• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Cerpen Achmad Fahad | Cintaku Bertepuk Sebelah Tangan

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
15 Januari 2023
in Sastra, Cerpen
1.4k 103
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Jam pelajaran pagi itu ditutup dengan sebuah tingkah konyol Amir yang membuat seisi kelas menjadi gaduh. Tetapi Amir tidak ambil pusing dengan itu semua, karena saat ini Amir sedang merasakan perasaan jatuh cinta kepada Fatimah yang telah meluluh-lantakkan hatinya bagaikan angin tornado yang memporak-porandakan suatu daerah.

Pada jam istirahat, Amir sedang berada di dalam ruang perpustakaan sekolah yang ada di lantai tiga. Amir terlihat begitu larut dengan buku yang dibacanya tetapi pada kenyataannya pikiran dan hati Amir sedang berada di tempat lain. Akhirnya sebuah kejutan yang tak terduga dialami oleh Amir pagi itu. Fatimah tanpa diduga juga sedang berada di dalam ruang perpustakaan dan saat itu sedang berdiri di deretan rak buku yang berada di tengah ruangan. Setelah menemukan buku yang dicarinya, Fatimah langsung menuju ke meja kosong yang ada di depannya. Amir masih belum mengetahui siapa wanita yang duduk di seberang mejanya. Setelah selesai membaca buku, Amir mendongak untuk melihat sekeliling ruang perpustakaan dan alangkah terkejutnya saat mengetahui Fatimah sedang duduk seorang diri sambil serius membaca buku di seberang mejanya.

Karena tengah diliputi oleh perasaan jatuh cinta kepada pujaan hatinya. Amir segera bangkit dari tempat duduknya dan berpindah ke tempat Fatimah yang saat itu terlihat sedang membaca buku. Setelah berdiri di depan meja Fatimah, tiba-tiba Amir merasa tidak percaya diri dan bingung. Namun karena perasaan jatuh cintanya yang sudah membuncah di dalam hati begitu tinggi, maka momen langka seperti ini tidak boleh dilewatkan begitu saja. Bisa jadi momen berdua dengan pujaan hatinya seperti pagi yang cerah ini tidak akan bisa terulang kembali. Akhirnya dengan memberanikan diri dan sedikit nekat Amir berkata.

“Maaf sebelumnya Fatimah jika aku menggangu waktu membacamu. Apakah aku boleh duduk di sini?” Sambil tangan Amir menunjuk kursi kosong yang persis berada di depan Fatimah.
Mendengar ada orang yang memanggilnya. Fatimah lalu mendongak dan melihat siapa orang yang berbicara kepadanya. Setelah mengetahui orang itu adalah Amir, kemudian Fatimah menjawab.
“Silahkan Amir, kalau kamu mau duduk di situ.”
Mendengar jawaban dari Fatimah, Amir segera menarik sebuah kursi dan langsung duduk dengan hati berbunga-bunga di depan pujaan hatinya yang terlihat begitu cantik.
“Kalau boleh tahu, buku apa yang sedang kamu baca Fatimah?” kata Amir membuka percakapan sambil mengusir kegugupan yang berkecamuk di dalam dirinya.
“Ini buku novel yang sedang aku baca Amir,” jawab Fatimah. “Karena aku begitu menyukai buku-buku novel, apalagi novel yang bergenre horor. Kalau kamu sendiri sedang apa di perpustakaan Amir?” tanya Fatimah.
“Aku sedang memikirkanmu Fatimah sepanjang pagi ini. Karena dirimulah aku bisa bersemangat datang ke sekolah dan juga giat belajar di rumah.” Jawaban yang keluar dari mulut Amir adalah ungkapan perasaan yang menemukam jalannya, sehingga semua berjalan secara otomatis tanpa bisa dikontrol. Kata demi kata yang terucap menggambarkan betapa Amir begitu mencintai Fatimah hingga ia rela berubah.

Jawaban dari Amir yang apa-adanya dan langsung mengutarakan isi hatinya membuat Fatimah tersipu malu dan tidak tahu harus berkata apa lagi. Setelah mendengar jawaban dari Amir, terjadi keheningan diantara Amir dan Fatimah yang seolah berjalan begitu lama. Hingga akhirnya Amir yang memecah keheningan dengan berbicara terus terang.
“Fatimah, ijinkan aku berkata jujur kepadamu. Namun sebelumnya aku mohon maaf jika apa yang akan aku katakan ini adalah salah,” Amir berhenti sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. “Dari hati kecilku yang paling dalam, aku begitu mencintaimu dengan tulus Fatimah. Maukah engkau menjadi kekasihku?” tanya Amir sambil memandang wajah cantik Fatimah bagaikan seorang bidadari yang turun dari kayangan.


Amir hanya mendapati kebisuan dari Fatimah dan pada saat yang sama Fatimah malah terlihat menggigiti bibir bawahnya sambil memejamkan mata, seolah-olah permintaan Amir yang baru saja disampaikan telah menggoncang jiwa Fatimah. Amir menjadi takut dan merasa bersalah jika ucapannya telah menyinggung dan membuat Fatimah marah kepadanya. Setelah merasakan keheningan yang seolah telah berlangsung selama berjam-jam, kemudian terdengar suara Fatimah berkata kepada Amir.

“Hari ini aku sungguh begitu terkejut mendengar engkau mengutarakan isi hatimu kepadaku secara terus terang Amir. Aku bahkan tidak tahu harus menjawab apa dengan pertanyaan yang baru saja kamu sampaikan. Karena baru pertama kali ini dalam perjalanan hidupku ada seorang lelaki yang berkata seperti itu kepadaku. Jujur saat ini aku belum bisa menjawabnya Amir dan aku perlu waktu untuk memikirkannya terlebih dahulu,” jawab Fatimah dengan berterus terang sambil menjelaskan situasinya kepada Amir.
“Baiklah Fatimah tidak apa-apa engkau tidak bisa menjawabnya sekarang. Tetapi aku mohon kepadamu, setelah engkau pikirkan masak-masak semua ini, tolong berilah aku jawaban. Supaya hati dan pikiranku bisa tenang setelah mendengar jawaban darimu dan tidak berkecamuk seperti saat ini.”
“Insyaallah secepatnya aku akan beri jawaban kepadamu Amir,” pungkas Fatimah.
Setelah itu Fatimah segera bangkit dari tempat duduknya dan langsung berjalan meninggalkan Amir yang tengah duduk termenung di dalam ruang perpustakaan yang mulai sepi. Terdengar bunyi bel masuk tanda jam pelajaran akan segera dimulai kembali. Amir segera bangkit dari tempat duduknya lalu mengembalikan buku yang tidak pernah ia baca ke tempatnya semula dan berjalan kembali ke ruang kelas dengan hati dan pikiran yang semakin tak karuan.

&&&

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung - 16 Maret 2026
  • Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
  • Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
Page 2 of 3
Prev123Next
Tags: CerpenMarewaipuisiSastra

Related Posts

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Oleh Redaksi Marewai
16 Maret 2026

Entah Buku Apa Namanya Aku pernah membaca tubuh bukuDan aku jatuh cinta pada manisnya kata pengantarBegitu syahduSesampai malam menemani...

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

RANJANG akhir-ahkir ini aku sering kali melihat laki-laki paruh baya duduk depan jendela sambil melantunkan nyanyian kecil ninabobo, ninabobo...

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

Sebelum diborgol, Darso teringat permintaan putra semata wayangnya yang ingin sekali pergi piknik di kaki gunung. Darso berpikir, boro-boro...

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Oleh Redaksi Marewai
7 Maret 2026

Sambirenteng Desa Penyadap Tuak rumah kekasihku dibangun pagi hari. matahari jatuh di bukit sanghyang, setelah bukit ibu melukis langit...

Next Post
“Kritik Seni Musik Nusantara Rapai Bubee oleh Sanggar Labang Donnya dalam Aceh Perkusi 2022” | Intan Rizki Junita Tri Utami, Pascasarjana ISI Padanganjang

“Kritik Seni Musik Nusantara Rapai Bubee oleh Sanggar Labang Donnya dalam Aceh Perkusi 2022” | Intan Rizki Junita Tri Utami, Pascasarjana ISI Padanganjang

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Puisi-puisi Rifqi Septian Dewantara

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In