Di siang yang cerah ini, di hulu nampak awan hitam telah menyelimuti bukit-bukit. Akhir-akhir ini cuaca memang kerap pancaroba, sebagaimana kebudayaan yang nampak sehat dan ceria, padahal sakit di dalam. Suatu waktu saya wawancarai seorang seniman rabab, kalimat darinya yang masih terngiang-ngiang sampai sekarang oleh saya, “bahkan, untuk yang sudah mereka akuisisi saja tidak peduli.” Maka teringatlah saya ungkapan manumpang di tangah jalan. Sudahlah menumpang biduk ke hilir, tidak mau pula bantu mendayung.
Di hari lain, awal tahun 2023. Saya bertemu pula dengan seorang ahli waris sebuah cagar budaya. Di samping rumahnya telah teronggok plang “di larang tacirik di sini”, eh, bukan, maksud saya di halaman depan rumahnya terpampang gagah “Warisan Cagar Budaya”. Dengan cat berwarna kekuningan layaknya tahi bocah baru pandai cebok. Aku izin buang air besar di sana, karena ada plang besar kan. Sesudah itu, ternyata tidak ada bak air di sana. Kemudian karena ada plang lain di halaman rumahnya, aku datang ke sana dan izin untuk cebok di sana. Tentu saja tempat itu bersih dan terawat, sehingga tidak kaget ketika saya temukan toilet standar nasional di sana: kloset duduk dan tembak air. Dua sisi yang kerap jadi perlawanan, tapi tetap dilakukan; plang pelarangan dan pembolehan. Tapi ini bukan tetang cirik, lebih dari itu ia berbaur layaknya kebudayaan yang mengakar sejak dari rahim. Selagi ada manusia, cirik akan tetap ada. Begitu juga dengan kebudayaan. Tapi, sekali lagi, ini bukan tentang cirik.
Manumpang di tangah jalan, naik di tangah jalan menjadi pekerjaan paling gampang. Kalau bertemu cilaka, tinggal cari pemberhentian dan tak perlu bayar ongkos. Namanya juga manumpang di tangah jalan.
Di penghujung tahun 2023 ini, sebagaimana kebudayaan tumbuh di masyarakat Sumatra Barat begitu masif: utuh dan padat. Para penggerak kebudayaan seharusnya menyadari hal demikian, bukan semata hadir sebagai ahli nujum yang menerka-nerka suatu kebudayaan hanya dengan melihat dari teropong komunalnya kemudian menafsirkan anasir-anasir pukul rata. Hadir di tengah-tengah masyarakat tradisional dengan baju kebudayaan, seolah membawa perubahan dengan nama tertempel “perkenalkan, saya kebudayaan”. Di sebuah momen, saya melihat beberapa orang penggerak budaya hadir di tengah masyarakat tradisional di kampung saya, dengan susunan kata-kata ilmiah bin ala-ala akademisi tamat 14 semester, ia berkhotbah layaknya nabi terakhir dalam kebudayaan. Semua kecanggihan dan dajjal kebudayaan akan segera datang menggerus kepercayaan masyarakat tradisional, sehingga seluruh yang berkait dalam kebudayaan segera direkapitalisasi, agar bisa direvitalisasikan sebagaimana sub-sub urban dalam perkembangan postmortem. Waw.
Di hari yang sama, seorang tua celetuk, “suatu waktu seorang akademisi datang ke kampung ini, lagi, berkhotbah dan menghubungkan-hubungkan silsilahnya dengan orang sini. Entah iya atau tidak, setelahnya sebuah manuskrip yang disimpan seorang kepala suku dapat ia bawa, ia potokopi. Katanya, nanti kalau penelitian saya selesai, salinannya saya tinggalkan di sini agak satu, pekerjaan kita ini jangka panjang.” Begitu kata seorang tua itu sambil menggaruk kerampangnya yang gatal sepulang dari sawah. Kemudian, nyaris 15 tahun berlalu, ia menghitung sambil menggaruk kerampangnya, si peneliti kebudayaan itu tak muncul, “kentutnya saja tak dilepaskan.” Sambung seorang tua itu.
Di bulan lainnya, di dataran tinggi Sumatra Barat, saya kunjungi puncak-puncak kebudayaan; rumah gadang, datuak, rajo, bundo kanduang, pangulu dan segala warisan leluhur penanda orang “babanso”. Sejak lama jual beli kebudayaan berlangsung. Percaturan politik sarat budaya juga tak kalah hebat dari pemetaan plang cirik tadi. Di jalan-jalan, bau kebudayaan seweliran, kulihat sungai mengalir, bunyi yang kudengar malah saluang, kutatap bukit-bukit tinggi seolah awan menuliskan “di sinilah puncak kebudayaan itu”. Tapi rumah-rumah gadang menguap aroma anyir, lembab dan sunyi. Tarian pasambahan hanya meninggalkan piring pecah, kaki berdarah. Aku ditutup oleh petatah petitih mendayu, melarat penuh rasian. Ndayai.
Di pusat peradaban Sumatra Barat, Padang. Orang-orang bersicepat debat kusir, sebagian terus bergerak dalam senyap. Sebagian membentuk kelompok seremonial, lainnya tinggal suara parau di tengah balai. Tapi kebudayaan bukan persoalan itu, ia tumbuh dan hidup dalam setiap jiwa insan, tak mengenal pangkat dan jabatan, tak mengenal strata sosial dan pendidikan. Ia tumbuh selayaknya hidup yang terus berlanjut meski tiap tahun kematian merenggut. Kebudayaan bukanlah persoalan satu atau dua orang, kebudayaan bukanlah tentang siapa paling berkubang, berpeluh darah dalam perjuangan. Kebudayaan adalah keikhlasan, ketulusan, ketabahan. Ia akan melewati jalur lurus menuju haribaan, meski mati mendekam, meski ketiadaan melupakan, ia akan terus tumbuh, hidup selamanya. Kira-kira ini contoh khotbah peneliti tadi. Dareh.
Di siang yang nyalang, saat matahari tegak tali, saya berniat membuat tulisan ini tanpa editing. Saya tulis dengan riang gembira sambil leha-leha melihat orang-orang menenteng penyambutan tahun baru. Saya tau kebudayaan tidak perlu itu, ia tidak akan dibaca sampai habis, atau dipersiapkan sedemikian rupa, cukup tulis dan baca judulnya saja. Itu sebabnya saya buat judulnya berbahasa Minang, biar dibaca paling tidak sampai tengah, kemudian timbul hasrat membenci penulisnya. Ganas.
Ini hujan sudah turun, langit cerah, matahari setengah nampak bagai orang tidur dengan mata setengah nyalang. Ke utara langit terbuka, ke selatan kelam mata setan. Kulihat ke barat, tiada apa-apa, kupandang ke timur hanya hampa terasa. “Perkenalankan, Akulah Kebudayaan.”
- Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
- Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
- Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025






Discussion about this post