• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Cerita Bukik Bulek, Bekas Menara Bumi Tempat Bertambatnya Bahtera Nuh

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
16 Desember 2021
in Pelesiran
1.4k 29
0
Home Pelesiran
BagikanBagikanBagikanBagikan

Kapalo Banda atau yang juga disebut sebagai Wakanda (Wisata Alam Kapalo Banda) adalah salah satu destinasi pariwisata paling digemari di Kabupaten 50 Kota. Setiap akhir pekan, minimal 2 ribu orang memadati kawasan yang menyuguhkan bentangan pengairan sisa peninggalan Belanda di Nagari Taram tersebut.

Selain pengairan, kondisi alam Nagari Taram yang dipagari bukit-bukti hijau juga menjadi latar menarik, terutama untuk berswafoto. Namun, tak banyak diantara pengunjung tau kalau di nagari Taram tersimpan sejumlah kisah epik  menarik. Salah satunya adalah legenda Bukik Bulek.

Situs alam Bukik Bulek sendiri, akan dapat dilihat begitu kita hampir sampai di pintu masuk Wakanda. Lokasinya persis di tengah nagari Taram. Dari jalanan yang dapat ditemph kendaraan roda empat, Bukik Bulek akan terlihat menjulang di balik pemukiman penduduk. Tak diketahui pasti berapa tinggi bukit itu. Yang jelas, Bukik Bulek memang berbeda dengan bukit-bukit lain di Sumatera Barat. Sesuai dengan namanya, bukit ini membulat seperti sebuah tabung raksasa dengan kemiringan lereng hampir 90 derajat.

Selain karena bentuknya, Bukik Bulek juga dapat ditandai dari strukturnya yang terdiri dari batuan kars. Warnanya coklat kemerahan. Sebagian saja dari tubuh bukit itu yang ditumbuhi tanaman hijau. Selebihnya adalah batuan. Pada salah satu sisi bukit, terdapat struktur batuan mirip dengan manusia yang sedang duduk. Lengkap dengan kepala dan kakinya yang bersila.

“Bukit ini adalah ikonnya Nagari Taram. Orang baru sadar bahwa mereka sudah sampai di Taram, jika sudah melihat bukit ini. Dari jauh, juga jadi penanda arah, kalau mau ke Nagari ini,” kata Gio Fernando, Humas Wakanda. Diterangkan Gio, menurut penuturan orang-orang tua di Taram, kata Taram sendiri berasal dari kata Tarandam atau terendam. “Konon, dahulunya nagari Taram di genangi air. Di  tengah-tengah perairan itu terdapat sebuah bukit berupa pulau kecil yang unik berbentuk bulat yang di namai bukik bulek,” katanya.

Bukik bulek itu utuhnya jauh lebih tinggi dari sekarang. “Malah kata nenek-nenek kami, dulu sampai sejengkal dari langit. Tinggi sekali,” terang Gio. Sebagian kisah mengatakan bahwa bukit itu adalah salah satu tambatan kapal Nabi Nuh dalam pelayaran mencari daratan pasca banjir bandang menutup bumi.

Bukik Bulek menjadi pendek setelah terjadi  gempa besar. “Akibat gempa itu, bukik bulek patah jadi sembilan bagian. Setiap bagian menyebar di seluruh pelosok Taram,” sebutnya. 

Semasa nenek moyang orang Taram masih menganut kepercayaan sebelum Islam, mereka memahat sebuah patung dipinggir bukit Bulat/Bukit Gadang yang di namai Bukik Talio. Pada hari tertentu masyarakat yang menganut kepercayaan itu mengantarkan sesajian ke patung tersebut. Pada masa selanjutnya bukik talio berubah fungsi sebagai penambangan kapal saudagar-saudagar yang membawa barang dagangannya.

Ada cerita yang lebih menarik di sini. Menurut kepercayaan beberapa orang tua di Taram, bukik bulek ini juga menyimpan pintu rahasia yang mana di dalamnya terdapat kuda bersayap emas.
“Menurut salah satu orang tuo kami, kuda emas itu pernah menampakan diri yang berterbangan di atas langit nagari Taram,” sebut Gio.

Bila anda datang ke Nagari Taram, Bukik Bulek lebih elok dipandang dari aliran sungai Batang Munggo. Lokasi tempatnya adalah di Jorong Parak Baru, di atas sebuah jembatan yang tak berapa jauh dari surau yang menjadi lokasi syuting film Di Bawah lindungan Ka’bah. Bukik Bulek juga berada di tengah dua jorong yakni Parak Baru dan Tanjuang Ateh. (Gio & Ajo)

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: AlamBudayaMediaPelesiranSumatra baratTaramWakandaWisata

Related Posts

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

Oleh Redaksi Marewai
10 Januari 2026

            Tanggal 10 Juni Mbak Ruth Priscilia menghubungi saya, menyampaikan pesan bahwa novel Leiden (2020-1920) lolos dalam kurasi Ubud...

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Oleh Redaksi Marewai
7 Desember 2025

Arah Tutur Padang dengan semua penghuninya larut bersama malam yang dingin dan lembap. Adam, yang masih bayi acap kali...

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

Oleh Redaksi Marewai
17 November 2025

Di tengah rimbunnya hutan lindung Rimbang Baling, di sebuah desa terpencil bernama Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten...

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Oleh Arif P. Putra
1 November 2025

Perjalanan-perjalanan satu dekade terakhir yang saya lakukan kerap menemukan keajaiban-keajaiban, barangkali sebelumnya belum pernah terpikirkan. Bahkan, sebagian dari tempat...

Next Post
Digitalisasi Budaya Mentawai: Uma & Tato Warisan Luhur Budaya Mentawai

Digitalisasi Budaya Mentawai: Uma & Tato Warisan Luhur Budaya Mentawai

PUISI-PUISI J.J. EHAK | MENGINGAT MUSIM ANGIN

PUISI-PUISI J.J. EHAK | MENGINGAT MUSIM ANGIN

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In