pelan saat aku menatapnya.
“Bagaimana ya kalau kita turun dan melihat dari dekat, dan ternyata mereka bukan anak-anak, melainkan orang dewasa yang berbadan kecil?” tanya Yuis. Suara tawanya akibat humor sendiri memenuhi mobil.

Aku kembali melihat orang-orang berjubah hitam yang sekarang sudah baris berbanjar dan menghadap ke arah pohon atau tiang tadi.
Pohon atau tiang itu kini bergerak.
“Wah ternyata itu hidup!” seruku.
Pohon atau tiang itu ternyata juga orang yang sedari tadi diam. Kini ia bergerak, berjalan masuk ke barisan orang-orang berjubah hitam lainnya. Sekarang mereka sempurna berdiri sejajar menghadap ke laut. Mereka sedikit demi sedikit bergerak memutar seperti jarum jam. Gerakan mereka terhenti saat mereka sempurna menghadap kami. Mereka menatap kami.
“Coba nyalakan mobilnya!” seruku ke Yuis yang sedang bermain dengan gawainya. “Nyalakan mobilnya!”
Yuis mencoba menyalakan mobil.
Sekali. Dua kali.
Berhasil. Kami berseru kegirangan.
“Jalan!” perintahku dengan menepuk-nepuk kursi Yuis.
“Sabar. Mobilnya harus stabil dulu. Lagian ada apa tiba-tiba mau pergi?” tanya Dito sinis sambil memasang sabuk pengaman.
“Mereka melihat kita!” ucapku gemetar.
“Siapa?” tanya Yuis ketika mata kami bertemu dari spion depan.
“Orang-orang berjubah hitam itu menghadap kita!”
Lea beranjak dari tempat duduknya dan mendekat ke kaca mobil untuk melihat.
“Mereka berjajar melihat kita. Mata mereka putih!”

Yuis menarik persneling dan menginjak gas. Mataku masih terpaku ke arah orang-orang berjubah hitam yang tetap berdiri menatap kami. Ketika mobil mulai bergerak, aku dan Lea tetap melihat ke arah pantai dari kaca jendela belakang. Lambat laun sosok orang-orang berjubah hitam tergantikan beton-beton pembatas jalan berwarna kuning, sampai tinggal pucuk kepala mereka saja yang terlihat, dan akhirnya tidak terlihat lagi. Aku menghela napas ketika orang-orang berbaju hitam sudah sepenuhnya hilang dari pandangan kami.
Namun, kengerian yang sesungguhnya justru terjadi saat mereka tidak terlihat lagi.***


Penulis, Tara Febriani Khaerunnisa, lahir di Ampenan, Lombok, 7 Februari 2001. Mahasiswa program studi Hubungan Internasional, Universitas Mataram. Beberapa cerpennya telah terbit di platform digital. Ikut terlibat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: CerpenMarewaiSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Kaba Festival 2022 – Komunitas Seni Nan Tumpah akan pentaskan lagi “Healing Hilang: Dari Semak ke Belukar”

Kaba Festival 2022 - Komunitas Seni Nan Tumpah akan pentaskan lagi “Healing Hilang: Dari Semak ke Belukar”

Puisi-puisi Chalvin Pratama Putra | Surat untuk Almeera

Puisi-puisi Chalvin Pratama Putra | Surat untuk Almeera

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In