• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Cerpen Achmad Fahad | Cintaku Bertepuk Sebelah Tangan

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
15 Januari 2023
in Sastra, Cerpen
1.4k 103
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Ternyata menunggu jawaban dari Fatimah telah membuat Amir semakin gelisah dan tidak sabaran. Bahkan ketika berada di dalam kelas, ingin rasanya Amir mendatangi Fatimah dan langsung menanyakan jawaban dari pertanyaannya kemarin. Jika situasinya terus berjalan seperti ini, bisa-biasa Amir menjadi gila karena penantian yang tidak pasti. Ternyata satu minggu waktu yang dibutuhkan Fatimah untuk memberi jawaban kepada Amir. Dengan secarik kertas beserta tulisan tangan Fatimah yang dilipat rapi, Fatimah meminta tolong kepada teman sekelasnya yang duduk di sebelahnya untuk memberikan sobekan kertas kecil itu kepada Amir. Sobekan kertas kecil itu tiba di meja Amir dan dengan penasaran Amir segera membukanya lalu membaca isi yang ada di dalamnya. Setelah membaca isi yang ada di dalam kertas itu, wajah Amir seketika berubah ceria.

Saat jam istirahat, Amir segera bergegas menuju ke ruang perpustakaan untuk bertemu dan mendengar jawaban dari Fatimah yang telah dengan sabar ditunggunya selama ini hingga hampir membuatnya setengah gila dan putus asa. Amir dengan hati yang berbunga-bunga dan penuh percaya diri berjalan masuk ke dalam ruang perpustakaan dan alangkah terkejutnya ketika melihat Fatimah sudah berada lebih dulu di dalam ruang perpustakaan mendahuluinya. Amir segera menghampiri meja Fatimah lalu menarik sebuah kursi dan duduk dengan senyum bahagia yang selalu terhias di wajahnya. Kemudian tanpa basi-basi dan menunggu lebih lama lagi, Amir segera bertanya kepada Fatimah karena dorongan dalam hatinya sudah tak bisa dibendung lagi.

“Fatimah kalau boleh tahu apa jawaban kamu tentang pertanyaanku yang kemarin?”
Terjadi keheningan sebelum Fatimah menjawab pertanyaan Amir yang membuat situasi di dalam ruang perpustakaan memancarkan aura ketegangan yang semakin lama semakin tinggi.
“Baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu yang kemarin Amir. Apa pun jawaban yang akan aku berikan kepadamu Amir, engkau harus menerimanya, mengerti!” jawab Fatimah dengan tegas dan tanpa basa-basi.
“Baiklah Fatimah. Apa pun jawaban yang akan engkau sampaikan kepadaku. Aku akan menerimanya,” imbuh Amir dengan tersenyum kepada Fatimah seolah begitu yakin cintanya akan diterima oleh Fatimah.
“Aku mohon maaf sebelumnya kepadamu Amir,” kata Fatimah mulai memberi jawaban apa adanya kepada Amir. “Untuk sekarang aku belum bisa menerima cintamu kepadaku Amir. Engkau tidak perlu mengetahui apa alasan aku menolak cintamu, tetapi engkau cukup mengetahui jawabannya, karena engkau hanya menginginkan jawaban dariku bukan alasannya.”

Mendengar jawaban yang baru saja disampaikan oleh Fatimah yang ternyata menolak cintanya, membuat perasaan Amir bagai disambar petir di siang bolong, ditambah lagi dunia impiannya tentang cinta dan kasih saat itu juga berbalik seratus delapan puluh derajat. Semua peristiwa ini tidak sesuai dengan apa yang Amir harapkan dan bayangkan, dan sekarang semua pengorbanan yang telah Amir lakukan selama ini berubah menjadi berantakan dan mulai hancur berkeping-keping menuju jurang yang dalam tanpa ada tempat untuk kembali. Dengan suara bergetar dan tidak percaya dengan semua peristiwa ini Amir berkata.
“Kenapa engkau menolak cintaku Fatimah? Apa alasannya tolong beri tahu aku,” pinta Amir.
“Apa kamu sudah lupa Amir dengan kesepakatan yang telah kita buat di awal tadi? Kamu tidak perlu mengetahui apa alasannya dan cukup kamu mengetahui jawabannya. Apa itu kurang jelas Amir?” tanya Fatimah dengan suara sedingin es.
“Aku tidak mau tahu Fatimah. Pokoknya aku tetap ingin mengetahui apa alasan kamu menolak cintaku,” suara Amir semakin meninggi karena amarah dan frustasi dengan situasi yang sedang dialaminya saat ini.
“Cukup Amir! Hentikan semua usahamu yang sia-sia itu. Aku tetap tidak akan pernah memberi tahu apa alasannya kepadamu, karena itu tidak penting untukmu,” jawab Fatimah diplomatis dan tak mau mengalah dengan permintaan Amir.
“Kenapa kamu begitu tega berbuat seperti itu kepadaku Fatimah? Aku begitu mencintaimu dengan tulus dan apa adanya,” ucap Amir menjelaskan kepada Fatimah.
“Simpan cinta tulusmu itu untuk wanita lain dan pastinya bukan untukku. Karena aku tidak butuh cintamu Amir. Dan satu hal lagi, jika kamu sudah selesai dengan urusan cinta yang tidak berguna ini, aku mau pergi dari sini sekarang. Dan satu hal lagi, tolong jangan pernah ganggu hidupku lagi mulai sekarang, karena aku ingin fokus mempersiapkan diriku menghadapi Ujian Akhir Nasional nanti.”

Setelah mendengar jawaban dari Fatimah yang lugas dan tegas, Amir hanya bisa duduk diam di tempatnya dan tidak meneruskan perdebatan ini yang pada akhirnya akan menimbulkan keributan di dalam ruang perpustakaan. Amir hanya bisa memandang tanpa daya ketika pujaan hatinya Fatimah bangkit dari tempat duduknya dan berjalan pergi meninggalkan ruang perpustakaan dengan langkah yang penuh percaya diri dan seperti tidak terjadi apa-apa. Sambil duduk termenung seorang diri di dalam ruang perpustakaan yang mulai sepi, Amir masih tidak bisa percaya dengan kejadian yang baru saja ia alami. Bagaimana bisa cintanya kepada Fatimah yang tulus ternyata ditolak dengan mentah-mentah dan tanpa perasaan bersalah sedikit pun. Padahal yang ada dalam pikiran Amir selama ini adalah cintanya akan diterima dan ia akan bisa menjadi kekasih Fatimah, wanita yang sangat cantik, murid berprestasi di sekolah, juga anak seorang yang terpandang dan kaya. Tetapi apa daya, kenyataan pahit yang Amir terima tidak seindah harapan yang selalu ia bayangkan. Amir hanya bisa mengepalkan ke dua tanganya di atas meja serta ditambah dengan rasa sakit di dalam hati yang belum pernah Amir rasakan sebelumnya. Amir menyadari tidak ada lagi yang dapat ia lakukan untuk merubah keadaan yang menyakitkan ini. Mulai hari ini, Fatimah wanita yang ia cintai dengan tulus akan lepas untuk selamanya dan akan menjadi milik orang lain suatu hari nanti. Amir tidak akan pernah sanggup melihat Fatimah duduk di atas pelaminan dengan pria pujaan hatinya dan itu akan menjadi mimpi buruk di sepanjang sisa perjalanan hidupnya.

Ruang perpustakaan sekolah yang ada di lantai tiga akan selalu menjadi kenangan pahit dan saksi bisu bagi perjalanan kisah cinta Amir dengan Fatimah yang kandas bahkan sebelum memulai. Sampai kapan pun, Amir akan selalu mengingat momen di mana hari itu adalah hari yang telah menggoreskan luka yang begitu dalam di hati Amir. Luka itu tidak akan pernah benar-benar sembuh dan hanya waktu yang akan bisa menjawabnya.


Penulis, Achmad Fahad, lahir di Jombang 37 tahun silam dan menyukai dunia literasi. Saat ini sedang serius menekuni dunia tulis-menulis supaya dapat menghasilkan karya-karya tulis yang bisa dinikmati oleh semua kalangan. Cerpen yang berjudul “Cintaku Bertepuk Sebelah Tangan” merupakan salah satu karya saya. Bagi para pembaca yang memiliki ulasan atau kritik bisa disampaikan melalui akun media sosial saya. Karena kritik dan masukan akan sangat berguna bagi saya untuk bisa menghasilkan karya yang lebih baik lagi. Bisa dijumpai di Media Sosial: Facebook: frankjiib, Instagram: frankji


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Page 3 of 3
Prev123
Tags: CerpenMarewaipuisiSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
“Kritik Seni Musik Nusantara Rapai Bubee oleh Sanggar Labang Donnya dalam Aceh Perkusi 2022” | Intan Rizki Junita Tri Utami, Pascasarjana ISI Padanganjang

“Kritik Seni Musik Nusantara Rapai Bubee oleh Sanggar Labang Donnya dalam Aceh Perkusi 2022” | Intan Rizki Junita Tri Utami, Pascasarjana ISI Padanganjang

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In