• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Cerpen: Obrolan Ranjang | Bangga Surya Nagara

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
23 Januari 2021
in Sastra
1.5k 97
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Jam dinding menunjukkan pukul 09.00 malam. Suasana sudah mulai sepi. Aku gelisah tidak menentu. Istriku belum juga masuk ke kamar, sejak pukul delapan tadi ia ke kamar Jasmine, putri kami. Biasanya tidak sampai setengah jam Jasmine sudah terlelap. Aku semakin gelisah, ada sesuatu yang harus segera aku sampaikan. Bosan rebahan di ranjang, aku beranjak ke depan kaca meja rias, melihat tiap jengkal wajahku sendiri.

“Ada yang lagi ngerasa ganteng, nih,” tiba-tiba istriku masuk ke kamar.
“Jasmine udah tidur, Ma?” Tanyaku
“Udah, Pa…” Jawabnya sambil mengambil kapas dan pembersih wajah.

Aku beranjak kembali ke ranjang. Membiarkannya melakukan segala ritual sebelum tidur.

“Ma, umur Jasmine udah lima tahun kan?” Aku bertanya basa-basi.
“Papa mau nambah anak lagi, mau bikin adek Jasmine?”
“Hehehe…” Aku cengengesan.
“Mama setuju?”
“Kalau Mama oke oke aja, tapi ada beberapa persyaratan yang harus Papa penuhi. Gampang kok.” Ujarnya sambil mengedip padaku melalui pantulan cermin.

“Sebutkan syaratnya, Papa pasti bisa penuhi.” Aku membalas dengan percaya diri.

Selesai membersihkan wajah, ia merebahkan badan di sisiku. Aku mencoba memeluknya.

“Eits nanti dulu… Syaratnya kan belum dikasih tau.” Ia mengelak.

Aku menghela nafas. Ada sesuatu yang tertahan.

“Pa, Mama setuju jika Jasmine segera punya adik. Selain sudah berumur lima tahun, Jasmine harus belajar untuk berbagi. Semoga saja dengan punya adik, Jasmine tidak manja lagi dan nanti mau berbagi. Untuk syarat-syarat yang harus Papa penuhi, ada empat.”

“Cuma empat, Ma? Gampang…” Ujarku sombong.

“Jangan sombong dulu, Pa. Pertama, Saat Mama hamil, Papa juga harus ikut hamil. Kedua, Saat menyusui, Papa juga harus ikut menyusui. Ketiga, Papa juga harus ikut mengasuh seperti Mama mengasuh Jasmine. Syarat keempat, jangan memberatkan orang tua kita dalam urusan pengasuhan.” Istriku menjelaskan syarat-syaratnya panjang lebar.

Aku menatap langit-langit kamar. Berusaha mencerna setiap syarat yang diajukannya. Syarat yang sebenarnya bukan sesuatu yang sulit. Tapi ikut hamil dan ikut menyusui bagaimana ceritanya.

“Syarat ketiga dan keempat Papa paham. Lah… yang pertama dan kedua itu gimana caranya, Ma?” Tanyaku bingung.

“Hehehe…” Ia terkekeh.

“Tujuh tahun bersama ternyata Papa belum juga bisa memahami makhluk yang bernama wanita, belum melihat yang tersirat. Papa payah, katanya dulu playboy kampus.” Ia mengejek, lalu mencium keningku.

“Pa, selama ini orang-orang berkesimpulan kalau hamil dan menyusui itu hanyalah tugas istri saja. Suami tidak punya andil sedikitpun. Harusnya, suami dan istri harus sama-sama hamil dan sama-sama menyusui. Bukan hanya bikinnya aja sama-sama” Ia menjelaskan.

Aku masih bingung.

“Ayo dong, Ma. Jelasin sejelas-jelasnya. Mukadimahnya jangan panjang-panjang.” Aku protes, kelamaan. Nanti kalau Jasmine bangun, bisa gagal misi malam ini.

“Sabar dong, Pa. Ini Mama sambil belajar sebagai konsultan keluarga bahagia harmonis sejahtera sepanjang masa.” Jawabnya bercanda.

“Nah, maksud dari suami harus ikut hamil dan menyusui adalah…”

“Mama…Mama…” Jasmine memanggil dari kamarnya.

“Jasmine bangun, Pa. Bentar, ya… ” Ia berlalu keluar kamar sambil menari-nari layaknya ballerina professional.

Lima belas menit berlalu. Sepertinya aku mulai paham arah dan maksud pembicaraan tadi. Tapi aku tunggu saja ia menjelaskan. Bukankah seorang istri butuh untuk didengarkan? Bukankah seorang istri butuh tempat untuk bercerita? Daripada ia bercerita pada orang lain, lebih baik aku menyiapkan telinga saja.

“Tok…tok…tok…udah tidur?” Ujarnya dari luar kamar.

“Belum tidur ternyata. Suamiku benar-benar pejuang yang pantang menyerah.” Puas sekali ia meledekku malam ini.

“Kalau nanti Mama hamil lagi, Papa harus pengertian. Harus mau pijit punggung Mama saat Mama capek. Papa juga harus bantu menyelesaikan pekerjaan rumah, atau carikan asisten rumah tangga. Kalau Mama uring-uringan, Papa tidak boleh marah dan mengerti, karena mood wanita yang sedang hamil berubah-ubah drastis sesuai kondisi alam dan iklim global.” Ia menjelaskan dengan satu tarikan nafas.

“Ikut menyusui, maksudnya bukan menyusui langsung dengan memberikan puting susu Papa pada anak kita nanti…”

“Ma, Papa nggak sebodoh itu. Gini-gini IPK Papa dulu tiga koma tiga…” Aku menyela penjelasannya.

“Iya, tiga koma tiga, tapi kuliah berapa tahun?” Tanyanya sambil mengerlingkan mata.

“Hehehe… tujuh tahun. Tapi Papa dulu aktivis, sibuk. Makanya lama.” Aku membela diri.

“Terserah Papa aja, hehehe… Lanjut lagi. Papa juga harus ikut bangun malam saat anak kita bangun. Itu adalah dukungan yang sangat besar bagi seorang istri. Saat anak kita bangun karena pipis atau ‘eek, Papa juga yang harus menggantikan popoknya, karena Mama pasti capek, kurang tidur dari siang.”

Aku menelan ludah. Berusaha menguatkan hati. Ternyata segala sesuatu butuh usaha yang besar.

“Oke Papa setuju. Untuk pengasuhan nggak perlu Mama jelaskan lagi. Papa kan juga ikut mengasuh Jasmine. Mama lihat sendiri gimana cekatannya Papa gendong, main, mandiin Jasmine. Papa itu suami idaman lah pokoknya. Untuk pengasuhan, kita sudah sepakat tidak akan pernah memberatkan ibu-ibu kita dalam pengasuhan anak. Biarkan ibu-ibu kita menikmati masa tuanya dalam ketenangan, tanpa beban. Jikalau beliau mengajukan diri untuk mengasuh cucu, kita akan carikan baby sitter, dan ibu-ibu kita bisa mengawasi saja. Itu tidak akan memberatkan. Bukan begitu, Ma?”

“Ma…Ma…” Ah ternyata ia tidur saat aku bicara panjang tadi.

“Ma…katanya mau ni-nu ni-nu.” Aku menggoyang-goyang lengannya. Berharap ia terbangun.

“Iya Pa…Iya…” Ia terbangun, sambil menghirup iler yang keluar banyak dan menyeka yang tersisa di pipinya.”

“Sluuurpp…” Begitu bunyinya.
Aku hilang selera.


Penulis, Bangga Surya Nagara, lahir di Guguk, Lima Puluh Kota, 27 Juli 1988. Sekarang berdomisili di Palembang, Sumatera Selatan. Bekerja sebagai seorang abdi negara di salah satu perguruan tinggi di kota Palembang. Menulis kumpulan puisi “Sajak-Sajak Malam”(Guepedia, 2019). Sangat mencintai kolaborasi hujan dan indomie goreng.


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: BudayaCaritoPunago RimbunSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Sanggar Seni Sarasah Maimbau: Puta-puta Salingka Nagari

Sanggar Seni Sarasah Maimbau: Puta-puta Salingka Nagari

Puisi-puisi Destriyadi Imam Nuryaddin | Tokoh yang Hilang

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In