Jam pelajaran pagi itu ditutup dengan sebuah tingkah konyol Amir yang membuat seisi kelas menjadi gaduh. Tetapi Amir tidak ambil pusing dengan itu semua, karena saat ini Amir sedang merasakan perasaan jatuh cinta kepada Fatimah yang telah meluluh-lantakkan hatinya bagaikan angin tornado yang memporak-porandakan suatu daerah.
Pada jam istirahat, Amir sedang berada di dalam ruang perpustakaan sekolah yang ada di lantai tiga. Amir terlihat begitu larut dengan buku yang dibacanya tetapi pada kenyataannya pikiran dan hati Amir sedang berada di tempat lain. Akhirnya sebuah kejutan yang tak terduga dialami oleh Amir pagi itu. Fatimah tanpa diduga juga sedang berada di dalam ruang perpustakaan dan saat itu sedang berdiri di deretan rak buku yang berada di tengah ruangan. Setelah menemukan buku yang dicarinya, Fatimah langsung menuju ke meja kosong yang ada di depannya. Amir masih belum mengetahui siapa wanita yang duduk di seberang mejanya. Setelah selesai membaca buku, Amir mendongak untuk melihat sekeliling ruang perpustakaan dan alangkah terkejutnya saat mengetahui Fatimah sedang duduk seorang diri sambil serius membaca buku di seberang mejanya.
Karena tengah diliputi oleh perasaan jatuh cinta kepada pujaan hatinya. Amir segera bangkit dari tempat duduknya dan berpindah ke tempat Fatimah yang saat itu terlihat sedang membaca buku. Setelah berdiri di depan meja Fatimah, tiba-tiba Amir merasa tidak percaya diri dan bingung. Namun karena perasaan jatuh cintanya yang sudah membuncah di dalam hati begitu tinggi, maka momen langka seperti ini tidak boleh dilewatkan begitu saja. Bisa jadi momen berdua dengan pujaan hatinya seperti pagi yang cerah ini tidak akan bisa terulang kembali. Akhirnya dengan memberanikan diri dan sedikit nekat Amir berkata.
“Maaf sebelumnya Fatimah jika aku menggangu waktu membacamu. Apakah aku boleh duduk di sini?” Sambil tangan Amir menunjuk kursi kosong yang persis berada di depan Fatimah.
Mendengar ada orang yang memanggilnya. Fatimah lalu mendongak dan melihat siapa orang yang berbicara kepadanya. Setelah mengetahui orang itu adalah Amir, kemudian Fatimah menjawab.
“Silahkan Amir, kalau kamu mau duduk di situ.”
Mendengar jawaban dari Fatimah, Amir segera menarik sebuah kursi dan langsung duduk dengan hati berbunga-bunga di depan pujaan hatinya yang terlihat begitu cantik.
“Kalau boleh tahu, buku apa yang sedang kamu baca Fatimah?” kata Amir membuka percakapan sambil mengusir kegugupan yang berkecamuk di dalam dirinya.
“Ini buku novel yang sedang aku baca Amir,” jawab Fatimah. “Karena aku begitu menyukai buku-buku novel, apalagi novel yang bergenre horor. Kalau kamu sendiri sedang apa di perpustakaan Amir?” tanya Fatimah.
“Aku sedang memikirkanmu Fatimah sepanjang pagi ini. Karena dirimulah aku bisa bersemangat datang ke sekolah dan juga giat belajar di rumah.” Jawaban yang keluar dari mulut Amir adalah ungkapan perasaan yang menemukam jalannya, sehingga semua berjalan secara otomatis tanpa bisa dikontrol. Kata demi kata yang terucap menggambarkan betapa Amir begitu mencintai Fatimah hingga ia rela berubah.
Jawaban dari Amir yang apa-adanya dan langsung mengutarakan isi hatinya membuat Fatimah tersipu malu dan tidak tahu harus berkata apa lagi. Setelah mendengar jawaban dari Amir, terjadi keheningan diantara Amir dan Fatimah yang seolah berjalan begitu lama. Hingga akhirnya Amir yang memecah keheningan dengan berbicara terus terang.
“Fatimah, ijinkan aku berkata jujur kepadamu. Namun sebelumnya aku mohon maaf jika apa yang akan aku katakan ini adalah salah,” Amir berhenti sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. “Dari hati kecilku yang paling dalam, aku begitu mencintaimu dengan tulus Fatimah. Maukah engkau menjadi kekasihku?” tanya Amir sambil memandang wajah cantik Fatimah bagaikan seorang bidadari yang turun dari kayangan.
Amir hanya mendapati kebisuan dari Fatimah dan pada saat yang sama Fatimah malah terlihat menggigiti bibir bawahnya sambil memejamkan mata, seolah-olah permintaan Amir yang baru saja disampaikan telah menggoncang jiwa Fatimah. Amir menjadi takut dan merasa bersalah jika ucapannya telah menyinggung dan membuat Fatimah marah kepadanya. Setelah merasakan keheningan yang seolah telah berlangsung selama berjam-jam, kemudian terdengar suara Fatimah berkata kepada Amir.
“Hari ini aku sungguh begitu terkejut mendengar engkau mengutarakan isi hatimu kepadaku secara terus terang Amir. Aku bahkan tidak tahu harus menjawab apa dengan pertanyaan yang baru saja kamu sampaikan. Karena baru pertama kali ini dalam perjalanan hidupku ada seorang lelaki yang berkata seperti itu kepadaku. Jujur saat ini aku belum bisa menjawabnya Amir dan aku perlu waktu untuk memikirkannya terlebih dahulu,” jawab Fatimah dengan berterus terang sambil menjelaskan situasinya kepada Amir.
“Baiklah Fatimah tidak apa-apa engkau tidak bisa menjawabnya sekarang. Tetapi aku mohon kepadamu, setelah engkau pikirkan masak-masak semua ini, tolong berilah aku jawaban. Supaya hati dan pikiranku bisa tenang setelah mendengar jawaban darimu dan tidak berkecamuk seperti saat ini.”
“Insyaallah secepatnya aku akan beri jawaban kepadamu Amir,” pungkas Fatimah.
Setelah itu Fatimah segera bangkit dari tempat duduknya dan langsung berjalan meninggalkan Amir yang tengah duduk termenung di dalam ruang perpustakaan yang mulai sepi. Terdengar bunyi bel masuk tanda jam pelajaran akan segera dimulai kembali. Amir segera bangkit dari tempat duduknya lalu mengembalikan buku yang tidak pernah ia baca ke tempatnya semula dan berjalan kembali ke ruang kelas dengan hati dan pikiran yang semakin tak karuan.
&&&






Discussion about this post